Hadapi Perubahan Iklim, Warga Diimbau Hemat Penggunaan Air
Bagikan:
SULAWESI TENGAH - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mengimbau masyarakat untuk lebih bijak menggunakan air bersih sebagai langkah menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk ancaman El Nino.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai mengatakan penghematan air di tingkat rumah tangga dapat membantu menjaga ketersediaan air tanah untuk kebutuhan dalam jangka panjang.
"Perubahan iklim tentu memberikan dampak terhadap kehidupan, maka langkah menghemat penggunaan air di rumah memberikan manfaat yang baik terhadap ketersediaan air tanah untuk penggunaan jangka panjang," kata Moh Rivai saat dihubungi dari Palu, Minggu.
Menurut dia, ancaman El Nino perlu diantisipasi melalui penggunaan air secara efisien. Penghematan tidak hanya diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, tetapi juga dalam aktivitas pertanian yang membutuhkan pasokan air.
Salah satu upaya lain yang dapat dilakukan masyarakat ialah membuat sumur resapan. Fasilitas tersebut dapat membantu menampung sekaligus memasukkan air hujan ke dalam tanah sehingga mengurangi risiko genangan dan menjaga cadangan air tanah.
"Cara sederhana seperti itu bagian dari mitigasi menghadapi tantangan perubahan iklim, meski pun tidak semua wilayah di Parigi Moutong mengalami kesulitan air bersih," ujarnya.
BACA JUGA:
Rivai mengatakan BPBD Parigi Moutong saat ini tengah memetakan kawasan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap potensi krisis air bersih sebagai dampak perubahan iklim.
Wilayah permukiman yang berada di kawasan perbukitan dan lereng gunung dinilai memiliki kerentanan lebih tinggi, terutama apabila kondisi tutupan vegetasi hutannya sudah terbuka.
"Air tanah memiliki batasan dan dapat berkurang drastis jika penggunanya tidak diatur atau dibiarkan terus menerus mengalir. Maka kebijaksanaan menggunakan sumber air bersih sangat penting. Kalau rumah tangga menggunakan air tanah, sebaiknya gunakan tandon air atau wadah penampungan lain," tutur Rivai.
Untuk memperkuat upaya antisipasi, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dijadwalkan menggelar pertemuan lintas sektor pada Senin (10/8/2026). Pertemuan tersebut akan membahas langkah konkret dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Rivai menyebut dampak kekeringan saat ini sudah dirasakan warga Desa Sausu Taliabo, Kecamatan Sausu. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat mengalami keterbatasan air bersih karena sumber air warga mulai mengering.
"Saat ini krisis air bersih masih melanda Desa Sausu Taliabo, Kecamatan Sausu. Fenomena hidrometeorologi itu memberikan dampak sekitar 100 kepala keluarga (KK) di desa itu karena sumur-sumur warga mengalami kekeringan," ucapnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+