Kereta Api di Kaltara, Gubernur: Tahun Depan Groundbreaking |Republika Online
Ilustrasi kereta api.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mendorong pembangunan jaringan kereta api segera beralih dari tahap pembahasan menuju realisasi. Gubernur Kaltara Zainal A Paliwang bahkan berharap peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek tersebut sudah dapat dilakukan tahun depan.
“Harapan kita tahun depan sudah bisa groundbreaking. Untuk mewujudkannya, kita membutuhkan dukungan perusahaan dan sinergi semua pihak,” kata Zainal di Tanjung Selor, Jumat.
Zainal mengatakan jaringan kereta api dibutuhkan untuk menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan efisiensi pengangkutan komoditas dalam jumlah besar. Kereta diharapkan menjadi bagian dari sistem logistik terpadu yang menghubungkan sentra produksi, kawasan industri hingga pelabuhan.
“Pembangunan jaringan perkeretaapian menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi angkutan komoditas,” ujar Zainal.
Kebutuhan tersebut dinilai semakin mendesak karena karakter perekonomian Kaltara masih bertumpu pada sektor-sektor yang membutuhkan pengangkutan barang dalam volume besar. Batu bara dan kelapa sawit menjadi dua komoditas yang disoroti karena selama ini sebagian distribusinya masih bergantung pada moda jalan.
Menurut Zainal, penggunaan truk dalam jumlah besar bukan hanya membuat biaya angkutan perusahaan tinggi. Aktivitas tersebut juga menambah kepadatan lalu lintas dan memberikan tekanan terhadap kondisi jalan yang pada saat bersamaan digunakan masyarakat.
“Kereta api bisa menjadi angkutan yang lebih ekonomis untuk membawa komoditas dalam jumlah besar. Biaya transportasi perusahaan juga bisa ditekan,” katanya.
Jika sebagian pengangkutan batu bara dan sawit dapat dialihkan ke kereta api, Zainal meyakini biaya distribusi dapat menjadi lebih efisien. Beban kendaraan berat terhadap jalan raya juga berpotensi berkurang sehingga fungsi infrastruktur publik dapat lebih terjaga.
Karena itu, jalur kereta tidak dirancang berdiri sendiri. Pemprov Kaltara menginginkan jaringan tersebut menjadi bagian dari konektivitas kawasan produksi dengan pusat industri dan pelabuhan sehingga barang dapat bergerak dalam satu sistem logistik yang lebih efisien.
“Jalur tersebut kita harapkan dapat menghubungkan kawasan produksi dengan pusat industri dan pelabuhan sehingga distribusi barang menjadi lebih lancar,” ujar Zainal.
Dorongan membangun angkutan rel juga sejalan dengan struktur ekonomi Kaltara. Data BPS memperlihatkan nilai tambah sektor pertambangan dan penggalian Kaltara mencapai Rp17,40 triliun pada 2025, termasuk sekitar Rp10,58 triliun dari pertambangan batu bara dan lignit.
sumber : Antara