Mendes Usul Tambahan Anggaran Rp1 Triliun di 2027 untuk Kembangkan Potensi Desa

AKURAT.CO Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Yandri Susanto, meminta tambahan anggaran sebesar Rp1 triliun untuk tahun anggaran 2027. Hampir 90 persen penambahan anggaran kementeriannya akan diarahkan untuk program yang langsung dirasakan masyarakat desa.

Anggaran tersebut akan digunakan untuk sejumlah kebutuhan dasar dan pengembangan potensi desa, mulai dari jalan desa, air bersih, jembatan, hingga penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

"Ini saya sudah sampaikan di hadapan raker Komisi V, penambahan itu hampir 90 persen kita arahkan memang yang dirasakan untuk masyarakat di desa. Walaupun ya jangkauannya tentu enggak banyak, kan," kata Yandri kepada Akurat.co, di Kompleks Parlemeen, Selasa (22/9/2026).

Baca Juga: Mendes Dorong Pengembangan Desa Wisata Lampung Terintegrasi

Dia menjelaskan, jumlah desa di Indonesia mencapai 75.266 desa, sehingga pemerintah akan mengintervensi untuk program prioritas. Menurutnya, kebutuhan yang banyak ditemukan di desa antara lain penyediaan air bersih, pembangunan jalan, jembatan, serta pengembangan BUMDes.

Dia mencontohkan, kebutuhan air bersih yang masih menjadi persoalan di sejumlah desa. Menurut Yandri, terdapat masyarakat desa yang masih kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan minum.

"Misalkan air bersih, banyak sekali permintaan itu air bersih yang sampai sekarang mereka untuk minum aja masih sangat kesulitan, kan. Bukan untuk bermewah-mewah dengan air. Nah, itu masih banyak. Jalan desa masih banyak yang rusak. Desa wisata, ribuan desa wisata yang punya potensi," jelasnya.

Kendati demikian, pihaknya belum melakukan melakukan pemetaan pembagian anggaran untuk masing-masing desa, Yandri mengatakan hal tersebut masih perlu dibahas lebih lanjut oleh jajaran eselon I.

Baca Juga: Kekurangan Rp3,7 Triliun, Kemendes PDT Minta Anggaran 2027 Ditambah

"Iya, itu makanya perlu nanti dibahas secara detail sama eselon I dan ini," tambahnya.

Sementara untuk pemetaan wilayah penerima program, Yandri mengakui belum melakukan perincian. Namun diia menyebut, kebutuhan masih ditemukan di berbagai wilayah Indonesia.

"Belum, belum. Tapi kita udah kalau peta kita sudah hafal," kata Yandri.

Saat ditanya mengenai wilayah yang membutuhkan intervensi, Yandri menyebut Jawa, Sumatera, dan Kalimantan masih memiliki kebutuhan pembangunan desa.