Dari Upin & Ipin ke Panggung Musik, Teuku Riefky Bidik Pasar Kreatif Malaysia
Liputan6.com, Jakarta - Popularitas Upin & Ipin dan Papa Zola di Indonesia membuktikan bahwa karya kreatif bisa melintasi batas negara dan diterima oleh penonton dari berbagai kalangan. Kesuksesan animasi asal Malaysia tersebut juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama di sektor ekonomi kreatif, termasuk membawa lebih banyak musisi Tanah Air ke pasar negeri jiran.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya melihat kedekatan Indonesia dan Malaysia sebagai modal penting untuk memperluas jangkauan karya kreatif kedua negara. Nggak cuma animasi dan film, peluang kolaborasi juga terbuka lebar di industri musik, konser, hingga pertunjukan langsung.
Hal tersebut disampaikan Teuku Riefky saat menerima Menteri Komunikasi Malaysia, Datuk Ahmad Fahmi Bin Mohamed Fadzil, di sela-sela kegiatan bilateral 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Pertemuan ini menjadi salah satu momentum untuk membahas peluang kerja sama yang bisa dimanfaatkan langsung oleh para pelaku industri kreatif.
Kesuksesan Upin & Ipin Jadi Inspirasi Kolaborasi Indonesia-Malaysia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380917/original/096607600_1792744372-WhatsApp_Image_2026-10-23_at_3.23.07_PM__1_.jpeg)
Perbesar
Bagi Teuku Riefky, keberhasilan animasi Malaysia di Indonesia menjadi bukti bahwa karya kreatif punya potensi besar untuk menjangkau pasar internasional. Upin & Ipin, yang mulai tayang di Indonesia pada 2008, hingga karakter Papa Zola dari serial BoboiBoy telah menjadi bagian dari tontonan yang akrab bagi masyarakat Indonesia.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa karya dari satu negara bisa diterima dengan baik oleh masyarakat negara lain. Kedekatan budaya dan selera penonton pun dapat menjadi modal untuk memperluas kerja sama di sektor kreatif.
“Kita melihat karya-karya kreatif dari kedua negara kita sudah melintasi batas negara. Upin & Ipin serta Papa Zola, sukses di pasar Indonesia dan digemari oleh anak-anak kita,” kata Teuku Riefky.
Ia berharap hubungan tersebut nggak berhenti pada kesuksesan karya animasi saja. Peluang serupa perlu dikembangkan agar film, musik, dan berbagai produk kreatif Indonesia juga bisa menjangkau lebih banyak penikmat di Malaysia.
>Malaysia sendiri telah mengembangkan industri kreatif melalui MyCreative Ventures dan Perbadanan Kemajuan Filem Nasional Malaysia (FINAS). Inisiatif tersebut menjadi salah satu contoh pengembangan ekosistem kreatif yang dapat menjadi bahan pertukaran pengalaman bagi kedua negara.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6