Kunci Lepas dari Middle Income Trap: Digitalisasi dan Pusat AI Baru

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan sektor digital di Indonesia terbukti memberikan dampak signifikan bagi perekonomian dalam negeri. Terlebih, saat ini pemerintah tengah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen guna membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Sonny Hendra Sudaryana, menjelaskan bahwa pemanfaatan bonus demografi menjadi kunci utama dalam merealisasikan target tersebut.

"Saat ini pendapatan per kapita Indonesia berada di angka US$ 4.900. Untuk bisa keluar dari middle income trap, angka ini harus naik tiga kali lipat. Salah satu caranya adalah dengan mengonversi bonus demografi menjadi dampak ekonomi riil melalui digitalisasi," ujar Sonny di BSD, Kabupaten Tangerang, Rabu (15/7/2026).

Sektor ekonomi digital dinilai memiliki tingkat efisiensi yang jauh lebih baik dibandingkan sektor konvensional, sehingga berpotensi mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Kendati demikian, tantangan besar masih membayangi. Berdasarkan data pemerintah, sekitar 80 persen nilai ekonomi digital yang tercipta di Indonesia saat ini masih dinikmati oleh platform global.

"Sebanyak 80 persen nilai ekonomi digital kita masih dinikmati oleh platform luar. Fokus pemerintah saat ini adalah bagaimana memaksimalkan nilai tambah tersebut agar tetap berada di Indonesia. Ekonomi digital harus tumbuh maksimal, tetapi nilainya jangan sampai dibawa keluar," tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Sonny memaparkan strategi penguatan yang bertumpu pada tiga fondasi utama: