Kasus COVID-19 di Taiwan Ngegas, Varian Ini Paling Dominan
Jakarta -
Kasus COVID-19 di Taiwan belakangan mengalami peningkatan. Tercatat ada 4.766 kasus baru COVID-19, lima kematian, dan 25 pasien dengan gejala berat pada pekan lalu. Angka tersebut telah mencapai ambang batas yang dikategorikan sebagai epidemi, menurut pejabat kesehatan setempat.
Direktur Epidemic Intelligence Center, Centers for Disease Control Taiwan (CDC), Guo Hung-wei, mengatakan jumlah kasus tersebut meningkat 66,5 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers rutin di Taipei.
Adapun subvarian SARS-CoV-2 NB.1.8.1 menjadi varian yang paling banyak ditemukan di Taiwan selama empat pekan terakhir. Secara global, subvarian tersebut menyumbang 58,76 persen dari kasus baru, kata Wakil Direktur Jenderal sekaligus juru bicara CDC Taiwan, Tseng Shu-hui.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tseng, gelombang infeksi saat ini merupakan wabah kedelapan sejak varian Omicron mulai menyebar di masyarakat pada 2022.
Omicron merupakan varian 'induk' dari tiga subvarian virus corona yang saat ini dominan di dunia, yakni NB.1.8.1, XFG, dan JN.1.
Gejala utama infeksi Omicron antara lain sakit tenggorokan, batuk, hidung tersumbat, pilek, demam, kelelahan, sakit kepala, dan nyeri otot.
Pneumonia serta perubahan pada kemampuan mengecap dan mencium juga dapat terjadi. Namun, kondisi tersebut secara signifikan lebih jarang ditemukan dibandingkan pada subvarian Omicron sebelumnya.
Vaksin COVID-19 berbasis XBB yang digunakan di Taiwan disebut masih memberikan perlindungan efektif terhadap subvarian COVID-19 yang beredar saat ini. Vaksin tersebut dapat menurunkan risiko gejala akut yang membutuhkan kunjungan ke unit gawat darurat hingga hampir 50 persen dan menurunkan risiko rawat inap hampir 55 persen.
Kebijakan pemberian vaksin secara luas kepada masyarakat Taiwan akan terus diberlakukan hingga akhir bulan ini dan dapat diperpanjang bergantung pada tingkat keparahan epidemi, kata Tseng.
CDC Taiwan juga berencana memperkenalkan vaksin baru yang menargetkan varian KP.2 pada Oktober mendatang untuk memberikan perlindungan terhadap subvarian baru yang beredar.
Pejabat CDC kembali mengingatkan pentingnya memperbarui vaksinasi COVID-19, terutama bagi masyarakat yang terakhir menerima vaksin saat puncak pandemi tetapi belum mendapatkan vaksinasi terbaru sejak saat itu.
Pejabat kesehatan juga melaporkan bahwa pasien termuda yang meninggal akibat COVID-19 di Taiwan pada pekan lalu merupakan seorang perempuan berusia 60-an tahun. Ia mengalami pneumonia, kerusakan ginjal akut, dan gagal hati. Diketahui, dosis vaksin COVID-19 terakhir yang diterimanya adalah pada 2021.
Masyarakat berusia di atas 65 tahun dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah dinilai lebih rentan terhadap infeksi virus corona. Kelompok tersebut disarankan mendapatkan vaksin COVID-19 terbaru jika belum melakukannya.
Halaman 2 dari 2
(suc/suc)