Kampus Membuat Saya Salah Tentang Musik (oleh: Magfira Naila Alwiyah) - Pophariini

Dulu, saya merasa sudah cukup mengenal musik. Nama-nama seperti Guns N’ Roses, Metallica, Scorpions, U2, hingga Neck Deep diperkenalkan melalui kebiasaan Bapak yang memutar lagu-lagu mereka setiap akhir pekan. Sebagian orang menyebutnya dad playlist. Saya menikmati lagu-lagu mereka, menghafal liriknya, dan merasa itu sudah cukup menggambarkan selera musik saya.

Mendengarkan musik Barat membuat saya merasa memiliki selera yang lebih matang dibanding teman-teman sebaya. Khususnya saat Sekolah Menengah Atas (SMA), ketertarikan pada musik lawas sering kali membuat seseorang dipandang “lebih menarik” dibanding mereka yang mendengarkan lagu-lagu yang sedang populer. Hal itu mendorong saya untuk semakin mengenal musik luar negeri, terutama dari era 1980-an hingga 1990-an. Dengan percaya diri, saya bercerita tentang perjalanan para musisi yang menghadapi krisis karier di sela-sela jam kosong kelas.

Topik itu tidak hanya membangkitkan antusiasme teman-teman, tetapi juga membuat saya semakin yakin untuk terus berada di jalur yang sama. Mereka hampir selalu mengamini cerita yang saya sampaikan, meski saya sendiri kadang ragu apakah kisah itu benar atau hanya sekadar mitos yang beredar.

Namun, semua itu terjadi sebelum saya berkuliah.

Memasuki dunia kampus, saya menyadari bahwa musik Barat era 1980-an bukan lagi penanda utama selera seseorang. Awalnya saya mengira musik telah berevolusi. Ternyata yang tertinggal justru cara saya menikmatinya. Di kampus, musik tidak lagi dinilai dari seberapa langka lagu itu didengar, melainkan dari semangat orang-orang memperkenalkan musisi yang mereka sukai, bahkan ketika lagu tersebut kerap terdengar di berbagai kafe yang saya kunjungi.

Musik pun tidak lagi hidup hanya di playlist pribadi, tetapi berpindah dari satu telinga ke telinga lainnya melalui rekomendasi antarteman.

Sebenarnya, saya sempat tertarik mendengarkan Grrrl Gang. Awalnya karena warna musik mereka mengingatkan saya pada Beach Bunny, salah satu band asal Amerika Serikat yang sudah lebih dulu saya dengarkan. Teman-teman mengetahui ketertarikan saya pada band asal Yogyakarta tersebut sehingga mereka mulai memperkenalkan musisi-musisi lain yang berada dalam lingkaran skena yang sama.

Perlahan, nama-nama seperti Sunbath, Moongazing And Her, The Dare, Drizzly., hingga Uluhara mulai mengisi playlist yang sebelumnya didominasi musisi luar negeri.

Tanpa disadari, saya pun keluar dari lingkaran musik yang selama ini saya dengarkan.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Mayla, adik tingkat saya. Sebelum masuk kampus, ia mengaku lebih sering mendengarkan genre musik yang itu-itu saja. Namun, setelah berinteraksi dengan berbagai orang di lingkungan kampus, referensi musiknya perlahan semakin luas.

“Anak-anak sering banget saling rekomendasi lagu, bahas band lokal, atau tiba-tiba muterin musik yang sebelumnya belum pernah aku dengar,” ujarnya.

Salah satu pengalamannya terjadi ketika ia mulai mengikuti Helicat. Awalnya, ketertarikan itu muncul karena ingin mendukung kakak tingkat dari program studinya yang terlibat dalam band tersebut. Seiring waktu, dukungan itu berkembang menjadi apresiasi yang lebih personal. Ia tidak lagi hanya mendukung orang di balik band tersebut, tetapi juga menikmati musik yang mereka hasilkan dan menantikan karya-karya berikutnya.

Mungkin karena itu pula banyak musisi besar Indonesia lahir dari lingkungan kampus. Band-band seperti The Upstairs, The Panturas, White Shoes & The Couples Company, hingga Jenny menunjukkan bahwa kampus memang bisa menjadi ruang tumbuh bagi musisi. Pada saat yang sama, kampus juga menjadi tempat banyak musisi independen menemukan audiens pertamanya.

Dari situlah saya sadar bahwa kampus tidak hanya melahirkan musisi, tetapi juga membentuk orang-orang yang membuat musik tetap hidup. Kesadaran itu membuat saya percaya bahwa yang menghidupi musik bukan hanya musisinya, melainkan juga para pendengarnya.

Perjalanan itu pun tidak berhenti di kampus.

Setelah menyadari bahwa audiens memiliki peran penting dalam menghidupi musik, saya mulai melihat bagaimana peran tersebut hadir dalam ruang yang lebih luas. Salah satunya melalui festival musik. Bagi saya, festival seperti The Sounds Project bukan sekadar tempat menyaksikan musisi favorit. Festival menjadi ruang yang mempertemukan orang-orang yang menghidupi musik dengan cara mereka masing-masing, termasuk audiens yang tumbuh di lingkungan kampus.

Menariknya, komunitas radio kampus yang pernah saya ikuti sempat bekerja sama dengan The Sounds Project dalam program promosi tiket khusus mahasiswa. Pada kesempatan lain, Gerhana Banyubiru, Founder The Sounds Project yang akrab disapa Mas Ghana, juga hadir sebagai narasumber dalam sebuah talkshow untuk membagikan cerita tentang proses di balik penyelenggaraan salah satu festival musik terbesar di Indonesia.

Pengalaman tersebut membuat saya melihat bahwa komunitas memiliki peran yang jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan. Ruang-ruang semacam itu bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dengan minat yang sama, tetapi juga menjadi penghubung yang mempertemukan musik dengan pendengarnya melalui berbagai cara.

Semua peran itu akhirnya bertemu dalam satu ruang yang sama.

Namun, kontribusi terhadap musik juga tidak selalu hadir melalui kehadiran fisik di sebuah acara.

Di lingkungan kampus, tidak sedikit teman yang menjadi bagian dari skena dengan cara mereka sendiri. Ada yang menulis, memotret, membuat video, hingga mengarsipkan perjalanan musisi-musisi yang sedang berkembang. Tanpa disadari, langkah-langkah sederhana tersebut membantu memperluas jangkauan emerging artist kepada audiens yang lebih besar.

Saya termasuk salah satu yang tertarik pada artikel musik, baik membaca maupun menulis catatan reflektif di ponsel sebelum membagikannya secara personal melalui chat atau Instagram Stories. Bagi saya, tulisan merupakan salah satu cara untuk merawat ekosistem musik.

Dalam konteks itulah, Kolom Kampus oleh Pophariini menjadi semacam jembatan yang memperluas apa yang sebelumnya hanya berputar di lingkup kecil kampus. Program ini bukan hanya menjadi ruang publikasi, tetapi juga menjadi ruang bagi suara-suara dari lingkungan kampus untuk menjangkau lebih banyak orang, baik dari sisi musisi, penulis, maupun audiens yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Saat membaca tulisan-tulisan di Kolom Kampus, rasanya seperti membaca diri sendiri. Banyak mahasiswa yang berbagi pengalaman serupa tentang bagaimana mereka menemukan musik beserta skenanya. Sama seperti saya yang kini mengenal musik bukan lagi sebagai sesuatu yang sekadar didengar, melainkan sesuatu yang dihidupi bersama.

Pada akhirnya, kampus mungkin memang dikenal sebagai tempat lahirnya musisi. Namun, bagi saya, kampus juga menjadi tempat lahirnya audiens musik.

Saya datang ke kampus dengan referensi musik yang terbatas. Namun, kampus memperkenalkan saya pada cara baru menikmati musik. Musik bukan lagi sekadar sesuatu yang didengar, melainkan sesuatu yang dihidupi bersama. Kini saya percaya, kampus bukan hanya melahirkan musisi. Kampus juga melahirkan pendengar, penulis, pengarsip, fotografer, hingga orang-orang yang menjaga musik tetap hidup dengan caranya masing-masing.