M4CR Gelar Sekolah Lapang Livelihood, Ajak Petani Kepiting Sumut Jaga Kualitas Air
Jakarta (ANTARA) - Pemulihan ekosistem mangrove kini semakin diperkuat dengan mengutamakan aspek sosial dan ekonomi melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), Kementerian Kehutanan. Salah satu pendekatannya adalah pola tanam silvofishery, yaitu budidaya perikanan yang dipadukan dengan penanaman atau pelestarian mangrove dalam satu kawasan tambak.
Dalam pelaksanaannya, silvofishery memiliki tantangan tersendiri. Hal ini dialami Kelompok Tani Hutan (KTH) Bakau Rindang dan KTH Bakau Bahari di Pangkalan Siata, Sumatera Utara. Hasil budidaya kepiting di tambak silvofishery mereka memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan tambak tanpa mangrove. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa usaha budidaya tidak dapat berlanjut.
Keresahan tersebut mendapat perhatian M4CR, yang kemudian menggelar Sekolah Lapang Livelihood. Kegiatan ini bersifat partisipatif dan mengedepankan dialog bersama petani, dengan tujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat berdasarkan kebutuhan yang mereka hadapi di lapangan. Sebanyak 32 anggota KTH Bakau Rindang dan KTH Bakau Bahari mengikuti kegiatan ini.
PPIU Manager M4CR Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, menegaskan bahwa pemulihan mangrove harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Pemulihan mangrove tidak bisa hanya berhenti pada penanaman. Masyarakat juga harus merasakan manfaat ekonominya. Karena itu, melalui Sekolah Lapang Livelihood ini kami mengajak petani berdialog dan belajar langsung dari persoalan yang mereka hadapi di tambak. Dengan memahami kualitas air, kami berharap budidaya kepiting di tambak silvofishery bisa berkelanjutan dan berjalan seiring dengan kelestarian mangrove," ujarnya.
Dalam sesi praktik, peserta diajarkan mengukur pH dan salinitas air di tambak. Hasil pengukuran menunjukkan kualitas air di tambak milik kelompok belum memenuhi kriteria optimum bagi kehidupan kepiting. Tingginya angka kematian kepiting bukan disebabkan oleh keberadaan mangrove, melainkan oleh ketidakseimbangan parameter kimia air yang tidak dapat terdeteksi melalui pengamatan kasat mata. Materi ini diharapkan mengubah cara pandang peserta agar lebih tanggap terhadap kondisi air tambak.
Selain aspek teknis, peserta mengikuti sesi analisis usaha menggunakan metode SWOT dan Business Model Canvas (BMC). Melalui sesi ini, peserta dibekali pengetahuan tentang strategi pemasaran hasil panen kepiting dan penguatan kelembagaan. Pada akhir kegiatan, peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk enam bulan ke depan guna memperbaiki pengelolaan tambak dan usaha budidaya.
Melalui rencana tindak lanjut tersebut, kelompok diharapkan dapat mewujudkan kelestarian mangrove sekaligus meningkatkan perekonomian dan ketahanan pangan masyarakat pesisir. Ini menjadi langkah awal menuju kemandirian masyarakat Desa Pangkalan Siata, di mana kelestarian mangrove dan kesejahteraan petani dapat berjalan beriringan.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.