Harga Minyak Membara Lagi, Selat Hormuz Kini Jadi Lautan "Hantu"
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kembali menanjak dipicu serangan terhadap kapal tanker dan minimnya kemajuan dalam kesepakatan perdamaian antara pemerintahan Donald Trump dan pemimpin Iran.
Dilansir dari Refinitiv, pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (14/8/2026), harga minyak Brent ditutup di US$88,52 per barel, naik US$1,45 atau 1,67%. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di US$82,40 per barel, naik US$1,15 atau 1,42%.
Dalam sepekan, harga minyak brent menguat 5,9% pada pekan ini. Sementara itu, harga minyak WTI melonjak 5,4% pekan ini.
Kenaikan ini memutus tren pelemahan yang terjadi dalam dua pekan beruntun sebelumnya.
"Kenaikan harga terjadi setelah adanya serangan baru terhadap kapal tanker dan tidak adanya kemajuan dalam kesepakatan gencatan senjata," kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, kepada Reuters.
Menurut Lipow, "hari perhitungan" bisa terjadi jika lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap terbatas. Selat tersebut merupakan jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.
"Harga minyak mentah mungkin US$80 per barel, tetapi harga diesel US$180 per barel dan bensin US$130 per barel. Inilah yang berdampak langsung kepada konsumen," ujar Lipow.
Pada Kamis, AS mengatakan dapat mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu dan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran sebagai respons atas mandeknya perundingan gencatan senjata.
AS & Iran Saling Klaim Kendali Selat Hormuz
Dikutip daru Reuters, ketika AS dan Iran saling mengklaim kendali atas Selat Hormuz, lalu lintas kapal melalui jalur tersebut turun di bawah rata-rata bulanan.
Sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Dua kapal milik perusahaan energi negara Uni Emirat Arab, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), diserang ketika melintasi selat tersebut pada Kamis. Kantor berita pemerintah UEA, WAM, menyebut pemerintah UEA mengecam insiden tersebut sebagai serangan Iran.
"Itulah berita utama yang mendorong harga naik: kapal tanker diserang," kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.
Ekspor minyak mentah Rusia dari terminal Sheskharis di pelabuhan Novorossiysk, Laut Hitam, juga dihentikan sementara pada Jumat setelah serangan drone. Menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut, gangguan ini menambah tekanan pada salah satu jalur ekspor utama Rusia.
Flynn mengatakan serangan Ukraina terhadap pelabuhan Novorossiysk turut mendorong kenaikan harga minyak.
Di tengah terbatasnya pasokan dari Timur Tengah, proyeksi OPEC menunjukkan pertumbuhan permintaan yang lebih lemah. Sementara itu, persediaan minyak mentah AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari 3,5 tahun.
"Laporan IEA dan EIA pekan ini cukup mengungkapkan. Persediaan ternyata jauh lebih kuat dari yang dikhawatirkan, sehingga seharusnya mendorong harga minyak turun," kata Norbert Rucker, Kepala Ekonomi dan Next Generation Research di Julius Baer.
IEA merupakan International Energy Agency, sedangkan EIA adalah Energy Information Administration AS.
IEA banyak digunakan ketika membahas prospek energi dunia, transisi energi, kendaraan listrik, permintaan minyak, gas, batu bara, hingga energi terbarukan. Sementara EIA lebih sering menjadi rujukan untuk produksi minyak AS, persediaan minyak, ekspor-impor energi, konsumsi BBM, harga minyak dan gas, serta data energi global.
Iran meminta AS mengakui kekalahan, sementara Presiden Donald Trump menyebut Iran sebagai negara jahat dan meminta masyarakat Amerika bersiap menghadapi harga bahan bakar yang tetap tinggi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa AS dan Iran masih sangat jauh dari kesepakatan damai. Perundingan perdamaian dan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz juga masih terhenti.
"Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup atas perintah Iran. Selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan dan terus menikmati khayalan, Iran akan terus menegakkan blokade," kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi dalam unggahan di X pada Sabtu pagi.
"Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya dengan sebuah cuitan atau kapal induk, dengan mengeluarkan perintah atau menyampaikan pidato kampanye," ujarnya.
Sebelum AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, sekitar 1 dari setiap 5 barel minyak yang diekspor dunia melewati Selat Hormuz.
Pada Jumat, Trump meminta masyarakat AS menerima kenaikan harga bensin yang sedikit lebih tinggi selama konflik dengan Iran berlanjut.
Dalam kampanye politik di Garden City, New York, Trump mengatakan membayar "sedikit lebih mahal untuk bensin" sepadan demi memastikan "negara yang sangat jahat" tidak memiliki senjata nuklir. Hal tersebut menjadi salah satu alasan yang dikemukakan Trump untuk perang.
Kenaikan harga bahan bakar juga menambah tekanan terhadap inflasi dan berpotensi menjadi isu politik. Menurut American Automobile Association (AAA), harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar US$4,08 per galon pada Jumat, naik 29% dari US$3,16 setahun sebelumnya.
Hormuz Sepi Bak Lautan "Hantu",
Menurut analisis perusahaan pelacak kapal Kpler, hanya dua kapal yang melewati Selat Hormuz pada Jumat. Salah satunya kapal pengangkut biji-bijian yang masuk ke perairan Iran, sementara satu kapal curah kosong bergerak ke arah sebaliknya.
Ada pula satu kapal tanker kosong pengangkut produk gas minyak cair yang memasuki kawasan Teluk melalui selat tersebut. Namun, tidak terlihat adanya pengiriman minyak mentah.
Sebagian kapal mungkin masih melintasi selat tanpa terdeteksi karena mematikan transponder. Namun, jumlah tersebut masih sangat jauh dari lebih dari 130 kapal per hari yang melintasi Selat Hormuz sebelum perang.
Jumlah kapal tanker lewati Selat Hormuz Foto: CNBC
Kapal-kapal yang berani melewati selat tanpa izin Iran berisiko terkena serangan rudal atau drone.
ADNOC mengatakan dua kapalnya diserang saat melintasi selat pada Kamis malam. Pada Jumat, kantor berita WAM kembali melaporkan kapal lainnya juga mendapat serangan.
Iran menyebut pengendalian lalu lintas di Selat Hormuz sebagai blokade, sementara AS menggunakan istilah yang sama untuk ancamannya terhadap kapal-kapal Iran yang meninggalkan pelabuhan.
"Apa yang kami lakukan adalah sebuah pelayanan besar bagi dunia, bukan hanya untuk diri kami sendiri... dan kami benar-benar melakukan pekerjaan yang luar biasa," kata Trump.
Ia juga mengatakan pengerahan kapal induk AS selama 260 hari untuk mendukung perang "sama sekali belum cukup lama."
Dampak Ekonomi Mulai Terasa
Kesepakatan sementara pada Juni untuk mengakhiri perang kini runtuh, dan belum ada tanda AS maupun Iran akan kembali ke meja perundingan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan belum ada keputusan untuk melanjutkan negosiasi dengan AS. Qatar dan Pakistan sebagai mediator memang masih berkomunikasi dengan Iran dan bertukar pesan, tetapi hal tersebut belum dapat disebut sebagai perundingan.
Kenaikan harga bahan bakar berbenturan dengan janji kampanye Trump untuk menurunkan biaya energi. Partai Demokrat juga mulai berupaya menjadikan dampak ekonomi perang Iran sebagai isu dalam pemilu paruh waktu AS pada November.
Gharibabadi mengatakan Teheran tidak akan terintimidasi oleh ancaman maupun unjuk kekuatan militer. Namun, tanda-tanda dampak ekonomi terhadap Iran mulai terlihat.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, menyalahkan inflasi tinggi pada blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.
Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent sama-sama berjanji meningkatkan tekanan finansial terhadap Iran. Bessent mengatakan pengumuman mengenai langkah-langkah tambahan terhadap Iran akan disampaikan pekan depan.
Serangan terbaru yang dilakukan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai meluasnya perang di kawasan.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan Houthi menembakkan enam rudal balistik ke pelabuhan Mocha di Laut Merah pada Jumat, menewaskan empat warga sipil.
(mae/mae)