Fosil T-Rex Terbesar Dilelang, Diprediksi Laku Rp 541 Miliar
Di balik nilai fantastisnya, rencana pelelangan Gus memicu kekhawatiran di kalangan ilmuwan. Mereka menilai tren perdagangan fosil dinosaurus dengan harga selangit berpotensi menghambat penelitian ilmiah.
Paleontolog vertebrata dari University of Birmingham, Prof. Richard Butler, mengatakan praktik menjual fosil layaknya karya seni bernilai tinggi sangat memprihatinkan.
"Fosil yang tidak berada di koleksi museum resmi tidak bisa dipelajari sehingga pada akhirnya hilang bagi dunia penelitian. Harga fosil kini semakin jauh dari jangkauan museum dan itu merugikan perkembangan ilmu pengetahuan," katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Prof. Stephen Brusatte dari University of Edinburgh. Menurutnya, meski pelelangan tersebut sah secara hukum karena fosil ditemukan di lahan pribadi di Amerika Serikat, kondisi itu tetap menjadi persoalan bagi dunia sains.
"Jika fosil dinosaurus seperti ini terjual hingga puluhan juta dolar, praktis museum maupun universitas tidak akan mampu bersaing. Hanya kalangan superkaya yang bisa membelinya," ujarnya.
Di sejumlah negara seperti Brasil dan Mongolia, seluruh fosil secara hukum merupakan milik negara sehingga tidak dapat diperdagangkan secara bebas.
Museum Sulit Bersaing
Fosil T-Rex pertama yang dilelang adalah Sue, spesimen setinggi empat meter yang ditemukan di South Dakota dan dibeli Field Museum Chicago pada 1997 dengan harga sekitar 8 juta dolar AS, berkat dukungan donor swasta dan sejumlah perusahaan, termasuk McDonald's.
Sejak saat itu, mengoleksi fosil dinosaurus menjadi hobi baru para miliarder dan selebritas dunia, termasuk aktor Leonardo DiCaprio.
Profesor paleontologi dari University of Bristol, Michael Benton, mengakui tingginya harga fosil membuat museum semakin sulit memperoleh spesimen penting.
Meski demikian, ia menilai masih ada solusi apabila pembeli bersedia meminjamkan atau menyumbangkan fosil kepada museum agar dapat dipelajari dan dinikmati publik.
Contohnya adalah fosil Apex yang dibeli miliarder sekaligus manajer dana lindung nilai Ken Griffin. Setelah dibeli, fosil tersebut dipinjamkan selama empat tahun kepada American Museum of Natural History.