FKG UMS perdalam materi penilaian mahasiswa, dari SSC hingga bedah mulut
FKG UMS perdalam materi penilaian mahasiswa, dari SSC hingga bedah mulut
Jumat, 28 Agustus 2026 15:30 WIB
drg. Amelia Elizabeth Pranoto, Sp.BMM., mempraktikkan penggunaan Barton bandage. ANTARA/HO-UMS
Solo (ANTARA) - Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melanjutkan kegiatan workshop persamaan persepsi penilaian untuk mahasiswa jenjang sarjana.
Kali ini, para dosen menyimak materi penilaian untuk PSPP, SSC, kuretase dan gingivektomi, analisis model studi, serta kegawatdaruratan dalam bedah mulut.
Pada materi pertama, drg. Dendy Murdiyanto, MDSc., menyampaikan materi terkait penggunaan program PSPP untuk analisis data penelitian kedokteran gigi. Selanjutnya, drg. Septriyani Kaswindiarti, MDSc., Sp.KGA., menyampaikan materi mengenai SSC.
Stainless Steel Crown (SSC) memiliki indikasi untuk karies yang luas dan post-endodontik, baik pada perawatan pulpotomi maupun pulpektomi. Selain itu, SSC dapat digunakan sebagai retainer untuk penggunaan crown and loop.
“Kemudian ada gigi yang mengalami anomali atau defek seperti amelogenesis imperfekta dan dentinogenesis imperfekta. Selain itu terdapat juga pada gigi molar permanen muda yang belum erupsi dan sifatnya sebagai restorasi sementara,” jelas Septriyani, Jumat.
Dalam penilaian kepada mahasiswa, tahapan dimulai dari persiapan alat dan bahan. Septriyani meminta para dosen untuk menyampaikan kepada mahasiswa agar ketika praktik tetap mengikuti tonjolan gigi dan tidak menyentuh molar lainnya. Ia juga menyarankan agar pemilihan dan seleksi crown dapat diawali dengan tebak-tebakan terlebih dahulu.
Sementara itu, drg. Aprilia Yuanita Anwaristi, MDSc., Sp.Perio., menyampaikan dosen yang bertugas pertama-tama memberikan pengantar berupa teori-teori terkait kuretase yang telah dijelaskan. Dosen juga dapat memutar video apabila tersedia serta memberikan kesempatan kepada operator atau mahasiswa untuk bertanya dan memberikan feedback terkait pemahaman terhadap teori yang disampaikan.
“Baru setelah itu memberikan izin kepada operator atau kepada mahasiswa untuk mencoba melakukan kuretase di fantom,” kata Aprilia.
Dosen yang bertanggung jawab juga perlu melakukan pengecekan hasil kuretase pada fantom. Pengecekan tersebut mencakup cara mahasiswa melakukan tindakan secara prosedural serta hasil yang diperoleh. Setelah itu, dosen melakukan penilaian hasil kuretase pada buku nilai mahasiswa sesuai dengan poin pada prosedur kuretase.
Selanjutnya, pada materi analisis model studi, drg. Ikmal Hafizi, MDSc., Sp.Ort., menyebut mahasiswa terkadang lupa memberikan titik, padahal hal tersebut sangat penting. Ia mengingatkan para dosen agar ketika memberikan skill lab dapat menekankan pentingnya titik dalam proses pengukuran.
“Untuk pengukuran model studi, kita bisa melakukan pengukuran berkali kali- dengan catatan titiknya ada dulu,” sebut Ikmal.
Dalam pertemuan tersebut, Ikmal memperlihatkan cara melakukan analisis Pont, analisis Howes, dan analisis Korkhaus.
“Analisis model studi ini bukan mutlak, tetapi sebagai alat bantu,” kata dia.
Selanjutnya, drg. Amelia Elizabeth Pranoto, Sp.BMM., menerangkan tentang tata laksana kegawatdaruratan, anestesi odontektomi, insisi, dan materi lainnya. Ia juga mempraktikkan penggunaan Barton bandage pada pasien TMJ.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.