Karhutla di OKI Sumsel Meluas, Puluhan Hektare Sawah Ludes Terbakar
Jakarta, CNN Indonesia --
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, semakin parah. Jumlah hotspot melonjak drastis dari 166 titik menjadi 639 titik pada Kamis (15/10).
Tak hanya lahan kosong, puluhan hektar persawahan milik warga di Desa Bubusan, Kecamatan Jejawi, juga ludes dilalap api.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabut asap pekat pun mulai menyelimuti wilayah tersebut hingga menjangkau Kabupaten Ogan Ilir dan Kota Palembang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, warga berbondong-bondong datang ke lokasi kebakaran untuk memutus rantai api agar tidak semakin meluas.
Sebagian warga terpaksa membabat dan memanen padi yang belum waktunya panen agar tidak ikut hangus.Petugas BPBD OKI, TNI, Polri, serta tim Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Satgas Jejawi bahu-membahu memadamkan api dengan peralatan seadanya, termasuk pompa jinjing.
Warga menyebut api sudah menyala sejak 10 hari lalu. Bermula dari Kecamatan SP Padang, api terus merembet sejauh 10 kilometer hingga ke
Desa Bubusan.
"Kita babat ini untuk mengurangi titik api, untuk nyekat api. Ini sudah lebih dari satu hektar yang terbakar. Titik apinya dari ulu sana, dari Desa Lebak. Sudah tidak terhitung lagi berapa hektare. Ada yang sudah panen, ada yang belum panen. Api sudah sepuluh hari yang lalu, dari kapal batas, mungkin jaraknya sepuluh kilo, api terus geser ke sini," kata Pasti, warga Desa Bubusan.
Camat Jejawi, Harpen Indarsyah, mengatakan saat ini ada dua desa yang terdampak karhutla.
"Saat ini ada dua desa di Desa Batun Baru 3 titik dan Desa Bubusan 2 titik. Untuk penanganan dua titik di Bubusan itu kita dibantu BPBD kabupaten, Satgas Jejawi, MPA, dibantu kepolisian. Ini sebenarnya bukan lahan gambut, tapi lahan mineral milik petani," ujar Harpen.
Menurut Harpen, upaya pemadaman terkendala krisis air dan jarak pandang.
"Kami langsung ke lapangan memadamkan api dengan peralatan yang ada, bila ada sumber air kita langsung penyemprotan dengan pompa jinjing. Namun sumber air benar-benar habis, anak sungai kering. Heli water bombing sulit masuk karena jarak pandang terbatas akibat kabut asap," katanya.
Warga berharap hujan segera turun agar kebakaran bisa teratasi. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan di tengah kemarau panjang.
(hnf/fra)