Menaruh harapan besar terhadap taman budaya
Dari rumah yang hidup itulah kebudayaan NTB dapat terus tumbuh dan berbicara kepada dunia.
Mataram (ANTARA) - Di Taman Budaya Yogyakarta, Senin, 28 September 2026, saya mendengar sebuah pertanyaan yang sesungguhnya juga berlaku bagi kami di Nusa Tenggara Barat, yakni untuk siapa taman budaya dibangun?
Jawabannya mudah jika kita hanya melihat bangunannya. Ada panggung untuk pertunjukan, ruang untuk pameran, dan halaman tempat orang berkumpul. Namun, jawaban itu menjadi lebih rumit ketika kita memikirkan kehidupan di dalamnya. Apakah seorang anak dari desa merasa boleh datang dan mencoba menari di sana?
Apakah maestro mempunyai tempat untuk menurunkan pengetahuannya? Apakah seniman muda dapat berlatih, gagal, memperbaiki karya, lalu tampil kembali? Apakah masyarakat datang karena merasa memiliki tempat itu?
Pertanyaan tersebut mengiringi saya selama mengikuti pembukaan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-25. Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, turut hadir dalam pertemuan di Yogyakarta.
Kehadiran beliau penting bagi kami, sebab masa depan taman budaya memerlukan perhatian yang melampaui urusan satu unit kerja. Ia menyangkut pilihan daerah tentang bagaimana kebudayaan diberi tempat dalam pembangunan.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengajak para pengelola melihat taman budaya sebagai infrastruktur kebudayaan. Saya menangkap pesan itu sebagai ajakan untuk mengubah cara kita bekerja.
Sebuah gedung dapat selesai dibangun dalam hitungan bulan atau tahun. Membangun kepercayaan seniman, merawat hubungan dengan komunitas, dan menumbuhkan generasi baru memerlukan kerja yang jauh lebih panjang.
NTB memiliki alasan kuat untuk menjalankan pekerjaan itu dengan sungguh-sungguh. Di Lombok, Sumbawa, dan Bima, kebudayaan hadir dalam bahasa, tenun, musik, tari, ritus, permainan, pengetahuan tentang alam, hingga cara masyarakat menyelesaikan persoalan bersama.
Ia hidup dalam keseharian, sering kali jauh dari panggung resmi. Karena itu, pekerjaan taman budaya bukan sekadar mengundang kekayaan tersebut untuk tampil sesekali. Kita perlu memberi ruang agar para pemilik dan pelakunya dapat terus belajar, berkarya, serta mewariskannya.
Di Yogyakarta, saya teringat pada para penenun yang menjaga pengetahuan tentang motif dan warna, pada pemusik yang mengajar anak-anak selepas bekerja, juga pada pelaku adat yang dapat menjelaskan mengapa suatu ritus tetap dijalankan.
Pengetahuan mereka tidak seluruhnya dapat disampaikan melalui papan keterangan di ruang pamer. Banyak hal baru dipahami ketika kita duduk bersama mereka, mendengar cerita, melihat tangan mereka bekerja, dan memberi waktu bagi pertanyaan.
Rumah kebudayaan
Taman Budaya NTB semestinya dapat menyediakan waktu dan tempat untuk perjumpaan seperti itu. Seorang maestro dapat berbagi pengetahuan dengan anak muda. Perajin dapat memperlihatkan proses di balik karya.
Seniman dari pulau dan kabupaten yang berbeda dapat saling mengenal, lalu mencoba bekerja bersama. Publik pun memperoleh kesempatan melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang sedang berlangsung di hadapan mereka.
Menteri Kebudayaan mengingatkan bahwa pemajuan kebudayaan mencakup lebih dari seni pertunjukan. Pesan itu penting bagi NTB.
Kita tentu bangga pada kekuatan tari dan musik daerah. Namun, sebuah pertunjukan akan terasa lebih utuh ketika penonton juga dapat mengenal bahasa yang dipakai, sejarah yang menyertainya, keterampilan membuat perlengkapannya, serta masyarakat yang menjaganya.
Taman budaya dapat mempertemukan berbagai pengetahuan itu dalam program yang dirancang dengan baik.
Sebagai contoh, sebuah pekan tenun dapat menghadirkan penenun, kisah tentang bahan dan pewarna, percakapan mengenai motif, karya perancang muda, serta kesempatan bagi pengunjung untuk mencoba.
Sebuah pertunjukan musik dapat disertai pertemuan antargenerasi untuk membicarakan bagaimana suatu repertoar dipelajari. Kegiatan semacam ini memberi pengalaman yang lebih dalam bagi publik sekaligus penghargaan yang lebih layak bagi pelakunya.
Pekerjaan tersebut perlu dimulai dengan mendengar. Setiap komunitas memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada yang memerlukan ruang latihan, ada yang membutuhkan dokumentasi, ada pula yang ingin bertemu dengan pelaku dari daerah lain.
Kita tidak akan mengetahui kebutuhan itu hanya dengan menyusun kalender acara dari meja kantor. Pengelola taman budaya harus mendatangi komunitas, mengundang mereka berbicara, lalu menjaga hubungan setelah kegiatan selesai.
Regenerasi menjadi pekerjaan yang mendesak. Kita kerap mengagumi seorang maestro ketika tampil, tetapi belum selalu memastikan ada murid yang dapat belajar darinya secara berkelanjutan.
Anak muda juga tidak cukup hanya diminta mencintai budaya. Mereka memerlukan akses kepada guru, ruang untuk mencoba, kesempatan menampilkan karya, serta tanggapan yang membantu mereka tumbuh. Taman budaya dapat menjadi penghubung antara semua unsur tersebut.
Di sinilah saya melihat arti penting Temu Karya Taman Budaya. Para delegasi datang membawa pengalaman dari daerah masing-masing. Sebagian mungkin telah menemukan cara yang baik untuk melibatkan sekolah. Sebagian lain berhasil membuka ruang bagi seniman muda atau menjalin kerja sama dengan komunitas setempat.
NTB perlu belajar dari praktik yang berhasil, kemudian menyesuaikannya dengan keadaan kita sendiri. Kebudayaan tiap daerah mempunyai watak dan kebutuhan yang tidak selalu sama.
Akses publik juga patut mendapat perhatian. Jika taman budaya hendak menjadi rumah bersama, pintunya harus sungguh terbuka. Warga perlu mengetahui kegiatan apa yang dapat mereka ikuti dan bagaimana cara mengikutinya.
Penyandang disabilitas perlu dapat menikmati ruang serta programnya. Seniman dari luar Mataram perlu mempunyai peluang yang nyata untuk hadir. Masyarakat harus merasa diterima, termasuk ketika mereka datang untuk pertama kalinya tanpa mengenal siapa pun di lingkungan seni.
Menteri Kebudayaan juga berbicara mengenai kebudayaan sebagai investasi. Saya sependapat, dengan satu catatan yang penting bagi cara kita mengelolanya: manfaat investasi budaya harus kembali kepada orang-orang yang menghidupkan kebudayaan itu.
Pertunjukan dapat menggerakkan usaha kecil. Pameran dapat memperluas pasar karya. Kegiatan yang teratur dapat membuat masyarakat lebih sering berkunjung. Semua itu baik jika seniman dan komunitas memperoleh bagian yang adil serta mempunyai kesempatan untuk berkembang.
Keterlibatan pihak swasta perlu diarahkan pada kebutuhan yang jelas. Dukungan dapat membantu menyediakan fasilitas, mendampingi talenta, atau memungkinkan sebuah program berlangsung lebih lama.
Namun, sebelum mencari mitra, kita perlu memahami program apa yang hendak dibangun, siapa yang akan memperoleh manfaat, dan bagaimana hasilnya dipertanggungjawabkan. Kejelasan itu akan menjaga kepercayaan semua pihak.
Merawat regenerasi
Bagi NTB, kerja sama antarlembaga juga merupakan kebutuhan praktis. Dinas Kebudayaan, Taman Budaya, Museum Negeri NTB, Balai Pelestarian Kebudayaan, pemerintah kabupaten dan kota, sekolah, kampus, serta komunitas mempunyai kemampuan yang saling melengkapi.
Data dan pengetahuan yang tersimpan di satu tempat dapat menjadi bahan kegiatan di tempat lain. Karya yang lahir di sebuah desa dapat memperoleh ruang perjumpaan dengan publik yang lebih luas. Hubungan semacam ini perlu dijadikan kebiasaan kerja, bukan hanya dibangun ketika ada acara besar.
Saya membayangkan Taman Budaya NTB memiliki kegiatan yang dapat dinantikan masyarakat dari bulan ke bulan. Ada waktu bagi maestro untuk mengajar. Ada ruang bagi anak muda menguji gagasan. Ada pameran dan pertunjukan yang memperlihatkan keragaman Sasak, Samawa, dan Mbojo tanpa menyeragamkannya.
Ada percakapan yang mempertemukan pelaku budaya dengan sekolah, peneliti, perancang, dan masyarakat umum. Sebagian kegiatan mungkin sederhana. Justru keberlangsungannya yang akan membentuk kepercayaan.
Kehadiran Gubernur Lalu Muhammad Iqbal di Yogyakarta memberi kesempatan bagi kami untuk membawa pulang percakapan ini sebagai pekerjaan bersama di NTB. Dukungan pemerintah daerah tentu penting, tetapi kehidupan taman budaya pada akhirnya juga bergantung pada keterlibatan para pelaku dan warganya.
Kami di Dinas Kebudayaan perlu menyiapkan ruang, membuka hubungan, dan memastikan gagasan yang lahir di sana mendapat tindak lanjut.
Temu Karya Taman Budaya ke-25 pada akhirnya tidak hanya mempertemukan karya dari berbagai penjuru Indonesia. Pertemuan ini mengajak kami memikirkan kehidupan taman budaya setelah rombongan pulang dan panggung kembali kosong. Pada hari-hari biasa itulah tugas sesungguhnya berlangsung.
Saya ingin Taman Budaya NTB menjadi tempat yang dirindukan: oleh seniman yang membutuhkan ruang kerja, oleh maestro yang ingin berbagi, oleh anak muda yang baru menemukan minatnya, dan oleh warga yang datang untuk mengenal kebudayaan daerahnya.
Jika mereka merasa dapat masuk, tinggal, belajar, dan kembali lagi, taman budaya telah mulai menjalankan perannya sebagai rumah. Dari rumah yang hidup itulah kebudayaan NTB dapat terus tumbuh dan berbicara kepada dunia.
*) Muhamad Ihwan merupakan Kepala Dinas Kebudayaan Nusa Tenggara Barat.
COPYRIGHT © ANTARA 2026