Festival Indonesia Perdana di Chiba Jepang Dihadiri 15.000 Pengunjung
Sejak sebelum acara, panitia telah menetapkan sejumlah aturan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di area festival. Penjualan minuman beralkohol tidak diperbolehkan di dalam area acara sebagai salah satu langkah pencegahan.
Panitia berkoordinasi dengan kepolisian setempat dalam pengamanan festival. Selama kegiatan berlangsung, panitia bersama polisi secara rutin melakukan patroli dan berkeliling di area acara untuk memantau kondisi secara langsung.
Pengawasan dilakukan selama festival agar situasi yang muncul di lapangan dapat segera ditangani dan kegiatan tetap berjalan tertib.
Jumlah pengunjung yang jauh melampaui perkiraan menjadi tantangan dalam pengelolaan fasilitas, termasuk sampah. Penyelenggara menyediakan tempat sampah dan area pemilahan di berbagai titik.
Menurut panitia, meski volume sampah meningkat karena banyaknya pengunjung, sebagian besar pengunjung tetap mengikuti aturan dan membuang sampah di tempat yang telah disediakan.
Panitia secara berkala mengosongkan tempat sampah dan mengangkut sampah selama festival berlangsung. Namun, tingginya jumlah pengunjung membuat tempat sampah yang baru dikosongkan dapat kembali penuh dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah pada kegiatan berikutnya.
Tanggung jawab panitia berlanjut setelah festival selesai. Pada Senin (10/8) pagi, sejumlah panitia kembali mendatangi Chiba City Chuo Park untuk menyisir dan membersihkan sisa-sisa kegiatan di area taman.
Menurut panitia, kehadiran mereka sempat membuat petugas kebersihan taman setempat heran karena pembersihan masih dilakukan meskipun pada hari tersebut terdapat petugas yang secara rutin bertugas di kawasan itu.
Bagi panitia, langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab terhadap lokasi yang telah digunakan sekaligus penghormatan terhadap lingkungan sekitar.
Pengalaman selama festival pun dipastikan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan berikutnya, termasuk kapasitas lokasi, pengaturan arus pengunjung, fasilitas, keamanan, pengelolaan sampah, serta koordinasi dengan berbagai pihak.
Penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang di Chiba dan menjadi ruang bagi masyarakat Indonesia dan Jepang untuk bertemu, berinteraksi, saling mengenal, serta merayakan keberagaman budaya kedua negara.
Salah satu panitia mengatakan festival ini tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan budaya Indonesia, tetapi juga memberi kesempatan kepada masyarakat Indonesia dan Jepang untuk saling mengenal. Menurutnya, keterlibatan pengunjung dalam Taiko dan Yosakoi, serta kesempatan menikmati Reog dan tari tradisional Indonesia, menjadi salah satu nilai utama festival.
Panitia menyebut tingginya antusiasme pengunjung sebagai tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan berikutnya agar semakin baik, aman, nyaman, dan memberikan pengalaman positif bagi masyarakat.