Laporan OECD Bikin Geger, 60% Anak Muda Tetangga RI Kesulitan Membaca

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 59% siswa di Vietnam tercatat tidak mampu menggunakan pengetahuan dan informasi pemahaman bacaan untuk menangani situasi di dunia nyata. Fakta memprihatinkan ini terungkap dalam penilaian global terhadap siswa berusia 15 tahun oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Mengutip VN Express, Selasa (15/9/2026), hasil Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) 2025 yang dirilis pekan ini melibatkan lebih dari 7.350 siswa Vietnam dari 194 sekolah menengah. Skor rata-rata mereka anjlok 15 hingga 70 poin dibandingkan penilaian terakhir pada 2022, dengan rincian 457 poin dalam sains, 443 di matematika, 392 di kemampuan membaca, dan 461 dalam pemecahan masalah komputasi.

Penilaian PISA menetapkan Level 2 sebagai kemahiran minimum dasar. Sayangnya, hanya 41% siswa Vietnam yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, tertinggal hampir 30 poin persentase di bawah rata-rata OECD. Sementara itu, proporsi siswa yang mencapai Level 2 di bidang sains dan matematika tercatat lebih tinggi, yakni masing-masing mencapai 71% dan 58%, berbanding dengan rata-rata OECD di angka 74% dan 65%.

Merespons hasil minor tersebut, Kementerian Pendidikan dan Pelatihan Vietnam berdalih bahwa penurunan skor terjadi karena ini adalah kali perdana siswa mereka beralih dari ujian berbasis kertas ke ujian berbasis komputer. Mengingat kedua format tersebut memiliki perbedaan yang signifikan, pihak kementerian menilai bahwa kesenjangan skor tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kualitas pendidikan telah menurun.

"Siswa perlu meningkatkan keterampilan pemahaman bacaan mereka di semua mata pelajaran. Ini bukan hanya tanggung jawab kelas sastra, karena siswa perlu tahu cara membaca, memilih informasi penting, membandingkan, dan menarik kesimpulan untuk memecahkan soal matematika, memahami fenomena ilmiah, membaca peta dan grafik, atau mengikuti instruksi di internet," ungkapnya.

Untuk mengatasi kelemahan ini, kementerian mendorong para guru agar terus membiasakan siswa dengan berbagai jenis informasi, termasuk teks tertulis, tabel, gambar, dan data, serta melakukan penilaian rutin untuk memberikan dukungan tepat waktu. Guru juga diminta menerapkan pendekatan PISA yang merangsang nalar kritis dan pemecahan masalah, tanpa mengubahnya menjadi kursus persiapan ujian semata.

Lebih lanjut, pihak kementerian tetap menyoroti sisi positif dari hasil tes global ini dengan memuji etos kerja para pelajar mereka.

"Sistem pendidikan Vietnam memiliki sumber daya yang kuat: siswa menghargai pembelajaran, gigih, aktif mencari dukungan dan rajin, guru memantau siswa mereka dengan cermat, serta siswa cepat beradaptasi dengan teknologi baru," paparnya.

Sebagai informasi, tes PISA diadakan setiap tiga tahun sekali, di mana Vietnam pertama kali berpartisipasi pada 2012. Penilaian terbaru kali ini merupakan penyelenggaraan terbesar dengan melibatkan sekitar 765.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi. Secara global, siswa di China sukses menempati peringkat teratas dunia dalam matematika dan sains, sementara Singapura memimpin di bidang membaca dan meraih posisi kedua dalam dua mata pelajaran lainnya.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]