Kementerian Kebudayaan Dorong Fort Rotterdam Jadi Pusat Edukasi dan Budaya
Bagikan:
MAKASSAR – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong revitalisasi Benteng Rotterdam tidak berhenti pada perbaikan bangunan. Kawasan bersejarah di Makassar itu akan diperkuat sebagai pusat edukasi, sejarah, dan kegiatan budaya yang lebih mudah diakses masyarakat.
Fadli menyampaikan hal itu saat meninjau Kawasan Cagar Budaya Benteng Rotterdam, Sulawesi Selatan, Minggu, 12 Juli. Ia melihat langsung kondisi sejumlah bangunan bersejarah sekaligus membahas langkah revitalisasi kawasan.
Menurut Fadli, seluruh pekerjaan harus tetap menjaga keaslian, karakter, dan nilai sejarah benteng.
“Fort Rotterdam merupakan salah satu benteng bersejarah yang sangat penting bagi perjalanan sejarah bangsa. Revitalisasi bertujuan menjaga nilai sejarahnya sekaligus memperkuat fungsinya sebagai pusat edukasi, pusat kebudayaan, pusat sejarah, dan ruang bagi berbagai aktivitas seni budaya,” kata Fadli.
BACA JUGA:
Revitalisasi direncanakan mencakup perbaikan fisik, penguatan museum dan perpustakaan, penambahan ruang edukasi, serta penggunaan teknologi digital. Langkah itu disiapkan agar informasi sejarah dapat disajikan lebih menarik dan mudah dipahami pengunjung.
Fadli menegaskan revitalisasi akan didasarkan pada kajian menyeluruh dan kaidah pelestarian cagar budaya.
“Revitalisasi ini bukan hanya memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga memastikan warisan sejarah tetap lestari untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Fort Rotterdam berawal dari Benteng Ujung Pandang yang dibangun Kerajaan Gowa pada abad ke-16. Benteng itu kemudian direkonstruksi Pemerintah Hindia Belanda setelah Perjanjian Bungaya pada 1667 dan berganti nama menjadi Fort Rotterdam.
Kawasan tersebut juga memiliki kaitan erat dengan Pangeran Diponegoro. Tokoh Perang Jawa itu diasingkan di Makassar hingga meninggal pada 1855.
Saat ini, Fort Rotterdam menaungi Museum La Galigo, ruang pamer, perpustakaan, serta berbagai kegiatan pelestarian dan kebudayaan.
Peninjauan itu juga dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta jajaran pemerintah daerah.
Revitalisasi Fort Rotterdam kini diarahkan bukan hanya untuk menjaga bangunan tua, tetapi juga menghidupkan kembali fungsinya sebagai ruang belajar dan kegiatan budaya bagi masyarakat.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+