◐

Hanya 15 Saham Menguat, IHSG Akhir Sesi I Anjlok 10,7%

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ada di zona merah pada penutupan perdagangan sesi I Jumat (16/10/2026). IHSG berada di level 5.233,00, turun 630,78 poin atau 10,76%.

IHSG telah jatuh pada saat pembukaan perdagangan di level 5.393,92 atau melemah 8,01% pada pukul 09.00 WIB, lalu sempat menyentuh titik terendah hari ini di 5.193,22. Level tertinggi tercatat di 5.404,51,

Total volume perdagangan tercatat 380,08 juta lot dengan nilai transaksi Rp16.508,81 miliar atau sekitar Rp16,51 triliun.


Sepanjang perdagangan hari ini, hanya 15 saham yang menguat sementara 809 saham melemah,dan 139 saham tak bergerak.

Penyebab, jatuhnya IHSG hingga siang hari ini disebabkan oleh sektor infrastruktur yang longsor 14%, sektor disusul oleh material dasar yang anjlok 13%, dan sektor energi yang jatuh 11%. 

Adapun saham-saham pemberat IHSG hari ini antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), dan PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).

Sementara saham-saham menekan koreksi IHSG hari ini antara lain, PT. Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD), PT. Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET), PT. Guna Timur Raya Tbk. (TRUK), PT. Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA), dan PT. Charnic Capital Tbk. (NICK).

Sentimen pasar saat ini dipengaruhi rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Rencana tersebut masih dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final. MSCI membuka kesempatan bagi pelaku pasar untuk memberikan tanggapan hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan akhir akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

"MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi," tulis MSCI dalam pengumumannya, dikutip Jumat (16/10/2026).

MSCI menilai klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saat ini. Penilaian tersebut didasarkan pada kekhawatiran mengenai tingkat investabilitas, transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta belum terlihatnya penegakan aturan yang memberikan dampak berarti.

Selama proses konsultasi, MSCI juga tetap membekukan sejumlah perubahan indeks untuk saham Indonesia. MSCI tidak akan menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menambahkan saham baru ke dalam MSCI Indonesia Investable Market Index, maupun menaikkan saham ke segmen indeks yang lebih tinggi.

Kabar tersebut berpotensi meningkatkan kehati-hatian investor asing terhadap aset domestik. Apabila mendorong keluarnya dana asing dari pasar saham, kebutuhan terhadap dolar AS dapat meningkat dan menambah tekanan terhadap rupiah.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]