Harga Minyak Turun Usai Trump Nyatakan Tak Akan Serang Iran Sebelum Pemilu Sela - Energi Katadata.co.id
Harga minyak dunia turun setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak akan menyerang Iran menjelang pemilu sela pada November. Pemilu sela AS dijadwalkan berlangsung pada 3 November, atau sekitar tiga pekan lagi.
Harga Brent turun 0,8% menjadi US$ 103,43 per barel pada pukul 09.41 waktu Singapura. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,7% menjadi US$ 90,81 per barel.
Trump mengatakan dalam sosial medianya bahwa ada diskusi produktif antara AS dan Iran. Keputusan Trump untuk menunda serangan baru diambil meskipun Teheran meningkatkan serangan di Selat Hormuz.
Kondisi ini meningkatkan risiko bagi kapal-kapal yang mengangkut minyak mentah ke pasar global. Trump juga mengatakan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap berlaku sepenuhnya.
Setelah pernyataan Trump, The New York Times melaporkan bahwa AS telah menyusun rencana untuk melakukan serangan selama tiga hari. Surat kabar tersebut menyebutkan bahwa Pentagon telah menyiapkan rencana untuk menyerang persenjataan drone dan rudal, fasilitas energi, serta lokasi lainnya.
Para awal Oktober ini, harga minyak mentah bergerak fluktuatif seiring berlanjutnya perang AS-Iran. Kontrak berjangka minyak terpengaruh oleh peningkatan aliran minyak dari Timur Tengah, bertambahnya serangan terhadap kapal, serta ketatnya pasokan di pasar produk minyak.
Dampak dari lonjakan tarif angkutan laut, serta kembali pecahnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Teheran, semakin menambah dinamika yang saling memengaruhi di pasar.
Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan beberapa “ledakan besar” terjadi di Hormuz pada Kamis (8/10) malam ketika kapal-kapal tanker minyak yang berusaha melewati jalur selatan selat tersebut terkena ranjau. Laporan itu mengutip sumber militer yang tidak disebutkan identitasnya. Belum ada konfirmasi independen atas laporan tersebut.
AS Kerahkan Kapal Induk Tambahan ke Teluk Persia
Pada akhir bulan lalu, Pentagon mengerahkan kapal induk tambahan serta 10.000 personel yang terdiri atas pelaut dan marinir ke Teluk Persia. Langkah tersebut memperkuat keberadaan dua kapal induk yang sudah berada di kawasan itu dan memberikan lebih banyak pilihan kepada para komandan jika Trump memutuskan melancarkan serangan baru.
Dalam unggahannya, Trump mengatakan sebanyak 22 juta barel minyak telah melewati Hormuz hanya dalam satu malam. Angka tersebut, melampaui total harian normal sebelum perang dan lebih tinggi dibandingkan perkiraan para eksekutif industri.
“Risiko eskalasi militer lebih lanjut dapat mengganggu aliran tersebut. Hal ini membuat para pedagang enggan meningkatkan posisi jual secara agresif dan mengambil posisi untuk mengantisipasi penurunan berkelanjutan di bawah US$ 100. Pasar masih bergerak dua arah, dengan premi risiko geopolitik bersaing dengan dinamika pasokan fisik yang semakin membaik,” kata Kepala Riset Pepperstone Group Ltd, Chris Weston, dikutip dari Bloomberg, Jumat (9/10).
Lonjakan tarif angkutan laut yang bersejarah akibat dampak perang menambah biaya yang sangat besar pada rantai pasok minyak bumi. Biaya pengangkutan minyak mentah dari Teluk Persia ke Asia Timur kini lebih dari enam kali lipat dibandingkan sebelum konflik.