Dari Jakarta ke Kalbar, Semangat Generasi Muda Bantu Korban Karhutla |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Kepedulian terhadap sesama tidak harus menunggu seseorang memiliki kedudukan tinggi atau sumber daya besar. Semangat inilah yang terus dibawa Gamma A. Thohir, Pendiri Desabumi, yang telah memulai keterlibatannya dalam gerakan sosial sejak usia 15 tahun. Baginya, membantu sesama merupakan nilai yang perlu ditanamkan sejak muda dan diwujudkan melalui tindakan nyata.
Semangat tersebut kembali diwujudkan melalui aksi kemanusiaan yang dipimpin Desabumi bersama Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia dan teman-teman volunteer, dengan menghimpun bantuan senilai Rp100 jutabagi masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
Pada Jumat, 9 Oktober 2026, seremoni pelepasan relawan diselenggarakan secara hybrid, menghubungkan para peserta di Jakarta dengan relawan, mahasiswa, petugas pemadam kebakaran, serta masyarakat terdampak di Kalimantan Barat melalui Zoom.
Suasana hangat dan akrab terasa sepanjang kegiatan. Meskipun terpisah jarak, percakapan berlangsung secara langsung dan dua arah. Gamma menyapa para relawan, menanyakan kesiapan perjalanan mereka, serta mendengarkan pengalaman petugas pemadam kebakaran dan masyarakat yang menghadapi dampak karhutla. Dari percakapan tersebut, terpancar semangat kebersamaan dan tekad seluruh pihak untuk memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Dalam dialog bersama petugas pemadam kebakaran, terungkap bahwa salah satu tantangan terbesar penanganan karhutla adalah karakteristik kebakaran di lahan gambut. Titik api sulit diprediksi karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan muncul kembali di lokasi berbeda. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan tinggi, terutama selama musim kemarau, termasuk melalui kegiatan patroli rutin untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
Sementara itu, Astika Dwi Wulandari, mahasiswa Universitas Tanjungpura yang turut terdampak, menceritakan bagaimana asap karhutla mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Menurutnya, paparan asap tidak hanya menjadi persoalan ketika berada di luar rumah, tetapi juga sulit dihindari meskipun masyarakat berada di dalam ruangan. Ia turut mengapresiasi kebijakan Universitas Tanjungpura yang menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi mahasiswa dalam situasi tersebut.
Mendengarkan pengalaman tersebut, Gamma mengingatkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan yang masyarakatnya saling terhubung dan membutuhkan satu sama lain. Ia mengibaratkan kehidupan berbangsa seperti tubuh manusia, di mana setiap bagian memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membantu ketika salah satunya mengalami kesulitan.
"Saya selalu melihat kehidupan kita seperti tubuh manusia. Ada tangan, kaki, mata, dan berbagai organ yang memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membantu. Ketika kaki terluka, tangan secara spontan membantu, mata melihat lukanya, dan pikiran mencari jalan keluar. Begitu juga kita sebagai bangsa Indonesia. Ketika saudara-saudara kita di Kalimantan Barat mengalami kesulitan, kita yang berada di Jakarta ataupun daerah lain harus ikut peduli. Kita ini satu keluarga besar, satu bangsa," ujar Gamma A. Thohir.
Pengalaman Gamma dalam kegiatan sosial sejak usia muda turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya menumbuhkan kepedulian sebagai bagian dari karakter generasi penerus. Menurutnya, pendidikan dan keberhasilan pribadi perlu berjalan beriringan dengan keinginan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Generasi muda tidak cukup hanya pintar, berpendidikan tinggi, atau berhasil dalam pekerjaannya. Mereka juga harus punya hati, kepedulian, dan kemauan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat dari apa yang dicapai untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Kalau kita punya kesempatan untuk membantu, jangan pernah ragu-ragu. Kalau kita bisa membantu, ya kita bantu. Sesederhana itu," tambah Gamma.
Sebagai tindak lanjut kegiatan tersebut, pendistribusian bantuan dijadwalkan berlangsung pada 10–13 Oktober 2026, melibatkan relawan dari Desabumi dan Komunitas SRE Tanjungpura. Bantuan akan disalurkan menuju Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, serta Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Perjalanan dari Pontianak menuju lokasi penyaluran bukanlah perjalanan yang mudah. Para relawan bersiap menempuh perjalanan sekitar 16 jam melalui jalur darat dan laut, menghadapi tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, serta kebutuhan koordinasi logistik. Namun, berbagai tantangan tersebut tidak menyurutkan semangat generasi muda yang terlibat untuk memastikan bantuan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.