Jelang Muktamar NU, Cak Imin dan Gus Yahya Saling Serang soal Kepemimpinan PBNU

Cak Imin juga menilai kepengurusan PBNU periode sekarang belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Ia sebelumnya bahkan menyebut periode kepemimpinan saat ini sebagai salah satu yang mengalami kemunduran dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Baca Juga: Mulai Memanas! Gus Yahya Persilakan Cak Imin Maju Jadi Calon Ketua Umum PBNU

Menanggapi kritik tersebut, Gus Yahya menyatakan menghormati pandangan Cak Imin. Namun, ia menilai kritik itu muncul karena Cak Imin dinilai belum memahami secara utuh dinamika internal organisasi NU.

"Silakan saja kalau Pak Muhaimin berpendapat begitu. Mungkin beliau kurang mengerti tentang NU karena selama ini belum pernah menjadi pengurus NU di berbagai tingkatan," ujar Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta.

Menurut Gus Yahya, selama lima tahun terakhir PBNU telah melakukan berbagai pembenahan mendasar yang tidak selalu terlihat oleh publik. Salah satu program yang menjadi fokus adalah digitalisasi tata kelola organisasi, mulai dari tingkat PBNU, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), hingga sebagian Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).

Selain itu, PBNU juga mengembangkan sejumlah program pemberdayaan ekonomi melalui Lembaga Pengembangan Pertanian NU, membangun inisiatif Syariah Global Services (SGS), serta menjalin komunikasi bisnis dan investasi dengan sejumlah mitra internasional, termasuk dari Malaysia.

Pernyataan Gus Yahya kemudian mendapat respons dari Cak Imin melalui akun media sosialnya. Cak Imin menegaskan dirinya memiliki rekam jejak dalam lingkungan NU dan pernah mengemban amanah sebagai Rais Syuriah di tingkat organisasi.

Melalui unggahan tersebut, Cak Imin membantah anggapan bahwa dirinya tidak memahami NU. Ia juga menyatakan kritik yang disampaikannya merupakan bentuk kepedulian terhadap organisasi yang telah membesarkannya.

Di tengah polemik tersebut, Gus Yahya memastikan akan kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU. Ia mengaku ingin menuntaskan berbagai program strategis yang telah dirintis selama periode pertama kepemimpinannya.

"Saya memang hendak mencalonkan lagi karena ingin menyelesaikan agenda-agenda yang sejak awal sudah saya bangun," kata Gus Yahya.

Ia optimistis pelaksanaan Muktamar akan berlangsung kondusif dan bebas dari intervensi pihak luar. Menurutnya, NU memiliki sistem organisasi yang kuat serta mekanisme internal yang mampu menjaga independensi dan integritas proses pemilihan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan NU memiliki banyak kader yang layak memimpin organisasi pada periode mendatang. Menurutnya, siapa pun memiliki kesempatan untuk maju sepanjang memenuhi ketentuan organisasi.

Beberapa nama yang mulai masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU antara lain KH Yahya Cholil Staquf, Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), dan KH Zulfa Mustofa.

Baca Juga: Persiapan Muktamar NU Hampir Rampung, Gus Yahya: Tidak Ada Lagi yang Perlu Dikhawatirkan

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tertinggi organisasi tersebut akan memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, sekaligus membahas berbagai agenda strategis mengenai arah organisasi pada masa mendatang.

Menjelang pelaksanaan Muktamar, PBNU terus mematangkan persiapan administrasi, termasuk penyelesaian surat keputusan kepengurusan wilayah dan cabang sebagai dasar penetapan peserta yang memiliki hak suara.

Hingga pertengahan Juli, ratusan peserta dari PWNU, PCNU, dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) telah masuk dalam tahap verifikasi untuk mengikuti forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut.