Kenapa Wanita Jadi Glow Up Setelah Putus Cinta? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Jakarta -
Pernah melihat seseorang yang justru terlihat lebih segar, percaya diri, dan bersinar setelah putus cinta? Fenomena yang sering disebut post-breakup glow-up ini ramai dibicarakan di media sosial.
Sejumlah wanita mengaku kondisi kulit, kualitas tidur, hingga kesehatan mereka membaik setelah mengakhiri hubungan dengan pasangan. Menariknya, glow-up setelah putus ternyata bukan sekadar mitos, ada penjelasan dari sisi psikologis dan kesehatan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hubungan asmara yang penuh tekanan dapat memengaruhi kondisi mental maupun fisik seseorang, termasuk penampilannya. Dalam hubungan yang tidak sehat, wanita yang kerap menerima kritik tentang penampilan dari pasangan bisa mengalami penurunan rasa percaya diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Psikoterapis Laurel Steinberg, PhD, menjelaskan bahwa wanita dan pria dapat mengalami serta menghadapi tekanan dalam hubungan dengan cara berbeda. Seban mental dan emosional umumnya kerap lebih banyak ditanggung wanita.
"Ketika suasana dipenuhi ketegangan, wanita bisa merasakan lebih banyak rasa bersalah dan malu dibandingkan pasangannya. Hal ini dapat memicu stres berkepanjangan dan berdampak buruk pada indikator kesehatan mereka," ujar Laurel, seperti dikutip dari Allure.
Dampaknya tidak berhenti pada kondisi emosional. Stres juga dapat memengaruhi tubuh, termasuk kesehatan kulit dan rambut. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres bisa memicu masalah seperti jerawat dan kerontokan rambut.
Perubahan fisik tersebut kemudian bisa menambah beban pikiran. Sebagai contoh, penelitian menemukan bahwa rambut yang semakin menipis dapat menimbulkan kecemasan besar. Artinya, meskipun perubahan penampilan itu mungkin tidak begitu terlihat oleh orang lain, yang mengalaminya bisa merasa sangat terganggu.
Ketika sumber stresnya berkurang atau hilang, mereka pun berpeluang merasa lebih nyaman dengan diri sendiri.
Stres karena Hubungan Bisa Memengaruhi Penampilan
Dokter bedah plastik dan rekonstruksi wajah di New York, Lara Devgan, MD, mengatakan bahwa fenomena glow-up setelah putus cinta memang bisa terjadi.
"Pasangan yang toxic membuat seseorang terus-menerus berada dalam kondisi stres. Terkadang, langkah paling efektif untuk memperbaiki penampilan adalah menyingkirkan hal yang menguras energi kita, entah itu pacar yang buruk atau hal lainnya," jelas Lara.
Selain terbebas dari tekanan hubungan, seseorang biasanya juga mulai kembali meluangkan waktu untuk dirinya sendiri setelah putus cinta. Perubahan ini dapat berdampak positif pada kondisi fisik, mulai dari tidur lebih berkualitas, pola makan lebih baik, hingga rutinitas perawatan kulit yang lebih teratur.
Dokter kulit Keira Barr, MD, pendiri Center for Mind Skin Medicine di Bend, Oregon, menjelaskan bahwa memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik setelah menjalani hubungan yang melelahkan bisa membantu tubuh kembali pulih.
"Glow-up setelah putus mungkin merupakan gambaran ketika tubuh yang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun berada dalam mode bertahan akhirnya memiliki lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki diri, memulihkan kondisi, dan kembali terhubung dengan orang lain," ungkap Keira.
Menurutnya, ada dasar fisiologis yang bisa menjelaskan mengapa hubungan yang tidak sehat dapat memengaruhi penampilan. Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, kadar hormon kortisol dan aktivitas peradangan dalam tubuh dapat meningkat.
"Kondisi tersebut dapat memicu jerawat, membuat kulit lebih sensitif dan dehidrasi, terlihat kusam, memperlambat proses penyembuhan kulit, serta membuat wajah tampak kurang segar," jelasna.
Psikolog klinis sekaligus terapis pasangan yang berbasis di Los Angeles, Molly Burrets, PhD, juga melihat kemungkinan bahwa tubuh sudah merespons hubungan yang bermasalah sebelum seseorang sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi.
"Saya rasa hal ini bukan hanya mungkin terjadi, tetapi juga cukup umum," ujarnya.
Molly menjelaskan bahwa tubuh tidak selalu memproses stres melalui pikiran sadar terlebih dahulu. Ada mekanisme yang membantu kita merasakan kondisi tubuh dan lingkungan sekitar, termasuk menangkap tanda-tanda yang dianggap aman atau mengancam.
Mekanisme tersebut dapat merespons nada bicara, ekspresi wajah, hingga suasana di sekitar kita. Respons ini terkadang muncul sebelum kita benar-benar menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan.
"Ketika kita berada dalam hubungan yang terasa tidak aman, sulit diprediksi, atau menguras emosi, sistem saraf kita dapat membacanya sebagai ancaman, bahkan ketika tidak ada orang yang meninggikan suara. Sistem saraf yang mendeteksi ancaman tidak membedakan antara 'pasangan saya sedang mengkritik saya' dan 'saya sedang dikejar predator'. Tubuh hanya akan bersiap menghadapi ancaman tersebut," tambahnya.
Stres berkepanjangan juga dapat terlihat dari perubahan penampilan. Molly menemukan sejumlah klien mengalami rambut menipis atau rontok secara tiba-tiba, kulit berjerawat atau kusam, lingkaran hitam di bawah mata yang tak kunjung hilang meski sudah cukup tidur, hingga berat badan yang naik atau turun secara signifikan.
Kabar baiknya, kondisi tersebut dapat membaik ketika sumber tekanan berkurang. Mengakhiri hubungan yang tidak sehat bisa menjadi salah satu langkah untuk memulihkan diri, meskipun hasilnya tentu berbeda pada setiap orang.
"Saya hampir selalu mendengar ungkapan seperti, 'Saya sekarang punya jauh lebih banyak energi.' Bukan karena hidup mereka menjadi lebih mudah, melainkan karena sistem saraf mereka tidak lagi menghabiskan waktu sepanjang hari untuk terus-menerus mencari tanda bahaya. Kewaspadaan seperti itu sangat melelahkan, bahkan ketika kita tidak menyadari sedang melakukannya," pungkasnya.
Perlu digarisbawahi bahwa glow-up setelah putus cinta bukan berarti semua masalah kulit, rambut, atau kesehatan disebabkan oleh pasangan. Kondisi tersebut bisa dipengaruhi berbagai faktor, dan stres karena tekanan selama berada dalam hubungan yang toxic, bisa jadi salah satu pemicunya.
(hst/hst)