DOGE Klaim Hemat Rp 1.958 Triliun, Lembaga Pengawas Ini Temui Kejanggalan
Laporan itu menyebutkan Doge tidak transparan mengenai metode penghitungan penghematan yang digunakan, serta menyoroti badan tersebut "tidak memberikan informasi yang memadai untuk memverifikasi metode yang digunakan dalam menghitung 96% dari total penghematan yang dilaporkan DOGE".
Salah satu temuan spesifiknya adalah bahwa 108 dari 264 perjanjian sewa yang diidentifikasi DOGE untuk diakhiri sebenarnya sudah dalam proses pengakhiran sebelum badan tersebut dibentuk.
Angka tersebut mencakup sekitar US$ 15,3 juta atau Rp 272,35 miliar dari total US$ 53,5 juta atau Rp 952,35 miliar penghematan yang diklaim oleh Doge.
"Wall of Receipts tidak menyertakan penjelasan mengenai bagaimana penghematan dari perjanjian sewa yang diakhiri tersebut dihitung," ujar GAO.
Terdapat pula klaim mengenai penghematan yang sebenarnya tidak terealisasi, seperti penghematan sebesar US$ 1,7 miliar atau Rp 30,26 triliun dari pengakhiran kontrak layanan TI dengan Departemen Pertahanan. Namun, menurut laporan badan pengawas Kongres, kontrak tersebut tidak pernah diputus sehingga tidak ada penghematan yang tercapai.
"Meskipun 'Wall of Receipts' (Dinding Bukti Pengeluaran) memuat sejumlah informasi mengenai data dan sumber yang mendasari laporan penghematan, hal itu tidak cukup mengungkapkan keterbatasan yang memengaruhi kualitas data," demikian penilaian laporan tersebut.
Audit GAO, yang dilakukan atas permintaan Senator dari Partai Demokrat Gary Peters dan Richard Blumenthal, mencakup data penghematan yang dilaporkan dari 20 Januari 2025 hingga 7 Juli 2026.
"Semua pihak mendukung upaya pemberantasan pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan wewenang di pemerintahan federal, namun Doge merupakan upaya yang dilakukan secara serampangan dan menyesatkan; inisiatif ini memperdaya rakyat Amerika sekaligus merusak kemampuan pemerintah dalam melayani mereka," ujar Senator Peters dalam sebuah pernyataan pada Kamis.