Mengapa Pertahanan Canggih Arab Saudi Kebobolan Rudal Houthi?
Jakarta -
Kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Arab Saudi dengan gelombang rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh berkali-kali jadi sasaran serangan Houthi sejak kampanye militer baru mereka terhadap kerajaan tersebut dimulai di September.
Serangan di bandara tersebut hari Sabtu menewaskan 12 orang dan melukai 309, serangan paling mematikan di sana dalam lebih dari satu dekade. Otoritas penerbangan Arab Saudi mengalihkan semua penerbangan, sementara Amerika Serikat dan Inggris mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya.
Persenjataan Houthi
Arab Saudi punya salah satu militer dengan perlengkapan terbaik dunia, dengan sistem pertahanan udara canggih. Pesawat tempur Saudi menggempur berbagai posisi Houthi di seluruh Yaman sepekan terakhir, berusaha memukul mundur kelompok yang didukung Iran tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persenjataan Houthi berkembang pesat sejak merebut kendali atas Sanaa dari pemerintah pada September 2014. Drone dan rudal mereka menjangkau hingga ke Israel dan dapat menghantam target tertentu seperti bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi.
Jenis senjata pasti yang menyerang bandara Riyadh tak diketahui, tapi Houthi telah menembakkan ratusan drone dan rudal ke Arab Saudi sejak intervensi pada 2015. Mereka juga menargetkan Israel dan kapal yang diduga terkait Israel sejak dimulainya genosida di Gaza Oktober 2023.
Mereka menggunakan senjata secara bersamaan, mencampurkan drone dan rudal dengan berbagai kecepatan untuk mengecoh pertahanan udara. Taktik yang sama mewarnai perang darat Yaman, di mana Houthi menggempur posisi pemerintah berminggu-minggu sebelum merebut pesisir Laut Merah dalam serangan kilat bulan lalu.
Di antara opsi tercanggihnya adalah rudal balistik jarak menengah seperti Palestine-2, rudal bahan bakar padat dua bagian yang diyakini jangkauannya 2.000 km dengan kemampuan hipersonik. Senjata lain adalah Toufan, yang tampaknya merupakan rudal Ghadr Iran yang diubah namanya, diperkirakan jangkauannya 1.350 hingga 1.950 km.
Jangkauan rudal tersebut, beberapa di antaranya membawa hulu ledak cluster, memungkinkan Houthi menembus pertahanan udara Israel, yang berjarak sekitar 2.000 km dari Yaman.
Houthi juga memiliki sejumlah rudal jarak pendek, seperti seri Burkan dan Badr. Senjata-senjata ini juga diyakini dari Iran dan digunakan dalam serangan ke Arab Saudi.
Menurut Nawaf Obaid, peneliti Departemen Studi Perang Kings College, persenjataan rudal Houthi diturunkan dari persenjataan Iran, dengan beberapa pengaruh teknologi China.
"Houthi hanya menunjukkan sedikit bukti adanya inovasi teknologi mandiri signifikan. Kemampuan domestik mereka sebagian besar terbatas pada produksi rudal dan drone kelas bawah tertentu," cetusnya.
Mengapa Arab Saudi kewalahan?
Otoritas Arab Saudi mengatakan berhasil menembak jatuh sejumlah proyektil selama sepekan terakhir, termasuk sepasang rudal balistik yang diarahkan ke ibu kota. Namun, mereka gagal mencegat proyektil yang menghantam Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh.
Obaid mengatakan bahwa sesekali tertembusnya pertahanan udara Arab Saudi memang sudah diperkirakan, mengingat luasnya wilayah dan perbatasannya dengan Yaman.
"Meskipun memiliki sistem pertahanan udara berlapis-lapis, pasti akan ada satu yang berhasil lolos," katanya dikutip detikINET dari Al Jazeera.
Ada juga masalah stok rudal pencegat. Saudi bersama banyak sekutu AS, berjuang menghadapi terbatasnya persediaan amunisi Patriot dan THAAD. Amunisi ini terkuras AS dan sekutunya saat awal peperangan dengan Iran.
Namun, Houthi juga bertempur di bawah kendala serius. Mereka di bawah embargo senjata PBB, blokade Arab Saudi bertahun-tahun, serta harus bertempur di seluruh Yaman.
"Secara militer, koalisi pimpinan Arab Saudi lebih unggul, tapi Houthi bisa mendominasi berita utama dengan sesekali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi," kata Obaid.
(fyk/fay)
TAGS
LIHAT LAINNYA