Indonesia Bidik Jadi Pemimpin Diplomasi Kehutanan Dunia, Ini Strateginya
Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:48 WIB
Jakarta, VIVA - Diplomasi publik dan negosiasi internasional diperkuat Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI. Hal itu merupakan strategi guna memperkokoh posisi Indonesia dalam tata kelola kehutanan global, serta memimpin diplomasi kehutanan internasional.
Baca Juga
"Indonesia memiliki hutan tropis yang luas, mangrove terluas di dunia, kekayaan biodiversitas yang luar biasa, serta berbagai praktik baik dalam pengelolaan hutan lestari. Namun seluruh capaian tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak mampu dikomunikasikan secara efektif kepada dunia. Produk yang baik harus dikenal, dipercaya, dan direkomendasikan," tutur Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi, Kamis, 6 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ristianto mengatakan hal ini pasca pihaknya menggelar Public Diplomacy and Negotiation Training (Beginner Cohort) di Bandung, Jawa Barat, pada 4-5 Agustus 2026. Pelatihan itu diselenggarakan kolaborasi Kemenhut bersama Multistakeholder Forestry Programme Phase 5 (MFP5) dengan dukungan International Institute for Sustainable Development (IISD) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Baca Juga
Katanya, langkah penguatan diplomasi dilakukan sejalan dengan arah kebijakan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni yang mendorong Indonesia bukan cuma jadi penjaga hutan tropis dunia, tapi tampil jadi pemimpin dalam diplomasi kehutanan internasional.
Penguatan diplomasi, lanjutnya, dinilai semakin penting agar berbagai keberhasilan Indonesia dalam pengelolaan hutan lestari tidak hanya diakui, tetapi juga dipercaya dan menjadi rujukan dunia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, serta pembangunan ekonomi hijau.
Baca Juga
Mengacu pada visi Presiden Prabowo Subianto, jelasnya, Menhut Raja Juli Antoni ingin penguatan diplomasi kehutanan menjadi salah satu prioritas untuk memperluas kemitraan internasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam berbagai forum global.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ristianto menambahkan setiap aparatur negara yang terlibat dalam forum internasional merupakan diplomat bagi bangsanya. Karena itu keberhasilan diplomasi Indonesia ditentukan oleh kemampuan seluruh unsur pemerintah menyampaikan pesan nasional yang konsisten, kredibel, berbasis data, dan mampu membangun kepercayaan.
Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, lanjutnya, Indonesia tidak hanya berkepentingan menjaga kelestarian hutannya, tetapi juga aktif menawarkan praktik terbaik, inovasi kebijakan, dan kerja sama internasional untuk mendukung pencapaian target iklim global, konservasi keanekaragaman hayati, serta pembangunan berkelanjutan.
Halaman Selanjutnya
Untuk itu Ristianto menggarisbawahi empat agenda strategis kehutanan Indonesia yang memerlukan dukungan diplomasi publik yang kuat, yaitu memperluas pengakuan internasional terhadap Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK+) dan memperkuat International Tropical Peatland Center (ITPC) sebagai wadah kerja sama pengelolaan gambut tropis.