Dosen Unmuh Babel dampingi Khulaifah Farm tingkatkan produktivitas peternakan dengan mesin tetas - ANTARA News Bangka Belitung

Pangkalpinang (ANTARA) - Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) mendampingi Khulaifah Farm di Kota Pangkalpinang menerapkan teknologi mesin tetas telur untuk meningkatkan produktivitas dan kemandirian usaha peternakan masyarakat.

Pendampingan tersebut dilakukan melalui program pemberdayaan masyarakat di Khulaifah Farm, Kelurahan Air Itam, Pangkalpinang, Rabu (19/8). Kegiatan diketuai Ari Juliansyah dengan anggota Zuriyat Ifada dan Patricia Widya Sari.

Ari Juliansyah mengatakan penerapan mesin tetas telur diharapkan dapat membantu mitra meningkatkan efisiensi dan konsistensi proses produksi.

"Teknologi mesin tetas ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan mitra dalam proses penetasan, tetapi juga mendorong pengelolaan usaha peternakan yang lebih terukur dan berkelanjutan," kata Ari.

Menurut dia, pendampingan dilakukan tidak hanya melalui pemberian mesin, tetapi juga dengan pelatihan agar mitra mampu mengoperasikan dan merawat peralatan tersebut secara mandiri.

Program pemberdayaan itu didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia.

Ari menjelaskan sebelum program dilaksanakan, proses penetasan di Khulaifah Farm masih menghadapi kendala berupa keterbatasan penguasaan teknologi dan belum optimalnya pengendalian proses produksi.

"Karena itu, kami memberikan pelatihan mulai dari prinsip kerja mesin tetas, pengaturan suhu dan kelembapan, pembalikan telur, seleksi telur fertil, sanitasi, pemantauan perkembangan embrio, sampai penanganan DOC setelah menetas," ujarnya.

Selain pelatihan teknis, tim juga memberikan praktik langsung kepada mitra. Pendekatan tersebut dilakukan agar pengetahuan yang diberikan dapat langsung diterapkan dalam kegiatan produksi sehari-hari.

Dalam aspek manajemen, mitra diperkenalkan dengan sistem pencatatan produksi yang meliputi jumlah telur yang ditetaskan, telur fertil, jumlah DOC yang dihasilkan, tingkat keberhasilan penetasan, serta biaya produksi.

Ari mengatakan pencatatan produksi penting untuk mengetahui perkembangan usaha dan menjadi dasar dalam menentukan langkah pengembangan berikutnya.

"Dengan adanya pencatatan, mitra dapat melihat tingkat keberhasilan penetasan dan menghitung biaya produksi secara lebih jelas. Data tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi usaha," katanya.

Tim juga memberikan pendampingan mengenai pemeliharaan dan perawatan mesin, termasuk pemeriksaan komponen, kebersihan dan sanitasi, sistem pemanas, ventilasi, sensor, serta mekanisme pembalikan telur.

Berdasarkan hasil evaluasi, terjadi peningkatan kapasitas mitra dalam memahami teknologi penetasan dan manajemen produksi. Mitra juga dinilai semakin mampu mengoperasikan serta melakukan perawatan mesin tetas.

Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi bibit ayam lokal dan memperkuat ketersediaan DOC bagi pelaku usaha peternakan di sekitar Kota Pangkalpinang.

"Harapannya, peningkatan kapasitas produksi di Khulaifah Farm nantinya dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi peternak di sekitar Pangkalpinang dan ikut memperkuat rantai usaha peternakan lokal," ujar Ari.

Ia menambahkan pengembangan usaha peternakan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan keterampilan dan manajemen yang baik.

"Teknologi, keterampilan, dan manajemen harus berjalan bersama. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, kami berharap Khulaifah Farm dapat semakin produktif, mandiri, dan memiliki daya saing," katanya.

Program tersebut sekaligus menjadi bentuk kolaborasi perguruan tinggi dengan masyarakat dalam mendorong penerapan teknologi tepat guna sesuai kebutuhan lokal. Dalam jangka panjang, pengembangan tersebut diharapkan dapat mendukung rantai usaha peternakan mulai dari pembibitan, pembesaran, penyediaan pakan, distribusi hingga pemasaran.

Pewarta: Try M Hardi
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.