Cerita Warga Bandung Pesan 3 Ojol Antar Pulang karena Takut Begal
Jakarta, CNN Indonesia --
Warga Bandung, Jawa Barat (Jabar) dan sekitarnya selama beberapa waktu terakhir dipenuhi waswas terhadap fenomena begal.
Momok begal itu membuat warga berhati-hati bahkan dilanda takut saat melintas di jalanan Kota Kembang, terutama malam hari. Salah satunya adalah Claudia (21) yang berdomisili di area sekitar Jalan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.
Claudia mengaku rasa khawatir atas maraknya aksi begal membuatnya sampai memesan tiga pengemudi ojek online (ojol) untuk mengawal pulang menggunakan sepeda motor pada Senin (20/7) dini hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Claudia baru ikut acara nonton bareng final Piala Dunia 2026 di kawasan Gudang Selatan, Kecamatan Sumur Bandung, bersama teman-temannya. Dia mengaku pulang duluan, karena pada Senin paginya dia harus bekerja.
Sebagai jaga-jaga agar aman pulang lebih dulu, dia pun memesan tiga ojol ke tempat kediamannya. Ojol-ojol itu dipesan untuk menemaninya di perjalanan menuju rumah.
"Itu karena kebetulan lagi nobar juga, karena memang udah banyak begal juga kan di Bandung. Terus karena malam itu lagi nobar yang di mana-mana pada lagi fokus nobar sampai jam 4 kan, sedangkan saya ada kerjaan juga gitu besoknya," ujar Claudia, Selasa (21/7), dikutip dari detikJabar.
"Jadi saya nggak bisa stay sampai jam 4. Tadinya pengen bareng sama teman-teman. Jadi ya mau enggak mau gitu ya pesan ojek gitu buat mengawalnya," lanjutnya.
Claudia sengaja memesan tiga driver agar tidak ada satu pun pengemudi yang harus menghadapi risiko sendirian.
"Iya soalnya kalau misalkan pesan satu kan saya enggak mau menumbalin ojolnya juga kan. Makanya pesan tiga gitu supaya saling aman lah gitu," katanya.
Menurutnya para driver ojol itu justru sudah paham akan tindakannya. Salah seorang pengemudi bahkan langsung menanyakan lokasi yang dianggap rawan dan berinisiatif menghubungi jaringan komunitas pengemudi lainnya.
"Responsnya malah bikin kaget, ada yang bilang gini katanya, 'Kenapa emang Mbak?' katanya gitu. 'Iya ini takut begal gini-gini.' Terus respons Gojeknya malah, 'Oh daerah mana lagi?' katanya, 'Ini biar saya hubungin Prabu,' katanya gitu," ungkap Claudia.
Serupa Claudia, Adinda Religia (25) juga mengaku waswas begal. Beberapa waktu lalu, dia pun meminta pengawalan pihak kepolisian demi pulang dengan selamat dari tempat kerja di kawasan Jalan Rajawali, Kota Bandung, ke rumahnya di wilayah Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung.
"Itu hari Senin, pulang dari arah Rajawali ke Kopo, di daerah Sayati. Awalnya tahu berita red zone di daerah Soekarno Hatta dan Flyover Kopo, ada yang story-in, pulang jam 10 malam, kerja di salah satu perusahaan," kata Adinda, Rabu (22/7) dikutip dari detikJabar.
Oleh karena itu, Adinda menghubungi pusat telepon kepolisian (call center) 110 untuk meminta polisi mengawal dirinya dan kawan-kawan yang akan pulang ke arah Kopo pada larut malam itu.
"Hubungi Polisi 110. Neleponlah, karena lumayan takut, terus coba telepon dan diangkat, lalu ngejelasin ini red zone, saya lewat Soeta, saya minta anter buat pulang kerja dari arah Rajawali ke Kopo bisa enggak? Kata polisinya, 'boleh'. Nelpon pukul 21.48 WIB, datang pas pukul 22.34 WIB," ungkapnya.
"Saya iring-iringan tiga motor, polisinya beberapa orang di mobil. Dua cewe, satu cowok, semuanya ke arah Kopo," tambahnya.
Pengalaman yang dialami Adinda dibenarkan Kapolsek Andir AKP Triyono Raharja. Pihaknya saat itu mendapatkan informasi permohonan pengawalan warga dari layanan 110 pada Senin malam awal pekan ini.
"Ya mungkin karena merasa takut jadi menghubungi layanan 110. Nah, dari 110 itu kami diinformasikan akhirnya petugas piket Polsek Andir meluncur ke lokasi dipimpin Pawas Polsek Andir sama anggota ke lokasi yang kebetulan berada di wilayah hukum Polsek Andir dekat Rumah Sakit Rajawali," kata Triyono kepada awak media.
"Ya mungkin yang bersangkutan takut pulang karena sudah malam apalagi di media sosial ramai soal tindak kejahatan jalanan, akhirnya meminta bantuan ke pihak kepolisian untuk diantar. Kami sebagai bentuk pelayanan ke masyarakat, tentu senang bisa mengawal sampai rumah tetehnya," imbuhnya.
Triyono mengimbau, jika ada keluhan terkait masalah kamtibmas, warga Kota Bandung jangan ragu untuk segera menghubungi layanan 110.
Pernyataan Polrestabes Bandung
Sementara itu, beredar pula di kalangan warga Bandung mengenai peta kerawanan begal dengan indikator warna. Merespons hal tersebut, Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Dedi Supriyadi menegaskan bahwa peta itu adalah hoaks, serta bukan rilisan resmi kepolisian.
"Kemudian terkait dengan berita-berita di media sosial bahwasanya ada daerah rawan, daerah merah, daerah hijau, dan daerah kuning, itu tidak benar. Untuk peta yang tersebar yang membagi habis wilayah Kota Bandung ini menjadi kategorinya merah kemudian kuning ataupun hijau, saya katakan itu bukan dari institusi kepolisian," kata Dedi di Mapolrestabes Bandung, Selasa (21/7) dikutip dari detikJabar.
Dedi pun mengimbau warga agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu kejahatan jalanan yang viral di media sosial. Ia memastikan pihak kepolisian telah mengantisipasi hal tersebut dengan patroli rutin di jam-jam rawan.
"Kami imbau kepada masyarakat Kota Bandung tidak perlu resah, tidak perlu lagi merasa-rasa cemas khususnya untuk warga Bandung itu sendiri maupun warga yang akan berlibur ke Kota Bandung," imbaunya.
"Setiap malam kita sudah menggelar patroli kegiatan rutin yang ditingkatkan dengan melibatkan polsek jajaran, kurang lebih 2/3 kekuatan kita turunkan dari sejumlah 2.600 personel secara bergantian," sambung Dedi.
Dedi tak menampik bahwa kejadian begal memang terjadi di Kota Bandung. Namun menurut Dedi, ada kejadian lakalantas dan pembunuhan yang juga dinarasikan sebagai kejadian begal di Kota Bandung oleh oknum masyarakat.
Pada hari tersebut, Mapolrestabes Bandung merilis 19 tersangka terkait kejahatan jalanan yang telah diamankan kepolisian.
Sebuah meja panjang di halaman kantor polisi itu memamerkan banyak senjata tajam, mulai dari pisau belati, samurai, palu, celurit, hingga kapak. Tak hanya itu, ada juga sekitar 11 sepeda motor yang merupakan barang bukti kejahatan diparkir di halaman ini.
"Selama periode 1 sampai dengan hari ini tanggal 21 Juli, Polrestabes Bandung dan jajaran telah berhasil mengungkap 15 kejahatan jalanan, yang pertama 8 kasus pencurian kendaraan bermotor, kemudian selanjutnya 6 kasus pencurian dengan kekerasan, dan dari ke-15 kasus tersebut, kita telah berhasil mengamankan 19 orang pelaku dengan berbagai jenis senjata tajam yang bisa rekan-rekan lihat, kemudian 11 unit kendaraan bermotor," kata Dedi dikutip dari detikJabar.
"Polrestabes Bandung berkomitmen untuk menjaga situasi kamtibmas di Kota Bandung ini tetap kondusif. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir, masyarakat tidak perlu cemas, karena setiap saat kita selalu hadir di tengah-tengah masyarakat," imbuhnya.
(tim/kid)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNN]