Euro Ambruk Hadapi Dolar AS! Sentuh Level Terlemah Dalam 3 Bulan
Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
29 September 2026 10:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan nilai tukar euro kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, posisinya kini mendekati level terlemah dalam hampir tiga bulan.
Melansir data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (29/9/2026) per pukul 09.30 WIB, kurs EUR/USD berada di level US$1,137 per euro atau stagnan.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, Senin (28/9/2026), euro melemah 0,18% ke posisi US$1,137 per euro. Posisi tersebut sekaligus membawa euro mendekati level terlemahnya dalam hampir tiga bulan.
Pelemahan euro tidak terlepas dari pernyataan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengenai arah kebijakan suku bunga. Lagarde menilai kenaikan inflasi di kawasan euro masih tepat dihadapi dengan respons kebijakan yang terukur.
Inflasi kawasan euro telah melampaui 3% dan diperkirakan mendekati 4% pada akhir tahun, dua kali lipat dari target ECB. Namun, kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan harga minyak dan gas akibat konflik AS-Iran.
ECB juga belum melihat kenaikan harga energi merembet ke upah dan membuat inflasi semakin melekat dalam perekonomian.
"Kami melihat inflasi akan lebih tinggi, tetapi belum ada tanda bahwa kenaikan tersebut mulai mengakar. Pada tahap ini, kami juga belum melihat bukti bahwa harga energi mendorong kenaikan upah," kata Lagarde, dikutip Reuters.
Pernyataan itu meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga ECB secara agresif. Sejumlah ekonom memperkirakan ECB akan menahan suku bunga pada pertemuan 29 Oktober dan baru kembali menaikkannya pada Desember.
Tekanan terhadap euro juga datang dari penguatan dolar AS.
Indeks dolar AS (DXY) pagi ini berada di level 101,2 dan mendekati level tertinggi dalam dua bulan. DXY juga menuju penguatan 1,8% sepanjang September, yang akan menjadi kinerja bulanan terbaiknya sejak Juni.
Dolar mendapat tenaga dari kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS. Yield obligasi AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007, sementara tenor 30 tahun menyentuh posisi tertinggi sejak 2004. Yield tenor dua tahun juga mendekati 5%, level tertingginya dalam lebih dari dua tahun.
Kenaikan harga minyak ikut memperkuat perkiraan bahwa tekanan inflasi AS akan bertahan tinggi. Kondisi ini membuka peluang bagi bank sentral AS (The Fed) untuk kembali menaikkan suku bunga.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir Oktober mencapai lebih dari 70%, meningkat dari 57% sepekan sebelumnya. Investor selanjutnya menunggu data inflasi PCE AS pada Rabu dan laporan tenaga kerja pada Jumat untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga The Fed.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)