Jelang 2 tahun pemerintahan Prabowo, kepuasan publik 79,3 persen
Capaian positif ini menjadi indikator penting bahwa arah kebijakan yang diambil pemerintah berada pada jalur yang tepat untuk memenuhi harapan masyarakat
Jakarta (ANTARA) - Lembaga survei Indonesia Network Election Survey (INES) melaporkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjelang dua tahun pemerintahan mencapai 79,3 persen.
Direktur Eksekutif INES Andri Gunawan mengatakan survei tersebut dilakukan untuk membaca pendapat masyarakat Indonesia terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo menjelang dua tahun masa pemerintahan.
"Mencatatkan tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo sebesar 79,3 persen," kata Andri dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Baca juga: Prabowo apresiasi Rahmat Erwin yang pecahkan rekor dunia dan ASEAN
Sementara itu, sebanyak 17,4 persen responden menyatakan kurang atau tidak puas terhadap kinerja Prabowo, sedangkan 3,3 persen lainnya tidak memberikan jawaban.
Selain tingkat kepuasan, survei juga mencatat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Presiden Prabowo mencapai 82,1 persen. Sebanyak 16,5 persen responden menyatakan kurang atau tidak percaya, sementara 1,4 persen tidak menjawab.
Andri menyampaikan tingginya tingkat kepuasan dan kepercayaan tersebut turut tercermin dari penilaian masyarakat terhadap keberanian, ketegasan, serta kecepatan pemerintah dalam mengeksekusi program-program yang dinilai pro-rakyat.
Sebanyak 78,2 persen responden mengapresiasi keberanian, ketegasan, serta kecepatan eksekusi program-program pro-rakyat yang digulirkan pemerintah. Sebanyak 16,9 persen menyatakan kurang atau tidak puas, sedangkan 3,9 persen tidak menjawab.
"Capaian positif ini menjadi indikator penting bahwa arah kebijakan yang diambil pemerintah berada pada jalur yang tepat untuk memenuhi harapan masyarakat," ujar Andri.
Baca juga: Menpora: Perhatian presiden kepada atlet jadi suntikan semangat
Namun, survei tersebut juga menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah pemerintah, terutama di sektor ekonomi. Tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintah di sektor ekonomi tercatat 50,8 persen, sementara 45,1 persen responden menyatakan kurang puas dan 4,1 persen tidak menjawab.
Menurut Andri, kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dan lesunya sektor ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Tantangan serupa terlihat dalam persoalan lapangan kerja dan harga kebutuhan pokok. Sebanyak 50,7 persen responden menyatakan kurang puas terhadap penanganan sulitnya mencari lapangan kerja.
Sementara itu, sebanyak 54,8 persen responden mengeluhkan tingginya harga kebutuhan pokok.
Adapun untuk penanganan kemiskinan, sebanyak 68,2 persen responden menyatakan puas dan cukup puas. Sementara pada program kesejahteraan sosial dan bantuan sosial, tingkat kepuasan mencapai 78,7 persen.
Baca juga: Prabowo tegaskan hormat kepada pakar
Dalam bidang diplomasi, sebanyak 80,3 persen responden menyatakan puas dan percaya terhadap strategi diplomasi Presiden Prabowo yang membawa agenda penguatan ekonomi Indonesia sebagai prioritas dalam berbagai lawatan ke luar negeri.
Sebanyak 16,4 persen menyatakan tidak puas dan tidak percaya, sedangkan 3,3 persen tidak menjawab.
Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mendapatkan dukungan kuat dari masyarakat. Sebanyak 78,2 persen responden menyatakan setuju agar program tersebut dilanjutkan. Sebanyak 18,4 persen tidak setuju program dilanjutkan dan 3,4 persen tidak menjawab.
Andri menilai tingginya dukungan tersebut menunjukkan program MBG memiliki relevansi dengan kebutuhan dasar masyarakat di berbagai lapisan.
Survei INES dilakukan pada September 2026 di 36 provinsi dengan jumlah responden sebanyak 1.400 orang. Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error sebesar kurang lebih 2,48 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Baca juga: Prabowo: Korporasi wajib patuhi regulasi penanganan karhutla
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.