◐

Diskatan Kuningan mendampingi petani kembangkan komoditas ubi jalar - ANTARA News Jawa Barat

Kuningan (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mendampingi petani mengembangkan komoditas ubi jalar melalui penerapan teknologi budidaya, demplot, bantuan sarana produksi, dan penguatan kelembagaan.

Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah saat dihubungi di Kuningan, Kamis, mengatakan pendampingan tersebut didukung potensi kawasan ubi jalar di daerahnya yang mencapai 2.530 hektare.

"Pengembangannya memiliki basis potensi yang kuat karena Kuningan telah ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Pertanian Nasional," ujarnya.

Menurut dia, potensi tersebut perlu diikuti penerapan teknologi dan inovasi agar hasil demplot dapat menjadi pembelajaran yang diterapkan petani sesuai kondisi lahan masing-masing.

Pihaknya mendata hasil demplot ubi jalar yang telah dipanen saat ini mencatat produktivitas sekitar 42 ton per hektare, sedangkan sebelumnya berada pada kisaran 20-25 ton per hektare.

“Jika dibandingkan dengan produktivitas 25 ton per hektare, peningkatan tersebut mencapai sekitar 17 ton per hektare. Dengan asumsi harga ubi jalar Rp4.000 per kilogram, tambahan produksi itu bernilai bruto sekitar Rp68 juta per hektare,” katanya.

Diskatan Kabupaten Kuningan, kata dia, memberikan bantuan sarana produksi kepada 300 petani ubi jalar sebagai bagian dari dukungan budidaya komoditas tersebut.

Wahyu mengatakan bantuan sarana produksi harus diarahkan pada peningkatan hasil dan keuntungan usaha tani, sehingga pendampingan teknis tetap diperlukan setelah bantuan diterima petani.

"Pupuk dan sarana produksi adalah input. Tujuan akhirnya bukan pupuk, tetapi produksi. Produksi pun bukan tujuan akhir, melainkan usaha tani yang lebih produktif, lebih menguntungkan, dan keluarga petani yang semakin sejahtera," ujarnya.

Ia mengatakan demplot menjadi ruang pembelajaran untuk melihat penerapan teknologi secara langsung, sekaligus menjadi bahan bagi penyuluh dalam mendampingi petani mengadopsi inovasi yang sesuai dengan kondisi agroekosistem.

“Pengembangan tersebut dilakukan melalui GEMBOL atau Gerakan Menanam Boled yang mencakup rangkaian budidaya hingga pengembangan nilai tambah komoditas, dengan melibatkan sekitar 300 petani dari 14 kecamatan,” ucap dia.

Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.