Menbud dorong kekayaan budaya Indonesia dikembangkan jadi soft power
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong kekayaan budaya Indonesia yang merupakan kekuatan strategis dapat dikembangkan sebagai soft power atau kekuatan lunak bangsa.
Kebudayaan, kata Menbud Fadli, tidak hanya memiliki nilai identitas, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi.
“Berbeda dengan sumber daya alam yang memiliki keterbatasan, ekonomi budaya yang dibangun dalam ekosistem yang sehat dan berkelanjutan dapat terus tumbuh selama ekosistem kebudayaan dan manusianya tetap terjaga,” ujar Menbud Fadli dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menbud Fadli menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat pemajuan kebudayaan melalui perlindungan warisan budaya, pengembangan ekosistem seni, serta kolaborasi yang lebih erat dengan perguruan tinggi sebagai kelembagaan budaya.
Ia menyampaikan penguatan kebudayaan telah memperoleh momentum penting dengan dibentuknya Kementerian Kebudayaan, sebagai kementerian yang berdiri sendiri sejak terpilihnya Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga: Perpustakaan Danantara resmi dibuka di Museum Nasional Indonesia
Menurut dia, kehadiran kementerian yang secara khusus menangani kebudayaan tersebut menjadi langkah penting dalam sejarah pemajuan kebudayaan nasional, sekaligus untuk pertama kalinya dalam kurun 79 tahun Indonesia merdeka.
“Kita punya amanat konstitusi yang selalu saya kutip di berbagai tempat, yaitu Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang diturunkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, yaitu Undang-Undang tentang Pemajuan Kebudayaan,” kata Menbud Fadli.
“Di dalamnya ada unsur-unsur perlindungan kebudayaan, ada pengembangan kebudayaan, ada pemanfaatan kebudayaan, dan ada pembinaan kebudayaan. Dan inilah yang ke depan harus menjadi modal budaya kita atau cultural capital,” tambah dia.
Menbud menyebutkan bahwa Kementerian Kebudayaan terus mempercepat berbagai program untuk memperkuat warisan budaya, baik yang bersifat bendawi (tangible) maupun takbenda (intangible).
Ia juga menyampaikan beberapa program kementerian, yakni Manajemen Talenta Nasional; Percepatan Penetapan Cagar Budaya Peringkat Nasional; percepatan program Revitalisasi situs-situs bersejarah; percepatan Pencatatan Warisan Budaya Takbenda (WBTb); skema Dana IndonesiaRaya; hingga pengajuan Budaya Tempe dan Teater Makyong sebagai warisan dunia ke UNESCO.
Baca juga: Fadli: Budaya mampu menjadi penggerak ekonomi
Selanjutnya Menbud menyinggung secara khusus Bali yang menurutnya merupakan tempat yang dikenal di dalam seni dan budaya Indonesia bagi seluruh dunia.
Menbud menjelaskan ekosistem budaya yang ada di Bali telah tumbuh sejak lama dan menjadi contoh bagi daerah-daerah lain untuk menumbuhkan ekosistem budaya yang sustainable.
“Ini adalah satu modal budaya yang kuat. Tetapi tentu saja tidak bisa disepelekan. Harus tetap dijaga, dipelihara, karena sewaktu-waktu bisa hilang kalau pelaku-pelakunya meninggalkan adat istiadat, budaya, agama, dan juga seni budaya yang menjadi ekspresi di Bali ini,” ujar Menbud.
Menbud juga menegaskan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam pemajuan kebudayaan.
Menurut dia, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menginstitusikan warisan budaya melalui pendidikan, penelitian, dokumentasi, pengembangan pengetahuan, dan pewarisan kepada generasi berikutnya.
Hal tersebut disampaikan Menbud dalam pidato pembukaan Utsawa Bali Sani ke-11 Tahun 2026 di Universitas Hindu Indonesia (UNHI).
“UNHI memiliki peluang penting dalam konteks tersebut. Sebagai satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program pengobatan tradisional dan Ayurveda, UNHI memiliki potensi untuk mengembangkan penelitian pada bidang pengetahuan tradisional yang langka,” papar Menbud.
Baca juga: Kemenbud apresiasi Al Azhar yang akan hadirkan "Indonesian House"
Ke depan, Kementerian Kebudayaan membuka opsi pengembangan skema afirmasi bagi bidang-bidang khusus, termasuk pengobatan tradisional. Skema tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat bidang kebudayaan yang memiliki karakteristik khusus serta membutuhkan dukungan untuk keberlanjutan dan pengembangannya.
Utsawa Bali Sani menjadi bagian dari ekosistem yang mempertemukan seni, pendidikan, pengetahuan, dan tradisi.
“Dengan penguatan pengetahuan tradisional melalui perguruan tinggi, dapat memastikan pengetahuan yang berkembang di masyarakat tidak terputus, tetapi dapat didokumentasikan, diteliti, dikembangkan, dan diwariskan secara berkelanjutan,” tutur Menbud Fadli Zon.
Kementerian Kebudayaan ke depannya membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi, sebagai bagian dari upaya membangun dan memperkuat ekosistem kebudayaan nasional.
Melalui ekosistem yang kuat dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku seni, serta masyarakat, Indonesia dapat memastikan kekayaan budaya atau mega cultural diversity tidak hanya terlindungi, tetapi terus hidup, berkembang, dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Rektor UNHI, Cokorda Gde Bayu Putra, dalam kesempatan yang sama menyampaikan Festival Utsawa Bali Sani merupakan salah satu wujud kerja pemajuan kebudayaan yang diusung UNHI.
“Mewakili jajaran sivitas akademika UNHI, kami menyampaikan apresiasi kepada Menteri Kebudayaan yang telah bekerja serius melalui beberapa program prioritas Kementerian Kebudayaan, seperti revitalisasi cagar budaya, museum, repatriasi benda budaya, penguatan ekonomi budaya, dan menyalurkan pendanaan bagi para pelaku budaya, komunitas, dan pelaku seni. Ini tentu terobosan yang sangat luar biasa,” kata Cokorda Gde Bayu Putra
Baca juga: Kemenbud dorong AMI Awards jaga ekosistem musik nasional
Baca juga: Fadli: Museum Majapahit diharapkan jadi etalase peradaban Nusantara
Baca juga: Kementerian Kebudayaan akan bahas penanganan masalah "sound horeg"
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.