Gubernur Lampung sebut riset dan inovasi percepat hilirisasi di desa

Bandarlampung (ANTARA) - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut bahwa adanya riset dan inovasi yang terus dikembangkan perguruan tinggi di wilayahnya dapat membantu dalam mempercepat hilirisasi komoditas di tingkat desa.

"Potensi sumber daya pangan yang dimiliki Provinsi Lampung sangat besar, dengan luas daratan sekitar 3,3 juta hektare dan jumlah penduduk sekitar 9,6 juta jiwa. Lampung memiliki basis ekonomi yang kuat pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan," kata Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal di Bandarlampung, Selasa.

Ia mengatakan, Lampung yang merupakan salah satu sentra pangan utama nasional dengan berbagai potensi komoditas unggulan, memerlukan dukungan dalam pengembangan sains, riset, inovasi, dan teknologi dari perguruan tinggi.

"Teknologi harus disesuaikan dengan ekosistem. Riset, sains, dan teknologi ke depan harus disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga nilai tambah yang dihasilkan bisa terintegrasi sampai ke level paling bawah," ujar dia.

Dia menjelaskan perguruan tinggi di Lampung dapat mengambil peran lebih besar sebagai pusat pengembangan teknologi terapan untuk mendukung kebutuhan masyarakat, salah satunya untuk mempercepat hilirisasi komoditas di desa.

"Sejumlah kebutuhan teknologi yang dapat dikembangkan bersama yakni dimulai dari dryer, mesin pencetak pakan, mixer, mesin mekanisasi pertanian, hingga teknologi untuk mendukung efisiensi produksi dan pengolahan komoditas di desa," ucap dia.

Menurut dia, dengan dukungan riset, inovasi dan riset dapat menjadi solusi atas salah satu tantangan utama yakni terbatasnya hilirisasi komoditas pangan. Dimana sebagian besar komoditas Lampung masih dijual dalam bentuk bahan mentah, sehingga nilai tambah serta peluang penciptaan lapangan kerja belum sepenuhnya dinikmati masyarakat di daerah.

"Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung mendorong model hilirisasi yang tidak hanya berbasis industri berskala besar, tetapi juga dikembangkan secara inklusif hingga tingkat desa. Hilirisasinya harus sesuai struktur dan sumber daya yang dimiliki. Nanti yang belum di hilirisasi harus didesain agar inklusif dan mampu menyerap tenaga kerja," tambahnya.

Menurut dia, hilirisasi berbasis industri besar memiliki keterbatasan dalam penyerapan tenaga kerja karena semakin modernnya teknologi industri. Di sisi lain, Lampung setiap tahun menghadapi tantangan tingginya jumlah lulusan SMA, SMK, perguruan tinggi, dan vokasi yang membutuhkan lapangan pekerjaan.

Oleh sebab itu, pengembangan ekonomi berbasis desa menjadi salah satu solusi untuk menciptakan lapangan kerja, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

"Salah satu langkah yang disiapkan Pemerintah Provinsi Lampung adalah pembangunan fasilitas pengering atau dryer komoditas di desa, dan mendorong adanya pengembangan inovasi serta riset," ujar dia.

Ia mengatakan, keberadaan dryer di desa akan membuat komoditas tidak lagi seluruhnya dijual dalam kondisi mentah. Setelah proses pengeringan, komoditas dapat dilanjutkan ke tahapan pengolahan lain.

"Setelah dibuat dryer, bisa dibuat pakan. Akhirnya desa bisa membuat pakan ayam dan kemudian mengembangkan peternakan ayam. Jadi yang tadinya di desa hanya ada komoditas mentah, ke depan ada beras, pakan, ayam, ikan, telur, dan produk lainnya," jelasnya.

Menurut dia, konsep tersebut, merupakan bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan dari tingkat paling bawah. Desa tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi pusat produksi dan pengolahan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Gubernur Lampung: Riset dan inovasi percepat hilirisasi di desa

Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.