DPRD Kulon Progo dukung pemanfaatan danais pemberdayaan pertanian
DPRD Kulon Progo dukung pemanfaatan danais pemberdayaan pertanian
Selasa, 1 September 2026 05:30 WIB
Anggota DPRD Kulon Progo Yuliyantoro menunjukkan penggunaan dana keistimewaan di Kapanewon Sentolo yang digunakan untuk pengairan lahan bawang merah di kawasan Bulak Srikayangan. ANTARA/Sutarmi
Kulon Progo (ANTARA) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendukung optimalisasi alokasi dana keistimewaan (danais) agar lebih difokuskan pada program pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya sektor pertanian dan usaha mikro.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kulon Progo Yuliyantoro di Kulon Progo, Senin, menilai efektivitas penggunaan Danais sangat terasa dampaknya oleh masyarakat ketika disalurkan untuk infrastruktur dan pemberdayaan berbasis produk unggulan kawasan.
"Dana keistimewaan sangat bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat, seperti budidaya bawang merah di tiga wilayah yakni Desa Srikayangan, Demangrejo, dan Sukoreno. Ini sangat efektif meningkatkan kesejahteraan, khusus petani," kata Yuliyantoro.
Menurut Yuliyantoro, infrastruktur irigasi tersebut memiliki potensi cakupan hingga 500 hektare lahan pertanian. Meski demikian, luas tanam dalam kurun dua hingga tiga tahun terakhir sempat mengalami penurunan akibat tantangan hama trips yang meluas di wilayah Jawa.
"Jika wabah hama dapat dikendalikan dan didukung stimulan pemerintah, potensi 500 hektare tersebut bisa kembali optimal," katanya.
Ia menekankan alokasi danais untuk kegiatan produktif di luar sektor kebudayaan memiliki peran vital dalam mendongkrak perekonomian lokal.
Pendekatan tersebut dapat direplikasi pada berbagai wilayah lain di Kulon Progo sesuai dengan karakteristik produk lokalnya.
Yuliyantoro meyakini integrasi teknologi dan pemberdayaan berbasis keunggulan wilayah, seperti elektrifikasi pertanian di wilayah selatan hingga pengembangan komoditas durian unggul di kawasan pegunungan Kalibawang dan Kokap akan menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
"Bukan berarti anti-budaya, melainkan danais akan jauh lebih produktif jika porsinya diperbesar untuk kegiatan pemberdayaan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat," kata Yuliyantoro.
Pewarta : Sutarmi
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026