Langka! Kopi Yellow Bourbon dari Garut Ini Dirawat Sejak 17 Tahun Lalu

Jakarta -

Kopi langka dari Garut ini ternyata punya perjalanan panjang sebelum tiba di Jakarta. Dirawat sejak 17 tahun lalu, rasanya menyimpan kejutan saat diminum.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara produsen kopi terbesar di dunia. Tak hanya dari jumlah tetapi varietas yang dimilik di atas tanah Nusantara juga tak bisa dipandang sebelah mata.

Selain ceri kopi merah, varietas ceri kuning seperti Yellow Bourbon juga bisa ditemukan di pulau Jawa. Misalnya seperti Yellow Bourbon yang berhasil dibudiayakan di Gunung Mandalagiri, Garut, Jawa Barat, oleh sebuah keluarga pertama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sini lah kafe sekaligus roastery, Roemah Koffie, berkolaborasi dengan keluarga petani di Garut untuk memboyong kopi langka ini lewat produk Cing Cangkeling.

Dalam peluncuran prouduk Cing Cangkeling di Roemah Koffie Gunawarman, Jakarta Selatan, (18/9/2026), Felix TJ selaku CEO Roemah Koffie, mengungkapkan keunikan dibalik biji kopi yang dinamai Cing Cangkeling.

Cing Cangkeling Roemah KoffieBerkolaborasi dengan keluarga petani asal Garut, Roemah Koffie meluncurkan produk bernama Cing Cangkeling. Foto: detikcom/Diah Afrilian

Varietas tersebut rupanya didatangkan langsung dari sebuah kebun keluarga pertani di Garut. Roby Siswanda, anak dari pemilik kebun, mengisahkan perjuangan ayahnya merintis menjadi seorang petani kopi.

Kebun kopi milik keluarganya baru mulai ditanam tunas pertamanya pada tahun 2009. Saat itu ayah Roby mengaku ia hanya sekadar menanam pohon kopi kecil yang tumbuh di bawah pohon-pohon kopi dari kebun di sekitarnya.

Awalnya keluarga ini hanya menjual ceri kopi saja setiap masa panen. Tetapi Roby yang merupakan Gen Z di dalam keluarganya, merasa penasaran untuk mengulik potensi buah kopi dari kebuh ayahnya.

Ia lantas menemukan keistimewaan biji kopi yang selama ini ditanam oleh ayahnya. Varietasnya adalah Yellow Bourbon, salah satu biji kopi dengan persediaan terbatas di tanah Jawa.

Secara mandiri, Roby mulai mempelajari teknik processing biji kopi pasca panen. Adapun metode processing yang dipilih untuk varietas Yellow Bourbon tersebut ialah anaerob, yaitu metode pengolahan pasca panen biji kopi di dalam wadah kedap udara tanpa oksigen

Cing Cangkeling Roemah KoffieBiji kopi yang digunakan langsung didatangkan dari kebun yang sudah dirawat sebuah keluarga selama 17 tahun terakhir. Foto: detikcom/Diah Afrilian

Ceri kopi berwarna kuning keemasan dari kebun ayahnya difermentasi pada lingkungan dengan 0% oksigen. Tak disangka, teknik tersebut berhasil menambah nilai jual dengan begitu siginfikan.

Sampai akhirnya perjalanan Felix TJ bersama Roemah Koffie mengantarkan pertemuan dengan keluarga ini. Felix TJ memutuskan untuk memboyong hasil biji kopinya untuk kemudian dikreasikan pada beberapa menu di Roemah Koffie.

Pertama, ada menu Manual Brew dengan aroma brown sugar yang kuat dan karakter rasa manis mirip anggur yang dominan. Disusul rasa mirip buah persik yang tipis setelahnya.

Biji kopi ini juga dikreasikan menjadi salah satu Signature Beverage di Roemah Koffie yang terinspirasi dari Espresso Martini. Espresso dari Cing Cangkeling dipadukan dengan ekstrak bunga sedap malam, sirup anggur putih, dan larutan saline untuk menyeimbangkan rasanya.

Saking enaknya, biji kopi Cing Cangkeling yang disajikan sebagai cappucino punya rasa mirip fruit cake yang manis dan sedikit gurih. Perlu diingat biji kopi ini hanya akan dihadirkan musiman mulai dari 18 September - 31 Oktober 2026.

Cing Cangkeling yang dikemas dengan berat 250 gram dijual seharga Rp225 Ribu. Bahkan khusus pada 19-20 September 2026, Roby Siswanda akan melakukan bar takeover di Roemah Koffie Puri Indah Mall 2, Jakarta Barat, untuk menyajikan kopi dari kebun keluarganya langsung ke pelanggan.

(dfl/sob)