Film Dokumenter Karya Sineas Israel Ungkap Penggunaan AI Untuk Genosida di Gaza Dapat Tepuk Tangan 25 Menit di Festival Film Venice
AKURAT.CO Film dokumenter Gaza terbaru yang mengungkap dugaan penggunaan AI oleh Israel untuk pembunuhan warga sipil di Gaza mendapat sambutan luar biasa di Festival Film Venice. Film berjudul NAZA karya dua sineas Israel peraih Oscar, Yuval Abraham dan Rachel Szor, mendapat tepuk tangan selama 25 menit setelah pemutaran perdananya pada Kamis (10/9/2026).
Film dokumenter Gaza tersebut menyoroti penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI Israel dalam sistem penargetan militer di Gaza. Dalam film berdurasi 80 menit itu, Abraham dan Szor mewawancarai 24 mantan anggota militer dan intelijen Israel yang identitasnya dirahasiakan. Para narasumber memberikan kesaksian mengenai sistem yang menurut mereka digunakan untuk mengidentifikasi target serangan di Gaza.
Film NAZA mengangkat dugaan pembunuhan warga sipil di Gaza menggunakan sistem berbasis AI Israel, termasuk sistem yang dikenal dengan nama “Lavender”. Para narasumber menggambarkan cara kerja sistem tersebut serta dampaknya terhadap warga Palestina. Kesaksian mereka menjadi bagian utama investigasi hampir tiga tahun yang dilakukan kedua pembuat film.
Tepuk tangan selama 25 menit tersebut disaksikan reporter AFP dan disebut-sebut sebagai salah satu yang terlama dalam sejarah Venice Film Festival. Tahun sebelumnya, film lain mengenai Gaza mendapat tepuk tangan selama 23 menit setelah pemutaran perdananya.
Abraham mengatakan kepada AFP bahwa tujuan utama film tersebut adalah memberikan ruang kepada mantan tentara dan pejabat Israel untuk berbicara secara rinci mengenai sistem yang mereka gunakan.
“Kami membiarkan para tentara dan perwira berbicara mengenai apa yang mereka lakukan,” kata Abraham.
Ia mengatakan para pembuat film ingin mengetahui secara mendalam bagaimana sistem penargetan dan pembunuhan di Gaza bekerja serta bagaimana sistem tersebut dioperasikan.
Kesaksian tentang sistem AI Lavender
Dalam NAZA, suara dan wajah para narasumber diubah secara digital untuk melindungi identitas mereka. Mereka menggambarkan sistem Lavender sebagai teknologi berbasis AI yang digunakan untuk membantu mengidentifikasi orang yang dianggap sebagai target pembunuhan.
Menurut kesaksian yang ditampilkan dalam film, Lavender menggunakan data dari pengawasan komunikasi di Gaza. Data tersebut disebut mencakup panggilan telepon, pergerakan, serta interaksi pengguna untuk membantu menentukan target.
Salah seorang narasumber yang mengaku pernah bekerja dengan sistem tersebut mengatakan prosesnya dilakukan dalam skala besar dan terasa seperti bekerja di sebuah “pabrik”.
Narasumber lain menggambarkan penggunaan teknologi tersebut seperti permainan video karena proses penargetan dilakukan dari jarak jauh.
Abraham mengatakan kepada Reuters bahwa sistem yang ditampilkan dalam film pada dasarnya menargetkan orang-orang yang berada di ruang sipil, termasuk rumah keluarga.
Menurut kesaksian para narasumber, sistem berbasis AI tersebut dapat memproses data dari ribuan telepon seluler yang diretas. Salah satu kesaksian bahkan menyebut sistem dapat menggunakan informasi dari telepon anak untuk membantu menentukan keberadaan seseorang yang dianggap sebagai target.