DPRD kaitkan sloka suci dengan harapan HUT Ke-68 Bali - ANTARA News Bali
Denpasar (ANTARA) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali mengaitkan sloka suci yang ditembangkan generasi muda berprestasi dengan harapan terhadap HUT Ke-68 Provinsi Bali dalam Rapat Paripurna Istimewa di Denpasar, Jumat.
"Seperti yang telah kita dengarkan bersama, sloka dimaksud mengandung makna ketika hati disucikan oleh ketulusan, setiap langkah menjadi pengabdian, setiap karya menjadi persembahan, dan setiap perjuangan menjadi jalan menuju kejayaan," kata Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya.
Dewa Mahayadnya menjelaskan pelibatan generasi muda dalam pembacaan sloka berjudul "Suci Lascarya, Nusa Wijaya" tersebut menjadi simbol regenerasi sekaligus penegas pesan moral yang selaras dengan momentum hari jadi Pulau Bali.
Pesan sloka suci yang dibawakan para remaja tersebut mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk berkarya secara ikhlas (lascarya) demi keberlanjutan masa depan Bali.
"Dengan lascarya, kita berkarya bukan semata untuk diri sendiri, melainkan untuk keluarga, masyarakat, dan tanah kelahiran yang kita cintai, melalui peringatan ini, marilah bersama-sama merencanakan, memperkokoh, dan membela dengan memfokuskan pikiran yang tulus untuk mewujudkan kejayaan dan kewibawaan (taksu) Bali agar semakin harum dan megah di dunia," ujarnya.
Adapun sloka suci tersebut dibawakan oleh Putu Majesta Aryesti Maisadipta bersama Ni Ketut Rasty Anggia Vajra sebagai penerjemah, serta diiringi penabuh gender Ni Made Dwi Sari Candradita dan Ni Made Niesa Sri Rahmadhisa.
Ketua DPRD Bali menambahkan, peringatan HUT ke-68 Provinsi Bali harus menjadi sarana evaluasi dan mawas diri atau mulat sarira untuk menyatukan pikiran (nyikiang pikayun) agar tata kelola pemerintahan, pembangunan, serta kesejahteraan sosial-kemasyarakatan tetap tegak dan kokoh.
Penampilan generasi muda tersebut juga mendapat apresiasi langsung dari Gubernur Bali Wayan Koster yang menilai aksi mereka membuktikan bahwa kebudayaan daerah tetap terjaga sejak dini.
"Mendengar sloka suci tadi kita tidak perlu risau karena anak-anak kita sejak usia dini sudah terampil menjalankan kebudayaan Bali, seperti kata Bung Karno, kebudayaan adalah jiwa bangsa dan jiwa itu tidak akan pernah mati, jadi kebudayaan Bali tidak akan pernah mati," kata Koster.
Menyambung harapan DPRD Bali untuk masa depan Bali, Koster melihat yang harus dilakukan untuk memajukan Bali adalah dengan tidak melupakan sejarah.
Ia menekankan pentingnya memegang teguh ajaran Proklamator RI Bung Karno tentang "Jas Merah" atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, terutama dalam menghormati rekam jejak kepemimpinan tujuh Gubernur Bali terdahulu yang telah mendedikasikan diri sejak tahun 1958.
"Kita sebagai generasi penerus yang mewarisi spirit pengabdian beliau wajib meneruskan perjuangan membangun Bali pada masa kini dan masa depan sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga eksistensi keberlanjutan Bali sepanjang masa," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Koster juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan generasi muda untuk meneladani ajaran gotong royong Bung Karno demi mewujudkan harapan masa depan daerah.
"Marilah kita bergotong royong, banting tulang bersama, memeras keringat bersama, perjuangan bantu-membantu, guna mewujudkan harapan dan optimisme masa depan Bali," tuturnya.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.