Intip Strategi Asuransi Asei untuk Tekan Rasio Klaim
ILUSTRASI. Asuransi Asei terapkan strategi untuk pengendalian klaim secara end-to-end, mulai dari tahap underwriting sampai penyelesaian klaim (KONTAN/Arif Ferdianto)
Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia menerapkan sejumlah strategi untuk menekan rasio klaim. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan, strategi untuk menekan rasio klaim dilakukan melalui pengendalian klaim secara end-to-end, mulai dari tahap underwriting sampai penyelesaian klaim.
Dody menjelaskan beberapa langkah utamanya, yakni memperkuat kualitas underwriting dengan melakukan seleksi risiko secara lebih prudent dengan memperhatikan profil risiko, historical loss experience, exposure, nilai pertanggungan, akumulasi risiko, serta kualitas mitigasi yang dimiliki tertanggung.
Selain itu, dia mengatakan pihaknya juga memperbaiki risk-based pricing melalui penetapan premi yang diarahkan agar sesuai dengan tingkat risiko.
Baca Juga: Ciputra Life Ungkap Peluang Kenaikan Hasil Investasi Masih Terbuka hingga Akhir Tahun
"Portofolio dengan pengalaman klaim yang tinggi perlu mendapatkan penyesuaian terms, deductible, limit, maupun pricing. Dengan demikian, premi lebih mencerminkan expected loss dan biaya risiko," ujarnya kepada Kontan, Senin (31/8/2026).
Dody menambahkan, upaya lain yang dilakukan adalah memperkuat monitoring portofolio agar tidak hanya melihat rasio klaim secara agregat, tetapi melakukan monitoring berdasarkan produk, segmen nasabah, wilayah, jenis risiko, penyebab klaim, frekuensi, dan severity. Dengan demikian, dia bilang potensi deteriorasi portofolio dapat dideteksi lebih dini.
Dody mengatakan pihaknya juga memperkuat claims management dengan mengarahkan proses klaim agar cepat, tepat, dan tetap sesuai dengan ketentuan polis. Salah satunya dengan memperkuat proses verifikasi, assessment, investigasi apabila diperlukan, serta pengendalian leakage atau pembayaran klaim yang tidak semestinya.
Tak cuma itu, Asei juga mengoptimalkan program reasuransi, karena menjadi bagian penting dalam mengelola akumulasi dan severity risiko, terutama untuk risiko-risiko dengan potensi kerugian besar. Dody menyebut dengan struktur reasuransi yang tepat, volatilitas klaim terhadap kinerja perusahaan dapat dikelola dengan lebih baik.
Baca Juga: Produk Tradisional Jadi Penyumbang Premi Terbesar Asuransi Jiwa pada Semester I-2026
Upaya Asei lainnya, yaitu memperkuat early warning system. Dody menjelaskan, data klaim digunakan bukan hanya untuk membayar kerugian, melainkan juga sebagai feedback bagi underwriting. Dia menyebut pola klaim yang meningkat pada suatu segmen menjadi dasar untuk melakukan review terhadap appetite, terms and conditions, pricing, maupun strategi akuisisi bisnis.
Dody mengatakan pihaknya juga mendorong loss prevention dan risk mitigation agar pengendalian klaim dimulai sebelum klaim terjadi. Oleh karena itu, dia menyampaikan perusahaan terus mendorong mitigasi risiko melalui risk survey, rekomendasi perbaikan, monitoring objek pertanggungan, serta edukasi kepada tertanggung sesuai karakteristik risikonya.
"Intinya, strategi yang dilakukan bukan sekadar menekan pembayaran klaim, melainkan menjaga agar klaim yang dibayarkan benar-benar merupakan klaim yang legitimate, sesuai polis, dan sekaligus memastikan risiko yang diterima sejak awal memang memiliki pricing dan terms yang memadai," tuturnya.
Baca Juga: AXA Mandiri: Prospek Unitlink Masih Cukup Positif hingga Akhir 2026
Dengan pendekatan tersebut, Dody meyakini perusahaan dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan premi, kualitas underwriting, kesehatan rasio klaim, dan pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Dia bilang pendekatan itu juga menjadi makin penting di tengah kondisi industri asuransi umum yang pada semester I-2026 masih menghadapi tekanan pertumbuhan premi.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs resmi, Asei mencatatkan premi bruto sebesar Rp 522,52 miliar per Juli 2026. Adapun klaim bruto mencapai Rp 522,06 miliar per Juli 2026.
Sementara itu, Asei berhasil mencetak laba sebesar Rp 5,88 miliar per Juli 2026. Adapun tingkat Risk Based Capital (RBC) sebesar 179,08%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag