Disiarkan Live Streaming, Robot Humanoid Rakit 17 Ribu Tablet!

Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan robotika asal China, Agibot, memamerkan kepiawaian robot-robot buatan mereka menjadi 'buruh' di sebuah pabrik perakitan tablet. Momen ini terekam dalam momen live streaming yang digelar selama enam hari pada akhir Juni lalu.

Demonstrasi live streaming itu berlangsung enam hari berturut-turut, yang dimulai pada 23 hingga 28 Juni di pabrik Longcheer Technology, Nanchang. Sepanjang periode tersebut beberapa robot humanoid dioperasikan di bagian inspeksi kualitas produksi massal tablet untuk menjalankan tugas-tugas produksi riil di bawah kondisi pabrik sebenarnya.

Melansir keterangan Agibot di laman resminya, selama live streaming, para robot humanoid dengan model Agibot G2 itu mencatat waktu operasional lebih dari 64 jam, menyelesaikan 64.828 tugas di lini produksi, terlibat dalam lebih dari 4 alur kerja produksi, serta berhasil mencapai tingkat kesuksesan tugas hingga 99,99 persen. Pencapaian ini berkontribusi pada akumulasi output lini produksi sebanyak 17.625 unit tablet.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbeda dengan demonstrasi di laboratorium atau pameran robot yang kondisinya terkontrol, live streaming ini diambil langsung dari lini produksi yang aktif dengan ritme manufaktur nyata, pergerakan material, operator manusia, peralatan di sekitar, serta kondisi tugas yang dinamis.

"Pertanyaan utama bagi industri robotika humanoid saat ini bukan lagi seberapa hebat kemampuan yang bisa didemonstrasikan oleh sebuah robot, melainkan apakah robot tersebut dapat diterapkan, diintegrasikan, dan memberikan nilai tambah di lingkungan operasional yang nyata?" kata Yao Maoqing, President of Embodied AI Business Unit di Agibot.

"Dengan menerjunkan beberapa robot humanoid sekaligus ke lini produksi nyata dan membuka prosesnya secara transparan selama enam hari berturut-turut, kami ingin memberikan jawaban yang lebih jelas mengenai apa saja yang sebenarnya dibutuhkan dalam proses industrialisasi embodied AI," lanjut dia.

Agibot mengklaim, dengan menempatkan robot humanoid langsung ke dalam sistem produksi aktif dan menyiarkan kinerjanya selama enam hari penuh, perusahaan berupaya menjawab tantangan yang kian krusial bagi industri ini, terutama terkait kemampuan robot beroperasi di lingkungan industri yang dinamis.

Live streaming ini juga menyoroti pergeseran standar penilaian terhadap robot humanoid. Ketika robot mulai memasuki pabrik, metrik terpenting tidak lagi sebatas pada spesifikasi teknis robot atau tindakan terisolasi semata.

robot agibot jadi 'buruh' di pabrik perakitan tablet di china. foto: tangkapan layar video streaming agibot.Robot Agibot G2 jadi 'buruh' di pabrik perakitan tablet di China. (Foto: tangkapan layar video streaming Agibot)

Segera gantikan buruh manusia?

Perusahaan menyebut bahwa live streaming ini membuktikan bahwa robot humanoid bukan sekadar pengganti manusia. Di pabrik nyata, robot harus menyatu dalam alur kerja yang utuh.

Selanjutnya, fokus industri juga akan bergeser ke kolaborasi multi-robot. Mengoperasikan satu robot hanya menguji kemampuan individu, tapi mengoordinasikan banyak robot dalam satu armada akan menguji produktivitas sistem secara keseluruhan, termasuk aspek penjadwalan, manajemen rute, dan alokasi tugas skala besar.

"Di sinilah robot humanoid berpotensi menciptakan nilai pembeda dibandingkan dengan sistem otomasi tradisional. Otomasi tradisional tetap sangat efektif untuk proses yang sifatnya tetap, berkecepatan tinggi, dan sangat terstandarisasi," kata Agibot.

"Sementara itu, robot berbasis embodied AI lebih cocok untuk skenario di mana tugas kerap berubah, lingkungan kurang terstruktur, serta membutuhkan kemampuan persepsi, penilaian situasi, dan fleksibilitas operasi," lanjut perusahaan.

Menurut Agibot, nilai utama robot humanoid bukanlah menggantikan sistem otomasi yang sudah ada, melainkan memperluas jangkauan otomasi ke skenario produksi yang lebih fleksibel dan kompleks.

[Gambas:Youtube]

(dmi)

Add

as a preferred
source on Google