Kisah Bayi Prematur Terpisah dari Bundanya Selama 2 Th, Bertemu Lagi tapi Tak Saling Kenal
Jakarta -
Setiap Bunda tentu membayangkan bisa mendekap Si Kecil sejak hari pertama kelahirannya. Namun, hal tersebut tidak bisa dirasakan oleh Sundus al-Kurd dan putrinya, Bissan.
Bissan merupakan bayi prematur yang lahir di tengah konflik Gaza pada Oktober 2023. Setelah lahir, ia harus menjalani perawatan intensif dan kemudian dievakuasi ke Mesir. Dalam kondisi masih sangat kecil, Bissan harus meninggalkan Gaza tanpa Bundanya.
Selama lebih dari dua tahun, ibu dan anak ini hidup terpisah. Ketika akhirnya mereka bisa bertemu kembali, ada momen yang begitu mengharukan sekaligus menyakitkan. Bissan tidak mengenali Sundus sebagai Bundanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut kisahnya dikutip dari Reuters.
Bissan lahir prematur di tengah konflik Gaza
Kisah Bissan bermula ketika Sundus sedang mengandung dan tinggal bersama keluarganya di Beit Lahiya, Gaza.
Pada Oktober 2023, sebuah serangan menghantam rumah keluarganya. Sundus mengalami luka, sementara salah satu anaknya meninggal dunia sebelum sempat bertemu dengan Bissan yang masih berada di dalam kandungan. Dalam kondisi tersebut, dokter harus melakukan persalinan sekitar enam minggu lebih awal untuk menyelamatkan nyawa Sundus dan bayinya.
Bissan kemudian lahir sebagai bayi prematur dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Tak lama setelah itu, Bissan menjadi salah satu bayi prematur yang dievakuasi dari Gaza ke Mesir untuk mendapatkan perawatan medis. Saat dievakuasi, ia masih membutuhkan inkubator.
Dikutip dari Reuters, sebanyak 29 bayi prematur dievakuasi dalam misi tersebut. Namun, tujuh bayi dilaporkan meninggal dunia selama berada di Mesir. Bissan menjadi salah satu bayi yang berhasil bertahan hidup. Namun, keselamatannya harus dibayar dengan perpisahan panjang dari sang Bunda.
Bayi prematur ini tumbuh jauh dari Bundanya
Sementara Bissan menjalani perawatan di Mesir, Sundus tetap berada di Gaza. Selama lebih dari dua tahun, Sundus hanya bisa mengikuti perkembangan putrinya dari kejauhan. Ketika memiliki akses internet, ia berusaha melakukan panggilan video agar tetap bisa melihat dan berbicara dengan Bissan.
Namun, tentu saja komunikasi melalui layar tidak sama dengan kehadiran seorang ibu.
Tidak ada pelukan ketika Bissan menangis. Tidak ada tangan yang menggenggamnya ketika ia sakit. Tidak ada suara Bunda yang menenangkannya secara langsung sebelum tidur.
Padahal, masa bayi merupakan periode penting bagi anak untuk mengenali sosok yang merawat dan memberikan rasa aman kepadanya. Bissan justru melewati sebagian masa tersebut bersama pengasuh dan tenaga kesehatan di Mesir.
Dua tahun kemudian, Bunda dan anak akhirnya bertemu
Setelah menunggu begitu lama, Sundus akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bertemu kembali dengan putrinya. Pada Maret 2026, Bissan bersama sejumlah anak lainnya kembali ke Gaza dalam sebuah misi yang dibantu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Bisa dibayangkan betapa emosionalnya momen ketika Sundus akhirnya bisa memeluk putrinya secara langsung setelah bertahun-tahun hanya melihatnya melalui layar. Namun, pertemuan itu ternyata tidak langsung seperti yang dibayangkan.
Bissan tidak mengenali Sundus sebagai Bundanya. Anak kecil tersebut sudah tumbuh selama lebih dari dua tahun tanpa kehadiran Sundus secara langsung dalam kesehariannya. Ia pun harus kembali beradaptasi dengan sosok yang sebenarnya merupakan Bundanya sendiri.
Bissan harus belajar mengenal "Mama" kembali
Bagi Sundus, kenyataan bahwa putrinya tidak langsung mengenalinya tentu sangat menyakitkan. Namun, ia memilih untuk tidak memaksa Bissan. Sundus perlahan menghabiskan waktu bersama putrinya. Mereka berjalan-jalan, bermain, makan bersama, hingga melakukan berbagai aktivitas sederhana lainnya.
Hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa bagi keluarga lain justru menjadi sangat berarti bagi keduanya. Sundus perlu menunjukkan kepada Bissan bahwa dirinya adalah sosok yang akan selalu ada untuknya. Perlahan, hubungan tersebut mulai terbentuk.
Bissan mulai mengetahui siapa perempuan yang berada di sampingnya. Sosok yang menyuapi, mengganti pakaiannya, menyisir rambutnya, bermain dengannya, dan memberikan pelukan ketika ia ketakutan.
"Mama" bukan lagi sekadar suara atau wajah di layar. Kini, Mama adalah seseorang yang benar-benar ada di hadapannya.
Bissan juga takut mendengar suara ledakan
Kembali ke Gaza ternyata membawa tantangan lain bagi Bissan. Selama berada di Mesir, lingkungan yang ia kenal sangat berbeda dengan kondisi Gaza ketika ia kembali.
Suara ledakan membuat Bissan ketakutan. Bahkan suara balon yang pecah dapat membuatnya panik.
Sundus mengatakan bahwa putrinya dapat membeku ketika mendengar suara ledakan. Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman yang dialami anak sejak usia sangat dini dapat meninggalkan respons emosional yang kuat.
Namun, ketika merasa takut, Bissan kini mulai mencari Bundanya. Bagi Sundus, hal tersebut menjadi tanda bahwa putrinya perlahan mulai membangun rasa aman kepadanya.
Bonding ibu dan anak bisa dibangun kembali
Kisah Bissan dan Sundus juga menunjukkan bahwa bonding antara ibu dan anak tidak selalu langsung terbentuk, terutama ketika keduanya mengalami perpisahan panjang.
Menurut Arafat Abu Mashayikh, seorang pakar kesehatan mental di Gaza yang dikutip Reuters, anak-anak yang terpisah dari orang tuanya dalam waktu lama dapat kehilangan berbagai pengalaman kedekatan, termasuk kontak fisik dan interaksi sehari-hari bersama orang tua. Karena itu, ketika akhirnya dipertemukan kembali, hubungan tersebut membutuhkan waktu untuk dibangun kembali.
Bunda tidak perlu membayangkan bahwa bonding harus selalu terjadi melalui momen besar.
Justru, rutinitas sederhana bisa menjadi bagian penting dari proses tersebut. Memeluk Si Kecil, menggendongnya, mengajaknya berbicara, bermain bersama, membacakan cerita, menyuapinya, atau sekadar berada di dekatnya dapat membantu anak mengenali kehadiran orang tua sebagai sesuatu yang aman dan konsisten.
Pada kasus Bissan, proses itu harus dimulai setelah lebih dari dua tahun terpisah.
Perlahan, Bissan mulai menemukan Bundanya
Sundus mungkin tidak bisa mengembalikan waktu yang hilang selama dua tahun. Namun, ia masih memiliki kesempatan untuk menciptakan banyak kenangan baru bersama putrinya.
Hari demi hari, Bissan mulai mengenal Sundus. Ia mulai mencari Bundanya ketika merasa takut dan membutuhkan seseorang untuk melindunginya. Bagi seorang ibu yang telah menunggu begitu lama, mungkin tidak ada hal yang lebih berarti daripada ketika Si Kecil akhirnya datang mencari pelukannya.
Kisah Bissan menjadi pengingat bahwa hubungan antara Bunda dan anak dapat membutuhkan proses, terutama setelah mengalami perpisahan panjang.
Tidak apa-apa jika Si Kecil membutuhkan waktu untuk merasa nyaman. Tidak apa-apa jika ia belum langsung mengenali atau dekat dengan Bunda. Yang terpenting, terus hadir dan memberikan rasa aman.
Sebab bagi seorang anak, rasa aman sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan berulang kali: pelukan, suara lembut, tatapan penuh kasih, dan sosok yang selalu ada ketika ia membutuhkan. Dan bagi Bissan, perjalanan untuk mengenal kembali "Mama" itu kini telah dimulai.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)