Israel Kena Batunya, Krisis Air Bersih Diduga Gegara Hancurkan Gaza
Jakarta, CNN Indonesia --
Israel menghadapi gangguan pada pasokan air setelah ledakan pertumbuhan alga terjadi di sepanjang pantai Mediterania.
Menurut laporan media Israel, Ynet, limbah domestik yang tidak diolah dari Gaza diduga menyebabkan ledakan alga besar-besaran. Hal ini mengakibatkan penutupan lima dari enam pabrik desalinasi utama Israel di Mediterania.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, para ilmuwan masih menyelidiki dampak lingkungan dari fenomena tersebut, demikian laporan media Israel.
Dikutip perusahaan air nasional Israel, Mekorot, CNN melaporkan pertumbuhan alga mengganggu sejumlah fasilitas desalinasi yang memasok sebagian besar kebutuhan air minum Israel.
Desalinasi menyediakan setidaknya 65 persen air minum negara tersebut, sebagian besar instalasi berlokasi di pesisir.
"Peristiwa seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di Israel. Ini adalah peristiwa yang sangat langka," kata juru bicara Mekorot, Lior Gutman.
Lima dari enam pabrik desalinasi utama Israel, termasuk Ashkelon, Ashdod, Palmachim, Sorek A, dan Sorek B, ditutup sementara.
Otoritas air Israel mengatakan sektor air masih berada dalam kondisi stabil.
Pemerintah meningkatkan pasokan dari Danau Galilea, sumur air tanah, dan waduk. Otoritas juga membatasi sebagian penggunaan air untuk irigasi pertanian dan fasilitas publik.
Namun, kondisi ini menunjukkan kerentanan Israel terhadap gangguan lingkungan karena tingginya ketergantungan pada fasilitas desalinasi yang berada di sepanjang pesisir.
Limbah dari puing-puing Gaza
Sistem pengolahan air limbah di Gaza mengalami kerusakan parah selama perang.
Menurut angka yang dikutip Ynet dan otoritas Palestina, sekitar 40 ribu meter kubik air limbah yang tidak diolah mengalir ke laut setiap hari.
Menurut kepala Laboratorium Perubahan Iklim Universitas Ben-Gurion, Avner Gross, pertumbuhan alga yang cepat membutuhkan air hangat dan nutrisi, seperti fosfor dan nitrogen.
Gross mengatakan citra satelit menunjukkan kondisi perairan yang dipenuhi alga serupa di sekitar Delta Nil, Mesir. Wilayah tersebut menerima limpasan pertanian yang mengalir ke Laut Mediterania.
"Dalam kasus kami, saat ini saya tidak memiliki penjelasan lain kecuali sumber polusi di Jalur Gaza selatan," kata Gross kepada Ynet.
Dalam unggahannya di X, Gross menyebut pemanasan global telah membuat kondisi Laut Mediterania menjadi "bak mandi di bulan Agustus".
"Tambahkan polusi fosfor dan nitrogen, dan Anda akan mendapatkan ledakan alga yang mematikan," tulis Gross.
"Secara kebetulan, beberapa hari terakhir ini terjadi angin lemah dan stabil yang mencampur pupuk dari limbah di sepanjang pantai Israel. Sebuah badai yang sempurna," tambahnya.
Kepala eksekutif organisasi lingkungan Israel Zalu, Noga Armi, menilai limbah dari kehancuran Gaza dapat berkontribusi terhadap fenomena tersebut.
"Hubungan ilmiahnya sudah terbukti dengan baik. Limbah kotoran yang tidak diolah yang dibuang ke laut dari Gaza adalah salah satu faktor yang berkontribusi terhadap insiden tersebut," kata Armi kepada Roya News.
Penyebab masih diperdebatkan
Meski demikian, tidak semua ilmuwan sepakat bahwa limbah dari Gaza menjadi penyebab utama ledakan alga tersebut.
Ahli ekologi kelautan di Institut Oseanografi Nasional Israel, Tamar Guy-Haim, mengatakan kemungkinan limbah dari Gaza menjadi pendorong utama fenomena tersebut relatif rendah, seperti dilaporkan Middle East Eye.
Organisme penyebab ledakan alga sebagai sianobakteri dari genus Synechococcus. Namun, spesies pasti dan alasan pertumbuhannya yang tiba-tiba masih dalam penyelidikan.
Para ilmuwan juga mempertimbangkan sejumlah faktor lain, seperti suhu Laut Mediterania yang meningkat, paparan sinar matahari yang kuat, arus laut, serta badai yang membuat air menjadi lebih keruh.
Peneliti di Lembaga Penelitian Oseanografi dan Limnologi Israel, Or Bialik, mengatakan kondisi tersebut belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Saya telah bekerja di Laut Mediterania untuk waktu yang lama dan belum pernah melihat hal seperti ini," kata Bialik kepada Haaretz.
"Airnya berwarna hijau seperti danau. Kekeruhannya sangat tinggi sehingga Anda tidak dapat melihat instrumen Anda setelah setengah meter," lanjutnya.
Menurut para peneliti yang dikutip CNN dan Haaretz, fenomena tersebut pertama kali muncul di sekitar Delta Nil, kemudian bergerak ke utara mengikuti arus laut.
Peneliti air di Universitas Ben-Gurion, Edo Bar-Zeev, memperingatkan fenomena serupa dapat semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya suhu Laut Mediterania akibat perubahan iklim.
"Bisa dipastikan bahwa ini bukan peristiwa sekali seumur hidup... Anda bisa berasumsi bahwa ini akan terjadi semakin sering akibat perubahan iklim," katanya kepada CNN.
Para ilmuwan belum mengidentifikasi penyebab pastinya.
Berbagai penjelasan yang saling bertentangan untuk fenomena ini meliputi pemanasan laut, arus alami, polusi dari Delta Nil, limbah yang tidak diolah dari Gaza, atau kombinasi dari faktor-faktor lingkungan.
(mge/bac)