◐

Laporan: China tetap jadi pasar robot industri terbesar di dunia

Berlin (ANTARA) - Laporan World Robotics 2026 yang dirilis pada Kamis (24/9) menyebutkan bahwa China menyumbang hampir tiga perlima dari jumlah robot industri yang terpasang di seluruh dunia pada 2025, semakin mengukuhkan posisinya sebagai pasar robotika industri terbesar di dunia.

Sebanyak 354.000 robot industri dipasang di China pada tahun lalu, naik 20 persen dibandingkan 2024 dan menyumbang 59 persen dari total pemasangan robot industri secara global, kata Federasi Robotika Internasional (International Federation of Robotics/IFR) yang berbasis di Frankfurt dalam laporan tersebut.

Angka itu hampir 60.000 unit lebih tinggi dibandingkan rekor tahunan sebelumnya.

"Keberhasilan China dalam memodernisasi sistem industrinya didasarkan pada strategi robotika nasional, yang dimulai 10 tahun lalu," ujar Presiden IFR Jane Heffner.

Dia menambahkan bahwa strategi yang diperbarui dalam Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok (2026-2030) bertujuan untuk memfokuskan penelitian kecerdasan buatan (AI) pada penerapan fisik, dengan robot berperan sebagai salah satu pendorong penting pertumbuhan ekonomi.

Permintaan China terhadap robot industri didorong oleh industri kelistrikan dan elektronik, otomotif, serta logam dan permesinan.

Industri kelistrikan dan elektronik memasang 96.400 robot industri pada 2025, naik 16 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan menyumbang 27 persen dari total pemasangan robot di China.

Industri otomotif memasang 78.900 unit robot, naik 38 persen dan mencapai rekor tertinggi, sementara pemasangan di industri logam dan permesinan naik 44 persen menjadi 78.700 unit.

Produsen robot China juga terus memperluas kehadiran mereka di pasar domestik. Pemasangan oleh pemasok domestik meningkat 15 persen pada 2025 menjadi 195.000 unit, sehingga memberi mereka pangsa 55 persen dari total pemasangan.

Pemasangan oleh pemasok asing naik 27 persen. Menurut IFR, lebih dari separuh robot industri yang dipasang di China telah dipasok oleh merek-merek negara itu sejak 2024.

IFR memperkirakan bahwa pasar robot industri China masih jauh dari titik jenuh, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 5 sampai 10 persen hingga 2029.

"Perubahan demografis beserta kekurangan tenaga kerja yang ditimbulkannya diperkirakan akan terus mendorong permintaan terhadap otomatisasi robotik, yang dapat membantu meningkatkan ketahanan produksi dalam menghadapi kekurangan tenaga kerja," kata IFR.

IFR menyebutkan bahwa dipandu oleh Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), strategi robotika China menekankan kemandirian teknologi dan modernisasi industri tradisional. IFR menambahkan bahwa industri robotika China bergerak menuju posisi sebagai inovator dalam bidang AI fisik serta pengembang robotika industri cerdas.

Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.