Kemenag NTT mendorong ekoteologi lewat bersih pantai di Kupang

Kemenag NTT mendorong ekoteologi lewat bersih pantai di Kupang

Rabu, 12 Agustus 2026 15:33 WIB

Image Print

Kantor Wilayah Kemenag Provinsi NTT membersihkan pesisir Pantai Pasir Panjang melalui Gerakan Ekoteologi Bersih Pantai di Kota Kupang, Rabu (12/8/2026). ANTARA/HO-Kemenag NTT

Kupang, NTT (ANTARA) - Kementerian Agama Nusa Tenggara Timur (Kemenag NTT) menyebut aksi membersihkan Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang, menjadi bentuk nyata penerapan ekoteologi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai sebuah gagasan atau wacana. Ia harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika kita memungut sampah, menjaga pantai, dan merawat lingkungan, sesungguhnya kita sedang mewujudkan tanggung jawab kita sebagai manusia yang dipercayakan untuk menjaga ciptaan Tuhan,” kata Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi NTT Fransiskus Kariyanto di Kupang, Rabu.

Ia menjelaskan gerakan tersebut dilaksanakan untuk menyongsong Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Selain itu, turut menjadi bagian dari penguatan ekoteologi melalui penerapan nilai-nilai keagamaan dalam tindakan nyata menjaga kelestarian alam.

Menurut dia, manusia bukan pihak yang berdiri di luar alam, melainkan bagian dari ciptaan yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan dan keberlangsungannya. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan perlu dibangun menjadi kesadaran bersama dalam kehidupan sehari-hari.

“Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan bukan hanya untuk kepentingan kita hari ini. Apa yang kita lakukan sekarang merupakan bentuk tanggung jawab kepada generasi yang akan datang. Kita ingin meninggalkan lingkungan yang lebih baik, bukan mewariskan persoalan lingkungan kepada anak-anak kita,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta menyusuri kawasan pesisir Pantai Pasir Panjang sambil memungut berbagai jenis sampah yang ditemukan di area pantai.

Adapun sampah yang terkumpul tidak ditimbang secara khusus karena seluruh hasil pembersihan langsung dimasukkan dan ditampung dalam bak sampah portabel yang telah disediakan di lokasi.

Fransiskus menambahkan, keterlibatan lintas satuan kerja dan lembaga keagamaan dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan ruang bersama yang dapat mempertemukan berbagai pihak.

“Kita ingin gerakan ini menjadi budaya. Bukan hanya hari ini kita membersihkan pantai, tetapi setelah kegiatan ini kita tetap memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan di manapun kita berada. Ekoteologi harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari tindakan-tindakan sederhana dan dilakukan secara konsisten,” tegasnya.

Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.