Chelsea atau Liverpool, Siapa yang Lebih Membutuhkan Lamine Camara?
Liputan6.com, Jakarta - Lamine Camara menjadi salah satu nama yang berpotensi kembali ramai pada bursa transfer Januari. Gelandang AS Monaco tersebut sempat hampir bergabung dengan Chelsea pada hari terakhir bursa musim panas sebelum kesepakatan batal pada tahap akhir.
Performa Camara bersama Monaco dan Timnas Senegal membuat pemain berusia 22 tahun itu masuk dalam radar sejumlah klub besar Eropa. Chelsea diperkirakan kembali mengejarnya, sementara Liverpool juga muncul sebagai kandidat setelah menghadapi persoalan di lini tengah.
Kedua klub memiliki alasan kuat untuk merekrut Camara. Namun, kebutuhan mereka tidak sepenuhnya sama karena Chelsea membutuhkan tambahan tenaga, sedangkan Liverpool mencari sosok yang dapat memberikan keseimbangan lebih baik di depan lini pertahanan.
Chelsea Kekurangan Opsi di Tengah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342051/original/037219400_1788747176-xabi.jpg)
Perbesar
Chelsea kehilangan Enzo Fernandez pada musim panas dan kini hanya memiliki empat gelandang senior yang bisa menjadi pilihan utama. Moises Caicedo merupakan pemain penting dalam struktur permainan, tetapi masalah kebugaran yang sempat dialaminya memperlihatkan ketergantungan klub terhadap dirinya.
Romeo Lavia juga belum bisa menjadi solusi yang sepenuhnya dapat diandalkan karena riwayat cederanya. Sementara itu, Jordan Henderson yang sudah berusia 36 tahun dan Valentin Barco masih memiliki keterbatasan dari sisi pengalaman.
Reece James dan Malo Gusto bahkan sempat digunakan di lini tengah. Namun, keduanya tetap dibutuhkan untuk posisi bek dan harus menyesuaikan diri dengan perubahan formasi yang diterapkan Xabi Alonso.
Camara dapat memberikan tambahan energi sekaligus kemampuan bertahan. Ia juga memiliki kualitas distribusi dan kemampuan menghadapi tekanan yang membuatnya tidak hanya berguna sebagai pelapis Caicedo, tetapi juga berpotensi menjadi partner sang gelandang Ekuador.
Liverpool Mencari Gelandang Bertahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307679/original/054989400_1785056803-Liverpool_FC_head_coach_Andoni_Iraola__right__speaks_to_defender_Konstantinos_Tsimikas.jpg)
Perbesar
Persoalan Liverpool berada pada kebutuhan yang lebih spesifik. Kepergian Curtis Jones membuat Andoni Iraola hanya memiliki empat pilihan senior di lini tengah untuk menghadapi jadwal kompetisi yang padat.
Wataru Endo lebih banyak dipandang sebagai opsi darurat. Dominik Szoboszlai, Alexis Mac Allister, dan Ryan Gravenberch menjadi pilihan utama bersama Trey Nyoni yang masih berkembang.
Masalah terbesar Liverpool adalah tidak adanya gelandang bertahan murni. Gravenberch memang pernah dimainkan sebagai nomor enam, tetapi karakter permainannya belum sepenuhnya memberikan perlindungan optimal bagi lini belakang.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
Mac Allister lebih nyaman sebagai gelandang nomor delapan, sedangkan Szoboszlai memiliki kualitas yang lebih menonjol ketika bermain lebih maju. Camara dapat mengisi celah tersebut dengan kemampuan bertahan dan energi yang konsisten.