Indonesia--Tiongkok perkuat kolaborasi mendukung perikanan berkelanjutan - ANTARA News Megapolitan
Jakarta (ANTARA) - Upaya mendorong perikanan yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas negara, sektor, dan masyarakat. Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam “Blue Miracle of Ocean Development – China–Indonesia Friendship Story Sharing Event” yang mempertemukan pemangku kepentingan Indonesia dan Tiongkok di Shenzhen, pada 1 September 2026.
Dalam forum yang merupakan bagian dari rangkaian kerja sama Indonesia–Tiongkok untuk mendorong kerja sama dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, Marine Stewardship Council (MSC) Tiongkok dan MSC Indonesia berbagi pengalaman mengenai bagaimana program MSC mendukung transformasi menuju perikanan yang lebih berkelanjutan di kedua negara, sekaligus mengeksplorasi peluang kolaborasi di bidang kelautan dan perikanan.
Perwakilan MSC Tiongkok memaparkan perkembangan dan pengalaman Tiongkok dalam mendorong praktik perikanan berkelanjutan, sementara MSC Indonesia berbagi perjalanan pengembangan MSC Improvement Program (IP) serta pengalaman perikanan Indonesia dalam meningkatkan kinerja keberlanjutan, mulai dari penguatan data dan tata kelola hingga peningkatan praktik penangkapan ikan.
Membuka peluang bagi perikanan untuk terus berkembang Di Indonesia, MSC Improvement Program menjadi salah satu pendekatan untuk
mendukung perikanan yang sedang melakukan perbaikan menuju praktik perikanan yang lebih berkelanjutan.
Program ini mendorong kolaborasi antara nelayan, pemerintah, ilmuwan, organisasi masyarakat sipil, dan pelaku usaha untuk
mengidentifikasi kesenjangan, memperkuat data dan tata kelola, serta melakukan perbaikan yang terukur.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa transformasi keberlanjutan dapat dilakukan oleh berbagai jenis perikanan, termasuk perikanan skala kecil. Salah satu contohnya adalah Umar Papalia, nelayan tuna sirip kuning dari Buru, Maluku.
Setelah mengalami kondisi tangkapan yang semakin sulit dan harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan, Umar melihat pentingnya menjaga keberlanjutan perikanan yang menjadi sumber penghidupannya.
Bersama nelayan lainnya serta berbagai pemangku kepentingan, Umar terlibat dalam upaya memperkuat data, meningkatkan praktik penangkapan ikan, dan mendukung pengelolaan perikanan yang lebih baik. Setelah melalui proses perbaikan selama bertahun-tahun, perikanan tuna sirip kuning dengan metode handline di Buru berhasil memenuhi MSC Fisheries Standard pada 2020.
Hirmen Syofyanto, Direktur Program MSC Indonesia menyampaikan dalam forum: “Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa perjalanan menuju perikanan berkelanjutan dapat dimulai dari tingkat lokal, termasuk dari nelayan skala kecil seperti Umar.
Kisah ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya mungkin dicapai oleh perikanan skala besar. Perikanan skala kecil juga dapat menjadi bagian dari solusi ketika nelayan mendapatkan dukungan, akses terhadap pengetahuan dan data, serta kesempatan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Melalui kolaborasi antara nelayan, pemerintah, ilmuwan, pelaku usaha, dan berbagai mitra, perbaikan yang nyata dapat dilakukan.
Pertemuan ini menjadi kesempatan penting untuk berbagi pembelajaran tersebut dengan Tiongkok dan mitra APEC lainnya, sekaligus melihat bagaimana kerja sama regional dapat membuka lebih banyak peluang bagi perikanan berkelanjutan di kawasan.”
Dari pengalaman lokal menuju pembelajaran regional Pertukaran pengalaman antara MSC Tiongkok dan MSC Indonesia dalam forum ini juga membuka ruang untuk melihat bagaimana pengalaman kedua negara dapat saling melengkapi.
Indonesia dan Tiongkok memiliki sektor kelautan dan perikanan yang penting bagi perekonomian serta masyarakat pesisir masing-masing. Keduanya juga memiliki hubungan perdagangan seafood yang erat.
Karena itu, penguatan kerja sama di bidang keberlanjutan dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi pengelolaan sumber daya laut, tetapi juga bagi rantai pasok seafood yang lebih bertanggung jawab dan transparan.
Bagi Indonesia, forum ini menjadi kesempatan untuk membawa pengalaman pengembangan perikanan berkelanjutan di tingkat nasional ke dalam percakapan regional, sekaligus membuka peluang untuk belajar dari pengalaman Tiongkok.
Kerja sama ke depan dapat mencakup berbagai bidang, antara lain pengembangan perikanan berkelanjutan, pertukaran pengetahuan dan pengalaman, peningkatan kapasitas, penguatan traceability, serta pengembangan hubungan antara perikanan berkelanjutan dan pasar seafood.
Acara ini mendapat arahan oleh China International Communications Group (CICG), Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tiongkok, serta diselenggarakan oleh China Foreign Languages Publishing Administration/China Foreign Languages Publishing and Distribution Bureau, First Institute of Oceanography Ministry of Natural Resources, dan Publicity and Education Center of the Ministry of Natural Resources.
Pertemuan ini juga didukung oleh Shenzhen Municipal Ocean Development Bureau, CITIC Urban Development & Operation Co., Ltd., Shenzhen Ocean Development Promotion Center, serta Jinkong Community, Nanyuan Subdistrict, Futian District Ke depan, pendekatan ini akan dikembangkan dalam kerja sama antara komunitas di Tiongkok dan Indonesia, sehingga konservasi laut tidak hanya menjadi agenda bersama di tingkat pemerintah atau institusi, tetapi juga menjadi ruang interaksi yang nyata bagi masyarakat kedua negara.
Bagi MSC, kesempatan ini juga menunjukkan pentingnya membangun jembatan antara kebijakan, ilmu pengetahuan, industri, dan masyarakat karena keberlanjutan laut membutuhkan kolaborasi lintas negara dan lintas sektor.
Pewarta: Pewarta BPJ
Editor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.