◐

Kader HMI Didorong Terjemahkan Gagasan Menjadi Gerakan |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didorong tidak berhenti pada kemampuan melahirkan gagasan, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi gerakan dan kerja organisasi. Kapasitas keilmuan, integritas, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kemampuan membaca perubahan zaman dinilai penting untuk menjaga relevansi kader dalam menjawab persoalan bangsa.

Gagasan tersebut menjadi substansi buku HMI in The Future: Gagasan, Arah Baru, dan Peran Strategis HMI di Indonesia Masa Depan karya Rifyan Ridwan Saleh. Buku itu diluncurkan dalam kegiatan Deklarasi dan Launching Buku di Sadjoe Cafe & Resto, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).

Rifyan menilai HMI tidak cukup hanya mempertahankan tradisi dan kebesaran sejarah organisasi. Kaderisasi perlu menghasilkan generasi yang mampu membaca perubahan sosial dan teknologi sekaligus merumuskan respons terhadap berbagai tantangan kebangsaan.

Menurut dia, gagasan merupakan titik awal, tetapi tidak boleh berhenti sebagai wacana. Pemikiran yang lahir dari kader perlu diterjemahkan melalui gerakan, kerja organisasi, dan proses kaderisasi yang berkelanjutan.

“Yang jauh lebih penting adalah apakah HMI mampu menjadi ruang lahirnya manusia-manusia yang berilmu, berintegritas, berani mengambil tanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” ujar Rifyan dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).

Pembahasan mengenai kualitas kader tersebut mengemuka menjelang Kongres HMI XXXIII di Lampung pada November 2026. Momentum regenerasi kepemimpinan juga membuka pembicaraan mengenai arah organisasi dan kapasitas generasi berikutnya dalam menghadapi perubahan zaman.

Staf Khusus Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) bidang Transformasi Digital dan Penguatan Pelayanan Publik Ilham Akbar Mustafa menilai, tradisi intelektual perlu mendapat ruang lebih besar dalam pembahasan mengenai masa depan HMI. Menurut dia, percakapan menjelang kongres tidak seharusnya hanya berkutat pada mobilisasi politik organisasi.

“Upaya dia untuk menghadirkan karya lewat buku adalah upaya serius untuk menggeser percakapan Kongres HMI, dari sekadar perbincangan mobilisasi politik menuju percakapan substantif terkait pikiran dan gagasan,” ujar Ilham.

Ilham menilai gagasan yang dituangkan secara tertulis juga memungkinkan publik HMI melihat rekam jejak pemikiran seorang kader. Pemikiran tersebut selanjutnya dapat diuji melalui konsistensi antara apa yang ditulis dan dilakukan.

“Kelak, buku ini akan menjadi alat uji bagi Rifyan di masa depan; seberapa konsisten dan komit dia pada apa yang ditulisnya dan pada apa yang dilakukannya,” katanya.

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Esa Unggul Juanda mengatakan, kemampuan melihat masa depan tetap membutuhkan pemahaman terhadap perjalanan organisasi pada masa lalu dan kondisi saat ini. Menurut dia, keduanya menjadi bekal untuk menentukan langkah berikutnya.

“Buku ini sangat relevan dengan zaman. Tetapi kita juga perlu belajar dari masa lalu dan mengamati masa kini. Dari sana kita berangkat untuk merebut masa depan yang lebih baik,” ujar Juanda.

Praktisi hukum Ojak Situmeang juga menyoroti pentingnya keberanian berpikir dan menyampaikan pendapat dalam organisasi. Gagasan, menurut dia, perlu dipersiapkan menjadi gerakan yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

“Bagi saya, HMI in The Future bukan hanya berbicara tentang HMI hari ini, tetapi juga tentang bagaimana gagasan itu dipersiapkan menjadi gerakan dan kemudian diwariskan kepada generasi yang akan datang,” tuturnya.