Kemenperin perkuat penerapan teknologi tepat guna pacu daya saing IKM - ANTARA News Bangka Belitung

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat daya saing industri kecil menengah (IKM) melalui penerapan teknologi tepat guna yang adaptif, produktif, dan berorientasi keberlanjutan lingkungan.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, transformasi industri nasional tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas dan daya saing, tetapi juga harus mampu menghadirkan proses produksi yang berkelanjutan serta ramah lingkungan.

Kementerian Perindustrian terus berupaya menerapkan teknologi tepat guna yang mampu meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus memperkuat aspek keberlanjutan lingkungan. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan industri nasional yang semakin berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan serta sesuai dengan prinsip industri hijau, ujar Menperin dalam keterangannya dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) bagi IKM Sentra Sasirangan Timbaan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Pembangunan IPAL tersebut merupakan bagian dari Program Percepatan Pemanfaatan Teknologi melalui Dana Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri (DAPATI), yang bertujuan mempercepat adopsi teknologi industri sekaligus memperkuat pengelolaan lingkungan di sektor IKM.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) terus memperkuat perannya dalam menghadirkan layanan teknologi industri yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha di berbagai daerah.

Melalui Program DAPATI, BSKJI mendorong percepatan pemanfaatan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik, khususnya bagi sektor IKM.

Kepala BSKJI Emmy Suryandari menyampaikan, Program DAPATI menjadi wujud nyata kehadiran pemerintah dalam mempercepat pemanfaatan teknologi industri.

"Program DAPATI tidak hanya menghasilkan inovasi yang aplikatif, tetapi juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sehingga pelaku industri mampu mengoperasikan teknologi secara mandiri dan berkelanjutan. Dengan demikian, manfaat teknologi dapat terus dirasakan dalam jangka panjang," ujarnya.

Sebagai pelaksana kegiatan, Kepala BSPJI Banjarbaru Oktaviyanto Jimat Wibowo menjelaskan, pembangunan IPAL di Sentra Sasirangan Timbaan dilatarbelakangi masih ditemukannya praktik pembuangan limbah cair hasil proses pewarnaan kain sasirangan secara langsung ke sumur resapan tanpa melalui proses pengolahan.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak segera ditangani.

Program konsultansi pembangunan IPAL dilaksanakan selama delapan bulan, mulai Maret hingga Oktober 2025. Kegiatan tersebut mencakup identifikasi permasalahan, observasi lapangan, penyusunan desain IPAL, penandatanganan kerja sama, pembangunan instalasi, bimbingan teknis, hingga monitoring dan evaluasi penerapan teknologi.

Hasil kegiatan menghasilkan unit IPAL berkapasitas sekitar 3.500 liter dengan dimensi panjang 450 sentimeter, lebar 200 sentimeter, dan tinggi 120 sentimeter.

Instalasi tersebut terdiri atas tujuh bak pengolahan, yakni satu bak elektrokoagulasi menggunakan inverter sebagai tahap awal pengendapan logam, lima bak penyaringan menggunakan ijuk, arang, pecahan genteng, sabut kelapa, dan limbah tumbuhan purun, serta satu bak kontrol sebelum air dialirkan menuju sumur resapan.

Seluruh media penyaring dipilih karena mudah diperoleh di daerah dan memiliki kemampuan menyerap berbagai parameter pencemar.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, teknologi tersebut mampu meningkatkan kualitas air limbah secara signifikan. Penurunan kadar hidrogen sulfida (HIS) mencapai 98,75 persen, minyak dan lemak 97,33 persen, fenol 91,66 persen, BOD 81,77 persen, COD 80,44 persen, serta TSC 40,74 persen.

Hampir seluruh parameter telah memenuhi baku mutu sesuai Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 36 Tahun 2008 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2025.

Sementara itu, parameter minyak dan lemak masih memerlukan optimalisasi waktu tinggal limbah di dalam IPAL agar hasil pengolahan semakin optimal.

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.