Liburan ke Luar Negeri Kala Rakyat Susah, 'Tone Deaf' atau Bukan?
Jakarta, CNN Indonesia --
"Lagi susah-susah begini, kok malah liburan ke Jepang?" Itu salah satu contoh kalimat yang belakangan mudah ditemukan di media sosial.
Unggahan seseorang yang pergi ke luar negeri, makan di restoran mahal, atau sekadar memamerkan aktivitas di pusat perbelanjaan baru, bisa saja mendapat komentar tone deaf karena dianggap tidak peka terhadap kondisi orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Threads, misalnya, muncul perdebatan soal apakah orang yang tetap berlibur atau mengikuti tren tempat baru ketika banyak orang sedang menghadapi kesulitan ekonomi bisa disebut tone deaf.
Ada yang menganggap hal tersebut sebagai bentuk ketidakpekaan. Ada pula yang mempertanyakan, apakah label tone deaf sebenarnya hanya cara lain untuk melampiaskan rasa iri? Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan tone deaf dalam konteks seperti ini?
Pengamat sosial budaya, Devie Rahmawati, mengatakan masyarakat perlu membedakan antara mengingatkan dan menghakimi. Menurutnya, keberadaan orang lain yang sedang mengalami kesulitan tidak otomatis membuat seseorang harus berhenti menikmati hidup.
Pilihan Redaksi
- 7 Ciri Orang Punya Empati Tinggi, Bukan Cuma Mudah Kasihan
- Stoikisme dan Mindfulness Tak Sama, Apa Bedanya?
- Sering Dianggap Cuek, Ini 7 Ciri Orang yang Minim Empati
"Orang lain sedang susah, bukan berarti kita dilarang bahagia. Orang lain sedang berduka, bukan berarti kita harus berhenti tertawa," kata Devie kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/10).
Menurutnya, yang perlu diperhatikan bukan larangan untuk bahagia, melainkan bagaimana seseorang menunjukkan kebahagiaan ketika berada di tengah kondisi yang sedang sulit bagi orang lain.
Devie mengatakan aktivitas seseorang tidak bisa langsung dikategorikan tone deaf hanya dari apa yang dilakukan. Seseorang pergi berlibur belum tentu tone deaf. Begitu juga dengan orang yang membeli barang mahal atau tertawa ketika sedang ada masalah di sekitarnya.
"Bukan soal apa yang diunggah, tetapi kapan, siapa, bagaimana, dan dampaknya," ujarnya.
Menurut Devie, tone deaf terjadi ketika pesan yang disampaikan seseorang kehilangan kepekaan terhadap suasana di sekitarnya. Ia menawarkan empat hal yang dapat digunakan sebelum memberikan label tersebut, yakni ruang, relasi, rasa, dan risiko.
Ruang berarti melihat apa yang sedang terjadi. Relasi berkaitan dengan siapa yang berbicara kepada siapa.
Rasa melihat bagaimana sesuatu disampaikan, sedangkan risiko mempertimbangkan siapa yang mungkin terdampak atau terluka oleh pesan tersebut.
"Tone deaf terjadi ketika pesan kehilangan rasa terhadap suasana," ucap Devie.
Menurutnya, makin besar pengaruh seseorang, makin besar pula tanggung jawabnya untuk mempertimbangkan cara menyampaikan sesuatu.
Jangan sampai kritik berubah jadi larangan bahagia
Devie menjelaskan, kritik terhadap perilaku yang dianggap tidak peka tetap diperlukan. Masyarakat boleh mengingatkan ketika melihat sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan situasi.
"Kritik sosial itu sehat ketika berkata, 'Mari lebih peka,' tetapi ia berubah menjadi social policing ketika berkata, 'Kamu tidak boleh bahagia karena kami sedang terluka,'" tuturnya.
Kata Devie, sikap tersebut juga bisa mendekati crab mentality, yakni ketika seseorang merasa orang lain tidak seharusnya terlihat lebih berhasil karena dirinya belum mencapai hal yang sama.
"Jadi, jangan sampai kritik pada kesenjangan berubah menjadi kebencian pada keberhasilan," tambahnya.
Baca halaman selanjutnya tentang daftar public figure 'tone deaf'...