Di balik denyut 112 Surabaya - ANTARA News Jawa Timur

Surabaya (ANTARA) - Kota besar tidak pernah benar-benar bebas dari keadaan darurat. Kecelakaan dapat terjadi di tengah kepadatan lalu lintas, kebakaran muncul di permukiman, dan warga dapat tiba-tiba membutuhkan pertolongan medis. Pada saat yang sama, laporan lain bisa datang dari lokasi berbeda dengan tingkat kebutuhan yang sama mendesaknya.

Dalam situasi seperti itu, Command Center 112 Surabaya diuji bukan hanya dari kemampuan mengangkat telepon, tetapi dari seberapa cepat laporan diubah menjadi keputusan dan keputusan diterjemahkan menjadi pertolongan.

Layanan yang diresmikan pada 26 Juli 2016 itu, sejak awal dibangun untuk memangkas rantai pelaporan keadaan darurat. Setelah hampir satu dekade berjalan, ukuran keberhasilannya tidak lagi cukup hanya dengan keberadaan nomor 112.

Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh sistem di belakangnya semakin cepat, akurat, terukur, dan mampu bekerja ketika banyak kejadian berlangsung bersamaan.

Kota terhubung

Secara kelembagaan, Command Center 112 Surabaya bukan sekadar pusat penerima telepon. Peraturan Wali Kota Surabaya Nomor 20 Tahun 2023 menempatkannya sebagai pusat kendali terpadu untuk menerima informasi, laporan, dan pengaduan masyarakat, kemudian mengoordinasikan serta mengendalikan penanganannya selama 24 jam.

Fungsi tersebut penting karena keadaan darurat hampir selalu membutuhkan lebih dari satu unsur pemerintah. Kecelakaan lalu lintas dapat melibatkan BPBD, tenaga medis, kepolisian, dan petugas pengatur lalu lintas. Kebakaran dapat membutuhkan pemadam, ambulans, kepolisian, hingga penanganan lingkungan sekitar.

Karena itu, kekuatan utama 112 bukan sekadar pada nomor yang mudah diingat, melainkan pada kemampuannya menghubungkan berbagai sumber daya dalam waktu singkat.

Berdasarkan dasbor kedaruratan BPBD Kota Surabaya yang diakses pada 12 September 2026, tercatat 643 kejadian darurat medis, 312 kecelakaan lalu lintas, 286 kejadian kategori lainnya, 86 kasus psikososial, dan 56 kebakaran.

Angka itu menunjukkan keadaan darurat merupakan bagian dari dinamika kota sehari-hari. Setiap laporan membawa kebutuhan yang berbeda, sehingga operator harus melakukan penyaringan, menentukan tingkat urgensi, mengidentifikasi sumber daya terdekat, dan memastikan penanganan benar-benar bergerak.

Pemerintah Kota Surabaya menargetkan waktu respons maksimal tujuh menit dan sekitar 6,5 menit untuk kebakaran. Target tersebut menunjukkan bahwa layanan darurat mulai bergerak dari sekadar ketersediaan layanan menuju pengukuran kinerja.

Namun, kecepatan tidak boleh berdiri sendiri. Petugas yang cepat datang tetapi membawa sumber daya yang tidak sesuai kebutuhan belum tentu menghasilkan penanganan yang efektif. Dalam keadaan darurat, ketepatan lokasi, jenis kejadian, dan kebutuhan korban sama pentingnya dengan hitungan menit.

Mata dan gerak

Teknologi kemudian menjadi mata yang membantu pusat kendali melihat situasi sebelum petugas tiba. Surabaya memiliki ribuan CCTV dan 222 titik di antaranya dipantau secara langsung melalui ruang Command Center 112. Kamera lainnya dapat diakses ketika diperlukan untuk memverifikasi laporan.

Nilai CCTV bukan pada banyaknya layar yang menyala, melainkan pada kemampuannya mengubah laporan awal menjadi gambaran yang lebih utuh. Laporan kecelakaan, misalnya, dapat dilengkapi dengan informasi kepadatan lalu lintas, posisi kendaraan, dan jalur yang memungkinkan kendaraan pertolongan masuk.

Hal yang sama berlaku pada kebakaran. Informasi visual dapat membantu petugas memperkirakan kondisi awal dan menentukan kebutuhan sumber daya sebelum personel tiba di lokasi.

Masalahnya, kota yang memiliki banyak sensor belum tentu otomatis menjadi kota yang lebih aman. Data baru bernilai ketika mampu mempercepat keputusan. Karena itu, Surabaya perlu bergerak dari kota yang kaya perangkat menjadi kota yang mampu mengolah informasi menjadi tindakan.

Kualitas laporan masyarakat juga menjadi bagian penting. Sistem secanggih apa pun tetap membutuhkan informasi awal yang memadai. Lokasi, jenis kejadian, kondisi korban, akses menuju tempat kejadian, dan perubahan situasi menjadi informasi dasar yang dapat menentukan kecepatan respons.

Karena itu, literasi penggunaan 112 perlu dibangun secara bersamaan. Warga perlu memahami kapan harus menghubungi layanan darurat, informasi apa yang harus disampaikan, dan mengapa nomor tersebut tidak semestinya digunakan untuk kepentingan yang tidak mendesak.

Laporan yang setelah diverifikasi ternyata tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya juga perlu dibaca sebagai bahan evaluasi. Informasi keliru tidak selalu berarti laporan sengaja dibuat untuk mengganggu. Kepanikan, keterbatasan pengamatan, atau informasi dari pihak ketiga dapat memengaruhi akurasi laporan.

Verifikasi, karena itu bukan alasan untuk mengabaikan warga. Sebaliknya, verifikasi harus menjadi bagian dari prosedur agar sumber daya yang terbatas dapat diarahkan kepada kejadian yang paling membutuhkan.

Mengukur kepercayaan

Setelah bertahun-tahun berjalan, tantangan terbesar Command Center 112 Surabaya bukan lagi sekadar membuat masyarakat mengenal nomor tersebut. Tantangannya adalah menjaga kepercayaan bahwa ketika warga menghubungi 112, pertolongan benar-benar bergerak.

Pengalaman Surabaya semakin penting karena layanan 112 kini berkembang di berbagai daerah. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut nomor darurat tunggal itu dirancang untuk mengintegrasikan pemadam kebakaran, BPBD, layanan kesehatan, kepolisian, dan unsur terkait lainnya.

Karena itu, pengalaman Surabaya dapat menjadi pelajaran bagi pengembangan layanan kedaruratan terpadu di tingkat nasional. Pengembangan pos terpadu dari tujuh menjadi 10 dan rencana menuju 13 pos merupakan langkah untuk memperpendek jarak antara pusat kendali dan lokasi kejadian.

Hanya saja, penempatan pos tidak cukup sekadar menambah jumlah. Distribusinya perlu mengikuti pola kejadian, kepadatan penduduk, karakter lalu lintas, risiko kebakaran dan banjir, serta kebutuhan layanan medis.

Hal yang tidak kalah penting adalah mengubah data kejadian menjadi dasar pencegahan. Jika kecelakaan berulang di ruas tertentu, data 112 seharusnya dapat mendorong evaluasi penerangan, rekayasa lalu lintas, desain jalan, atau edukasi keselamatan.

Begitu pula dengan kegawatdaruratan medis. Pola kejadian berdasarkan wilayah dan waktu dapat membantu pemerintah menata kesiapan ambulans, tenaga medis, dan fasilitas kesehatan secara lebih efisien.

Di titik itu, Command Center 112 tidak lagi hanya menjadi pusat respons, melainkan pusat pembelajaran kota.

Setiap panggilan menyimpan informasi. Setiap lokasi kejadian memiliki pola. Setiap menit respons memiliki konsekuensi. Bila seluruh data dianalisis secara konsisten, pemerintah dapat bergerak dari sekadar menolong setelah kejadian menuju mencegah kejadian yang sama berulang.

Kinerja layanan juga perlu dikomunikasikan secara lebih terbuka. Masyarakat tidak hanya perlu mengetahui jumlah laporan, tetapi juga waktu respons, jenis kejadian yang dominan, wilayah dengan kejadian tertinggi, dan persoalan yang paling sering membutuhkan intervensi. Transparansi itu penting untuk akuntabilitas sekaligus membangun kepercayaan.

Command Center 112 bukan tentang ruangan penuh layar atau nomor telepon yang mudah dihafal. Intinya adalah memastikan pelayanan publik bergerak ketika warga berada pada situasi paling membutuhkan.

Surabaya telah memiliki fondasi kelembagaan, teknologi, sumber daya manusia, dan pengalaman. Tantangan berikutnya adalah membuat seluruh unsur itu semakin terukur, terintegrasi, dan mampu belajar dari setiap kejadian.

Kota yang tangguh bukan kota yang tidak pernah menghadapi keadaan darurat. Kota yang tangguh adalah kota yang mampu mengenali risiko, merespons dengan cepat, mengevaluasi setiap kejadian, lalu memperbaiki sistem sebelum masalah yang sama kembali datang.

Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.