IHSG Hari Ini Melonjak 1,36 Persen, Bursa Asia Hijau Gara-gara The Fed
Senin, 5 Oktober 2026 - 17:47 WIB
Jakarta, VIVA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada perdagangan Senin (5/10/2026). Penguatan IHSG mengikuti tren positif bursa saham kawasan Asia yang terdorong ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat lebih dovish pada pertemuan The Fed Oktober 2026.
Baca Juga
IHSG ditutup naik 81,97 poin atau 1,36 persen ke posisi 6.118,86. Penguatan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang naik 7,77 poin atau 1,30 persen ke posisi 603,23.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Bursa regional Asia bergerak menguat seiring dengan data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah mendorong dan mengurangi tekanan pada The Fed untuk terus memperketat kebijakan moneter,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Baca Juga
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat menjadi salah satu sentimen utama yang diperhatikan pasar. Pada September 2026, AS hanya mencatat penambahan 29.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan peningkatan sebanyak 90.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran AS juga naik menjadi 4,2 persen. Sementara itu, pertumbuhan upah tahunan secara tidak terduga melambat menjadi 3,0 persen.
Baca Juga
Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut. Pasar kemudian memperkirakan bank sentral AS berpeluang mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober 2026.
“Namun demikian, pasar juga berhati-hati seiring dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia yang masih tinggi,” ujar Nico.
Dari dalam negeri, pergerakan IHSG masih dibayangi sejumlah sentimen. Nico mengatakan tekanan terhadap rupiah, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi, serta harga minyak dunia yang masih berada di level tinggi menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun turun menjadi sekitar 5,25 persen, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun bergerak turun menuju 5,6 persen. Meski menurun, kedua imbal hasil tersebut masih berada pada level yang tinggi.
Harga minyak dunia juga masih menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut berlangsung di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih berlanjut.
Halaman Selanjutnya
"Alhasil ada kekhawatiran mengenai kerentanan eksternal Indonesia, meskipun surplus perdagangan Agustus 2026, dengan risiko inflasi meningkat setelah inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen, mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen,” ujar Nico.