Di Balik Pujian 'Hij is de Man' Bung Karno untuk Natsir
Liputan6.com, Jakarta - Lahir di Alahan Panjang, Solok, Sumatra Barat pada 17 Juli 1908, Mohammad Natsir tumbuh menjadi salah satu politisi sekaligus cendekiawan terkemuka yang pernah dimiliki Indonesia. Di balik reputasi besarnya sebagai menteri penerangan sebanyak tiga kali dan perdana menteri sekali, Natsir meninggalkan warisan nyata berupa kesahajaan hidup yang total.
Kompas dalam Tajuk Rencana edisi Selasa, 9 Februari 1993, menggambarkan kepribadian Natsir yang dianggap mampu memadukan antara perkataan dan perbuatan. Meski perilaku politiknya kerap dinilai kaku oleh sebagian kalangan karena menolak kompromi yang mengorbankan prinsip, integritas Natsir sebagai pejabat negara tak pernah goyah.
Kesederhanaan Natsir ini disaksikan langsung oleh tokoh-tokoh dunia, salah satunya George McTurnan Kahin. Indonesianis sekaligus penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia ini mengaku sempat terheran-heran saat bertemu Natsir di Yogyakarta. Sebagai seorang menteri, baju yang dikenakan Natsir justru berupa jas yang penuh tambalan dengan kemeja butut yang hanya dua setel.
Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan yang terbit pada 1978, Kahin menulis bahwa pakaian Natsir sungguh tidak menunjukkan ia seorang menteri dalam pemerintahan.
Sifat yang tidak "aji mumpung" ini juga dirasakan langsung oleh keluarganya. Sitti Muchliesah (Lies), anak pertama Natsir, dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo pada 2008, mengenang momen sekitar tahun 1956 ketika seorang tamu dari Medan datang ke rumah mereka di Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Menteng. Tamu tersebut berniat menghadiahkan mobil Chevrolet Impala, sebuah sedan mewah buatan Amerika yang sangat bergengsi saat itu.
Namun, Natsir menolaknya dan memilih tetap menggunakan mobil DeSoto miliknya yang sudah kusam. Kepada anak-anaknya, Natsir hanya berkata bahwa mobil itu bukan hak mereka dan apa yang ada sudah cukup. Bersama istrinya, Nur Nahar, Natsir selalu mengingatkan anak-anaknya untuk pandai mensyukuri nikmat dan tidak mencari apa yang tidak ada.
Puncak dari pembuktian integritas seorang Natsir terjadi pada 21 Maret 1951, sesudah ia menyerahkan mandat jabatan perdana menteri kembali kepada Presiden Soekarno. Anak bungsu Natsir, Ahmad Fauzie Natsir, menggambarkan kisah ini dalam tulisan "Kenangan Tentang Aba" di buku 100 Tahun Mohammad Natsir: Berdamai dengan Sejarah.
Karena terus diganggu oleh lawan politik di parlemen, Natsir akhirnya memilih mundur. Ia menyopiri sendiri mobil dinasnya ke Istana untuk menemui Bung Karno, sementara sopirnya diminta membawa sepeda.
Usai pertemuan singkat sekitar 10 menit, mobil dinas tersebut langsung ditinggalkan di Istana. Natsir pulang menuju rumah jabatan dengan membonceng sepeda yang dikayuh oleh sopirnya. Tak lama setelah itu, ia langsung memboyong keluarganya pindah kembali ke rumah pribadi yang sempit di Jalan H.O.S. Cokroaminoto.
Rumah itu pun dahulu dibeli dari seorang kawan dengan cara meminjam uang dan dicicil bertahun-tahun. Keteguhan ini berlanjut saat sekretarisnya, Maria Ulfa, menyodorkan sisa dana taktis yang menjadi hak perdana menteri setelah ia mundur. Natsir menggeleng tegas dan memilih menyerahkan dana tersebut ke koperasi karyawan.