◐

Lagi, BKSDA Sampit terima laporan orang utan terdampak karhutla

Lagi, BKSDA Sampit terima laporan orang utan terdampak karhutla

Rabu, 30 September 2026 23:29 WIB

Image Print

Komandan BKSDA Sampit Muriansyah melakukan observasi ke lokasi kemunculan orang utan di Kelurahan Kota Besi Hulu, Rabu (30/9/2026). ANTARA/HO-BKSDA Sampit

Sampit (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah kembali menerima laporan kemunculan orang utan di kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Laporan kali ini berasal dari kawasan kebun karet warga di Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi. Kami sudah melakukan observasi ke lokasi yang dimaksud,” kata Komandan BKSDA Resort Sampit Muriansyah di Sampit, Rabu.

Muriansyah menyampaikan, bahwa laporan tersebut diterima dari staf KPHP Mentaya Tengah Seruyan Hilir atas nama Wibisono pada Rabu (30/9) pagi.

Setelah menerima laporan tersebut pihaknya langsung melakukan observasi lapangan untuk memastikan keberadaan satwa dilindungi tersebut sekaligus melihat kondisi habitat di sekitarnya

Observasi dilakukan personel Pos Sampit pada pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Petugas menyisir lokasi yang dilaporkan menjadi tempat kemunculan orang utan, tetapi satwa tersebut belum berhasil ditemukan.

Meski begitu, petugas menemukan dua sarang orang utan di sekitar lokasi, masing-masing masuk kelas dua dan kelas empat. Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa kawasan tersebut memang pernah atau masih menjadi bagian dari aktivitas orang utan.

“Orang utannya tidak kami temukan, tetapi kami menemukan dua sarang kelas dua dan empat, yang menunjukkan memang ada kemunculan orang utan di lokasi tersebut,” ujarnya.

Kondisi kawasan juga menunjukkan adanya kejadian karhutla. Di sekitar lokasi kemunculan orang utan, kebakaran lahan telah terjadi dan pada saat petugas melakukan observasi masih ditemukan titik lahan yang terbakar.

Vegetasi di kawasan tersebut didominasi tanaman karet, kelapa sawit, semak belukar dan tanaman buah. Sementara akses menuju lokasi relatif mudah karena tersedia jalan aspal yang terhubung hingga Desa Kandan.

Dalam kegiatan tersebut, petugas juga bertemu dengan warga yang sedang berjaga sekaligus menyadap karet di kebun. Warga membenarkan bahwa orang utan memang beberapa kali terlihat di kawasan tersebut.

Petugas kemudian memberikan pengarahan kepada warga mengenai perilaku orang utan serta langkah yang perlu dilakukan apabila satwa tersebut kembali muncul.

“Kami mengimbau warga segera melaporkan apabila orang utan kembali terlihat. Informasi secepatnya sangat diperlukan agar kami bisa melakukan pemantauan dan menentukan langkah penanganan,” ucap Muriansyah.

Kemunculan orang utan di kawasan terdampak karhutla kembali menjadi perhatian karena kondisi habitat yang terbakar dapat mendorong satwa berpindah mencari tempat yang lebih aman dan sumber makanan.

Sebelumnya, BKSDA Kalteng bersama Orangutan Foundation International (OFI) telah dua kali melakukan penyelamatan orangutan yang terdampak karhutla di Kotim sepanjang September 2026.

Penyelamatan pertama dilakukan terhadap induk dan anak orang utan di kawasan Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Keduanya ditemukan bertahan di atas pohon di tengah lahan yang baru terbakar dan kemudian dievakuasi oleh tim BKSDA bersama OFI.

Penyelamatan berikutnya berlokasi di Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Ramban, Dusun Ramban, Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Satwa itu ditemukan berada di atas pohon kering ketika kawasan sekitarnya masih terbakar.

Dengan adanya laporan terbaru di Kota Besi Hulu, BKSDA kembali melakukan pemantauan untuk memastikan keberadaan orang utan dan kondisi habitatnya.

Petugas juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan sendiri apabila bertemu satwa tersebut, terutama dengan mengejar, menangkap, atau mengusirnya.

“Apabila menemukan satwa yang dilindungi segera laporan ke kami atau aparat setempat agar dapat ditangani. Jangan mengambil tindakan sendiri, karena berisiko bagi kepada orangnya maupun satwa tersebut,” demikian Muriansyah.

Baca juga: Polres Kotim ungkap penyebab kebakaran SMAN 1 Cempaga

Baca juga: Penertiban oleh Satpol PP Kotim ungkap kisah pilu tunawisma korban rudapaksa

Baca juga: Tinjau jalan Cempaka Mulia-Kampung Melayu, Komisi IV DPRD Kalteng dititipi aspirasi tiga desa

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.